“Ikhlas”


Tak perlu kucari makna kata itu di kamus,
Atau bertanya pada marah kemarau :
Kenapa rumput harus meranggas meriak mati?
Kenapa sungai tak mengalir lalu meruak keruh?
dan
Kenapa aku mesti menjadi sendiri
merundung sepi terpaku di sini….?!

Tak pula perlu kutanya makna kata itu pada para pujangga,
Atau bertanya pada bening malam :
Kenapa rembulan menyepi?
Kenapa bintang mengatup diri?

dan

kenapa aku lagi-lagi menuai muram
lalu berdiri mematung ke sini….?!

Di bentang sayup seruling kekasihku berbisik :

; Nantikanlah lahirnya sang esok…!
kan kau seduh sebuah jawaban setelah
Cahaya Mentari Pagi menorehkan hijau
ke wajah dedaunan

(PiS, 29.04.12, “Cahaya dan Seruling Bambu”)

Advertisements

Rekuim 2


Sayup detakku di Jantung malam
Membisiki bulan yg cemas sendirian
Nada rinduku hening di tirai angin
menemani gulita tanpa gemintang

Ingin kurebahkan jiwaku di antara jurang gema
Inginnya kuteriakkan namamu menantang alunan kodrat

Sudahlah hatiku..!
Lelapkan mimpimu di pangkuan beku aksara
Biarkan jua mataku terkatup angan abadiku
Dan masih kusempatkan menorehkan nafasku
dalam sepotong doa tanpa berjudul

(PiS, 31.01.12, “Nyanyian Malam”)

Aku adalah…(I)

Aku (Senja Kelabu)
Aku
adalah lelaki yang sering duduk
duduk di batu-batu besar
batu yang sering kali ingin kuukir
tapi aku tak punya pahat dari baja tajam
yang kupunya hanyalah kapur dari belulang rapuhku

Aku,
adalah laki-laki yang berdiri
berdiri terlena di keremangan  senja yang kelabu
keremangan yang sering kali ingin kulukis
tapi aku tak punya warna cerah dan kuas hias
yang kupunya hanya jemari waktu yang tirus dan gemeretak

Aku,
adalah laki-laki yang senyap
senyap di haribaan malam
malam yang sering kali ingin ku gelegar
tapi aku tak memiliki genderang atau sangkakala
Yang kupunya hanya bisikan dari  rasa diamku

Aku,
adalah bagian dirimu  yang tertinggal,
tertinggal di haribaan bumi perih
bumi perih yang menjadi-jadi dan mengalirkan air mataku
tapi aku tak punya himne atau aubade
yang kupunya hanya ulu hatiku yang lirih merintih-rintih

.

PiS 31 Juli 2011
In English : I am…(1)

12 pm “Malam Ini”

Malam ini,
biarlah gelap ini larut
ke dalam petikan gitarku,
meskipun tak ada dan takkan pernah ada lagi
secangkir kopi atau teh buatanmu
seperti yang kadang kau tawarkan
kala kau terjaga dan
merasa sendiri di kamarmu

11 Juni 2011 “PiS”

Para Sahabat

Gedung DPR

Gedung DPR

Satu persatu para sahabat
dengan cepat menghadap pada-Nya
Lebih cepat dari daun kuning yang berguguran
pada kemarau yang masih muda.

Angin sepoi membisikkannya padaku
Mereka bersahaja,

ketika melepas kemilau nafas terakhirnya
menghayati, mensyukuri sakit
dengan hati suci yang tulus ikhlas

sama sepertimu
mata mereka terbuka lebar
melepas mentari terbit
dan
mentari terbenam
dalam bola mata itu
terurai silhuet jemari Ilahi
yang kokoh tapi lembut
menyambut di Sana
Tempat istimewa telah tersedia


Tempat yang bukan untuk kami
jauh dari langkah kami

yang menyimpan banyak topeng diantara gemerlap kota,
suara hingar-bingar, gedung-gedung angkuh
acuhnya lampu temaram kota
dan tiang-tiang raksasa yang dingin
membekukan setiap nurani…

(Tentang Para sahabat dan Gedung DPR, Mei 2011)

In English : Best friends

Pernak-pernik Lainnya :

 

.

