Daun Hijau Menggapai Awan Putih dan Langit Biru

Daun hijau menggapai awan putih dan langit biru

Jari-jemari itu, hijau, menggapai kubah biru berselimut putih. Ia ingin sekali bersalaman dengan titik redup yang tinggi jauh di atas sana, yang menyimpan semangat dan sari kehidupan dalam siklus yang selalu bergantian. Tidak seperti hujan dan kemarau, ia akan tetap selalu hadir kedalam musim apapun, meski kadang suram oleh asap buatan manusia atau oleh kabut ciptaan Tuhan. Sesekali ia bersembunyi tapi tetap mempersembahkan energi agar kehidupan senantiasa tetap berjalan pada titian waktu sebagai jembatan karunia.

Saat kutatap tinggi-tinggi, aku mendengar bisikan suara hatiku dengan seksama, “Kekasihku, apakah kau di Sana?” Tentu saja itu ungkapan rindu yang datang dengan tidak kusadari.

“Kenapa mesti  mengelak?” demikian kata perasaanku.

Dan saat pikiran-pikiran logika datang bahwa “bekerja lebih baik daripada menimang masa lalu yang tak bermanfaat”, datang dan tersiratlah kata di antara hati dan pikiran : “Inilah seni, inilah kehidupan, kau boleh memilih menikmati gemerlap bintang-bintang malam dan purnamanya dengan suka cita atau dengan perih hati. Kau bisa menikmati kelabu senja dengan senyum atau sejumlah kerut menguasai keningmu. Kau bisa memilih menjadikan rasa rindumu menjadi tikaman atau menjadi balutan lembut di ulu hatimu. Jadi kenapa mesti kau tepis, kalau puncak rasa rindumu bisa kau jadikan sebagai simbol bahwa ada Kekuasaan yang maha tinggi yang bisa menyatukan dan memisahkanmu dengan orang yang kau sayangi atau dengan siapapun. Dan kaupun telah melihat, bahwa rasa rindumu dalam tatanan indah telah membuat ia hadir di antara langit biru, awan putih sebagai matahari yang redup bercahaya namun tersirat binar terang dalam jiwanya yang akan membantu menerangi jalanmu, menolong tangan-tangan hijaumu saat menggapai indahnya redup mentari di langit biru berawan putih. Suat saat, kau akan memetik buahnya!”

“Ya, akan kupilih kata diantara hati dan pikiranku!”

Dari kumpulan catatan “Di Bawah Daun-daun Hijau”

Daun hijau menggapai awan putih dan langit biru
Daun hijau menggapai awan putih dan langit biru
Advertisements

Daun Hijau dan mari makan mie

Tak banyak kegembiraan yang bisa kami dapatkan dibanding apa yang didapatkan oleh orang-orang kota di metropolitan sana. Tapi yang sedikit itu kadang sudah lebih daripada cukup daripada tidak ada sama sekali.

Tak ada listrik, tak ada mesin cuci, tak ada televisi, tak ada playstation atau barang-barang sejenisnya. Di kota barang-barang itu sudah termasuk kategori barang biasa. Tapi jangan tanya di sini, benda-benda itu kadang sering mampir hanya dalam mimpi saja.

Tapi hari ini kawan, mie yang kami masak dengan kayu bakar dan kuali hitam, ternyata mampu mengundang canda gurau dan tawa. Sementara itu, biarlah dulu anak-anak itu serius menikmati mienya.

“Nyam…. nyam… nyam…”, kata anak-anak
“Huah… ha… ha… ha…”, kata kami, demi melihat tingkah aneh mereka saat salah seorang dari kami diam-diam menggelitik kuping anak-anak itu dengan daun sawit hijau dari belakang pintu.

Menangkap Daun Hijau di Dalam Jurang (1)

Daun hijau dalam jurang

Menangkap sebuah gambar dari alam yang indah sesuai dengan keinginan hati agar kekaguman yang menyelimuti diriku bisa kubagi tanpa harus berkata-kata tidaklah sulit bagi seorang fotografer yang profesional, tapi bagiku hal itu seperti melawan arus sungai dengan tujuan cepat-cepat menggapai hulu.