Olenka, Si Matahari Pagi
Olenka, Si Matahari Senja
Olenka, Untuk Tiga Tahun
Senja, Kenangan Dan Aku


Puisi Lainnya :

Mentari Pagi 8

Mentari Pagi 8

Ya, mereka akan selalu tertawa
dan mengoceh seolah ini lelucon usang

tapi apa mesti aku perduli

Sedang seribu kata menghujani benakku

Akan kulepas  itu bagai rinai gerimis pagi

di semua tempat yang bisa kutemukan
di mana aku bisa melepaskannya sepuas hatiku
mereka tak terhingga jumlahnya
tentangmu,  kebaikanmu

Di sini ada mentari

tempat satu-satunya aku mengadu
sebab kutahu sejak 1997
di situlah kita meletakkan jejak
agar satu dari kita bila kehilangan kelak
ada tempat
melepas air mata panjang
dan
kerinduan tak tertahan
 
 

In English : The Morning sun (8)
(2011)

Mentari Pagi 7

Mentari Pagi 7

Mentari Pagi 7

Di angin-angin yang berhembus terasa betul
cintamu bertaburan
aku mengumpulkannya kata perkata

Di sinar mentari pagi yang menerobos dedaunan
terasa betul cintamu berkilauan
aku mengumpulkannya titik demi titik

Mentari menari
di antara angin dan kicau yang semakin sunyi
kata-kata terpukau merindukan hadirmu
tak mampu mengungkap makna titik kemilaumu
ianya tersurat hanya sekedar tersurat
tak ada artinya
hanya sekedar melewati garis waktu demi waktu
yang terasa kian hari kian panjang dan tajam…

(2011)

Mentari Pagi 6


Kutulis buatmu dari jiwa yang terbuka,
mengungkap kata tak terucap,
menyingkap nada tak tersuarakan,
menggambarkan ke indahan jiwamu yang telah bertahun-tahun
tercuil olehku.
Dalam ada dan ketiadaan,
dalam suka dan duka,
dalam tangis dan tawa,
dalam hening dan galau,
dalam kebencian atau cinta yang tak terbendung
kaulah mentari pagiku

Kutuliskan semua dalam diari batinku sebelum air jiwa menggenang ke mana-mana
Kusadari ternyata cuma ini yang kubisa. Maafkan aku…

(editan puisi lama dari blog lainnya)

Mentari Pagi 5

Mentari Pagi 5

Mentari Pagi 5

Sinar yang ramah itu adalah kau
menyapaku dengan hormat dan bersahaja
menemaniku pada langkah-langkah pendekku
agar aku tidak merasa sendirian

Sinar yang ceria itu adalah kau
berlompatan dari dahan kedahan

menelusup di antara dedaunan hijau
menemani detik-detikku
yang penuh dengan kerinduan

Sinar yang sayu itu adalah kau
meneduhkan hatiku dari kegalauan
menghampiriku  berangkat meniti waktu
yang terasa lamban mengalir dari hari ke hari

Sinar yang kucari itu adalah kau
berpendar di antara ranting

embun memantulkannya dengan lembut
tapi tajam menelusup ke dalam jiwaku

Sinar yang hangat itu adalah kau
membasuh hatiku yang beku oleh kesepian yang dingin
aku menyanyikanmu di jalanan hari ini
agar aku lupa bahwa tadi malam
aku hanya bermimpi bertemu denganmu

In English : The Morning Sun (5)

Mentari Pagi 4

Mentari Pagi 4

Mentari Pagi 4

Sayap-sayap burung pagi
mengepakkan angin semilir ke rambutku
ada kata-kata terbersit di situ
mungkinkah itu bisikmu?
apakah kau ingin mengatakan sesuatu tentang arah?