Meski demikian, aku tak mau membungkam keinginan berbagiku walau jelas tak menemui makna sempurna. Jadi kucoba meng-klik beberapa bagian dari pemandangan ini dengan sedikit harapan agar teman-teman yang terlanjur masuk kehalaman ini merasakan gemuruh kagum yang tersirat di seluruh nadiku atas kebesaran dan kemahakuasaan pencipta.

Memang sungguh sayang, kini aku tak lagi memiliki kamera semipro-ku. Tapi segala yang kudapat, meski kecil, taklah membuatku menggerutu hingga melemparkan nilai diri atau merendahkan nilai diri hingga jatuh kepada keserakahan dan ketidak sabaran. Kupikir aku masih bisa mencoba berbagi kekaguman yang menyelimuti hati dan pikiranku ini walau dengan mengabadikan foto daerah ini memakai kamera pocket dan kamera handphone. Dan engkau yang berjiwa seni, mungkin bisa mengimajinasikannya melalui hal-hal serupa yang pernah kau lihat, menutupkan kedua bola mata dan membayangkan seperti apa yang kulihat ini.

Sobat! Ngarai ini menurutku tidak kalah indahnya dengan ngarai atau jurang yang ada di Kaliurang, tempat aku biasa menumpahkan rasa rindu dan membungkam rasa sepi saat masih tinggal di Yogyakarta. Tidak ada wisatawan yang mau datang kesini, terkecuali orang-orang luar yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan orang-orang yang tinggal di sini.

Bisa kukatakan kondisi tanaman di sini mirip dengan kondisi tanaman yang di Kaliurang, hanya ada sedikit pohon hijau, yang rimbun adalah rumput-rumput liar, sejenis gulma atau pakis berdaun hijau.

Dan bila kekaguman itu ada pada dirimu, seperti yang ada pada diriku, kurasa saat itulah perasaan  kita berjalan menuju titik yang sama. Keagungan Sang Pencipta.

Dari kumpulan Catatan Harian “PiS”

Daun hijau dalam jurang
Daun hijau dalam jurang

Daun Hijau dan lembah
Daun Hijau dan lembah

Daun Hijau dan ngarai (2)
Daun Hijau dan ngarai (2)

Bulan di Atas Daun-daun Hijau

Daun Hijau dan Malam (1)

Hari ini rasanya malam terlalu cepat datang. Ia mengejar terang secepat  elang mengejar ayam. Senja ditelannya bulat-bulat dalam  hitungan waktu yang tak kami sadari. Gelap!!! Tapi kami masih di ladang sawit menyelesaikan kerja panen dari buah yang seolah ada dan selalu ada.  Tapi mengeluh bukanlah hal yang patut pada bagian letih yang ini. Karena letih yang ini adalah refleksi dari rejeki yang harusnya disyukuri. Harus di syukuri meski tulang serasa putus pada belikat, meski keringat bagai tiris hujan meninggalkan kulit, dan meski tanah-tanah landai  naik-turun menyerap tenaga seperti terik  menguapkan air. Hmmm… sudahlah…! Inilah bagian dari doa yang dikabulkan.

Dan lihat…! Masih ada beberapa ton tandan buah sawit yang harus kami antar ke  RAM. Brondolan sawit juga masih banyak berserangkan, kontras dalam warna oranye-nya di antara helai-helai rumput hijau. Tak lelap oleh hitam malam. Tetap spesifik menampakkan dirinya bahwa meski kecil ia ada bersama yang lainnya. Brondolan oranye itu harus kami kumpulkan meski  badan rasanya telah mencapai keletihan yang sempurna.

Dan “Hai… hai…  hai…, lihat!” bulan memberi semangat, mengirimkan cahaya di antara daun-daun sawit hijau yang tampak kelihatan hitam karena malam. Cahayanya cukup terang untuk menembus pelepah-pelepah. Sinar yang ternyata  cukup tajam untuk menggodam semangat kami. Mengirimkan sinyal spirit dan memantulkan suatu kekuatan agar tangan tetap berayun dan agar kaki tetap berlangkah. Ayo…!

Daun hijau dan malam (2)

Daun Hijau dan Malam (4)

Dari kumpulan catatan Harian : “Bulan di Atas Daun-daun Hijau”

isi test tampilkan gbr

yuuy tggy

Top Rated