Jalanan lurus panjang, dingin dan kaku,
itu yang mesti kulalui
Kurasa jalan ini berujung di sana
di mata sayu di kaki langit

(Mei 2011)

Senja Kelabu (5)

Senja Kelabu

Senja Kelabu

Mungkin ini kali terakhir aku duduk di sini,
begitu selalu bisikku
telah kucoba mencegah hatiku untuk kembali
tapi jauh di dalam dia menghiba
memelas agar langkahku berhembus ke sini

Kadang kupikir aku terlalu memanjakannya
membiarkan jiwa ragaku membatu di sini
tapi kupahami

ia merasa aromamu lekat dengan langit merah
ia dahaga akan ronamu di ufuk sana
ia lemah tanpa silhuet kenangan itu
meskipun juga akan melemah dengan silhuet baru

Jadi!
kembalilah daun kuning ini
ia menggugurkan hari-harinya di senja kelabu

Menanglah hasrat atas logika dan kebenaran
Pasrah

Kusalahkan hatiku yang selalu menyebut rindu
rindu
dan
rindu
sebagai senjatanya


Sudahlah!
sementara ini
Biarlah dulu ragaku dan jiwaku terlena oleh bayangmu

lagipula
di sini ada sedikit cahaya

(2011 PiS)

Senja Kelabu (4)

Senja Kelabu

Senja Kelabu

Masih saja kucari kata
Untuk melukiskan kerinduan dan kekosonganku
kutahu ini akan sia-sia
tapi tanganku menjadi pisau tanpa menulis
Maafkan aku
jika ini akan mengganggu mimpimu
dan
mengusik keabadian tidurmu
di sisi-Nya

(2011 PiS)

Senja Kelabu (3)

Senja Kelabu 3

Senja Kelabu 3

Dulu…
saat senja mengelabu
itulah keindahan tak terperi
bagiku dan bagimu
Saat aku tak punya sesuatu untuk ditukar
atau untuk membeli hiburan murah sekalipun

Jadi, kita selalu menghampirinya

Di rembang petang itu
kerap
kulihat kau bergelimang senyum
meski hanya ada bilah-bilah puisi
dan lelucon asalan
Alun-alun Utara selalu bersemu merah karnamu
meski jagung bakarpun kau tak butuh
ku tahu kau kan selalu memaknai pertemuan itu
sedalam samudera hatimu

Hari ini,
Kukatupkan mataku di bilik senja
angin dingin berputar mengelilingi rona keheningan
mereka berbisik :
tak ada alasan aku ada di sini

atau di alun-alun Utara itu
atau di manapun

menikmati bulan penuh berseri
itu hanya alasan belaka

kubiarkan jarum detik mengalir di rerumputan hitam
menusuk-nusuk hatiku
kubiarkan “senja kelabu” menghantam jiwaku

karena
kerinduan ini
tak terbayarkan oleh apapun
oleh tangis sekalipun…!

“Mei 2011,  menangkap 1998”

Tulisan Lainnya :
Mentari Pagi 7

Senja Kelabu (2)

Senja Kelabu 2

Senja Kelabu 2

Kucari pelangi
yang dulu kutabur di sini

kucari pelangi
kala bulan purnama menantang redupnya lampu-lampu jalanan

kucari pelangi
Saat senja kelabu di ambang batas
kutarik nafas dalam-dalam dengan sekali hela
kurasa aromamu bertebaran
dengan aneka warna
itulah pelangi itu

(PiS 2011)

Senja Kelabu (1)

Senja Kelabu

Senja Kelabu

Ada waktu yang tersisa
sebelum malam mencengkram
ada keindahan langit memerah
yang hanya 15 menit ke depan
kunikmati dalam-dalam
agar kau di sini
Seperti dulu-dulu

Saat mentari hampir tenggelam
Langit mengurai warna yang selalu kita puja
ketika kuning kemerahan mulai kalah
Senja lantas menghamparkan kelabu
Lalu kerinduan menelikungku dengan kejam
melemparkanku ke ruang keletihan yang dalam
selalu saja tanya itu berkumandang
“ke mana aku harus pergi?”

“PiS 2011”

Previous Older Entries

Top Rated