Keladi Tikus, Kanker dan Harapan

Darah kami terkesiap mendengar apa yang di katakan oleh dokter laboratorium. Tak ada kata yang terucap, kecuali  bayangan tentang perjuangan panjang, terjal dan curam yang bakal menghadang semua langkah  dan  hari kami. Ingatan kami kembali ke 2006. Oh Tuhan, kenapa harus terjadi lagi? Tak ada yang harus dilakukan kecuali berjuang. Ketemulah si “Keladi Tikus” yang menjadi sebersit cahaya.

KELADI TIKUS  atau bahasa asingnya Typhonium Flagelliforme atau  Rodent Tuber, adalah tanaman yang banyak dibicarakan oleh keluarga atau orang yang mengidap penyakit kanker. Begitu juga kami, ditengah kegalauan kami yang menghadapi kanker, tanaman ini pernah menjadi sebersit harapan. Titik cahaya itu yang menjadikan semangat kami membara untuk tidak putus asa dalam memerangi penyakit kanker yang dewasa ini semakin merajalela. Aku mencari dan membaca banyak artikel tentangnya di internet, koran, perpustakaan dan bahkan  membeli setiap buku atau majalah yang membahas tentang kanker terutama yang ada artikel tentang si Keladi Tikus itu.  Ada beberapa buku kesehatan yang sudah mendunia, isinya membahas tentang keampuhan si Rodent Tuber ini, utamanya yang dikarang oleh Prof. Dr. Chris K.H. Teo, dari Universitas Sains Malaysia. Maka jatuh cintalah aku pada si Keladi Tikus dengan harapan istriku bisa sembuh.

Ternyata perjuangan mencari keladi tikus di akhir 2009 itu tidaklah mulus. Butuh waktu cukup lama hingga kami bisa menemukan tanaman ini. Kami pergi ke gunung, bukit-bukit, sawah-sawah, pelataran, menanyakan pada kios-kios tanaman hias dan  ke semua orang yang kami kenal – di mana kami bisa mendapatkan “Keladi Tikus” itu secepatnya.

Bukan Tanaman Keladi Tikus – Mirip Keladi Tikus

Ketika pemilik kios di sebuah tempat penjualan tanaman hias di jalan Bantul, meyakinkan kami bahwa tanamannya adalah sejenis obat kanker yang disebut orang sebagai keladi tikus, maka meski harusnya berhemat dengan uang, tapi kami putuskan untuk memesannya dalam jumlah banyak lalu keesokan harinya memborong tanaman yang mirip dengan keladi tikus itu.   Istriku meramunya, mengekstraknya seperti dengan cara yang kami baca di internet. Setelah meminumnya, dia mual-mual dan kami menghentikannya. Belakangan kami tahu, ternyata tanaman itu hanyalah tanaman hias biasa.

Jadi kami lanjutkan perburuan kami, dari info di internet dan telpon sana-sini, kami temukan sebuah alamat di jalan Kaliurang yang menjual jamu yang sudah di ramu yang bahannya adalah dari tanaman keladi tikus, toko itu adalah toko herbal. Maka kami putuskan untuk membeli ramuan yang sudah jadi tersebut lalu mengkonsumsinya. Kami juga membeli tanaman hidupnya yang masih dalam pot. Satu pot yang masih kecil ketika itu harganya Rp 16.000. Terlalu mahal untuk ukuran kami saat itu. Apalagi untuk sekali konsumsi dibutuhkan 3 pot. Maka berbekal tanaman aslinya kami mulai lagi pencaharian kami itu kemanapun pikiran kami membawa mimpi kami itu. Ketika perjuangan kami akhirnya mempertemukan kami dengan si keladi tikus, kami mengumpulkan dalam jumlah yang cukup. Kami menemukannya di sebuah tanah kosong yang rindang di bawah pohon yang cukup lembab dan penuh dengan rerumputan di jalan Kaliurang. Alangkah girang hati kami saat itu. Hari yang tak akan pernah terlupakan.

Setiba di rumah kucoba mencuil sebesar cubitan dan menggigitnya. Alhasil mulutku seperti dikerubuti ribuan ekor semut rangrang. Gatalnya tidak hilang-hilang hingga beberapa jam. Aku sudah berkumur puluhan kali, dan minum madu, tapi rasa gatal itu tidak kunjung hilang. Awal aku menggigit cuilan keladi tikus itu,  aku berfikir telah keracunan dan harus masuk rumah sakit. Tapi kutahan saja, sambil tiduran, hingga akhirnya rasa getir dan gatal itu hilang. Dan kuputuskan supaya istriku tidak mengkonsumsi ekstrak keladi tikus itu sebelum kami cari tahu kebenaran yang sesungguhnya.

Kami menemukan cara dan kami coba agar mulai di konsumsi. Setelah beberapa kali mengkonsumsi dalam bentuk jadi, demi penghematan, kami membawa tanaman yang kami temukan dan menanyakan di toko Herbal jalan Kaliurang mengenai kebenaran apakah tanaman yang kami temukan itu adalah betul tanaman keladi tikus yang juga dipakai mereka sebagai salah satu bahan untuk jamu mereka. Dengan ramah mereka menjawab bahwa memang itulah jenis tanaman keladi tikus yang bisa digunakan sebagai bahan untuk obat kanker.

Setelah kami merasa aman dan yakin, kami meraciknya. Kali ini tantangan berbeda. Kalau tadinya tantangannya adalah kesulitan mencari tanaman keladi tikus, belakangan kesulitannya adalah cara mengkonsumsinya. Mengkonsumsi ektrak keladi tikus tidaklah semudah yang kami bayangkan. Berbagai cara kami lakukan agar rasa gatalnya hilang. Mulai dengan mencampur madu, adas dsb. Selama beberapa minggu saya sangat prihatin demi melihat bagaimana istri saya cukup tersiksa ketika  mengkonsumsi ekstrak keladi tikus itu. Katanya kerongkongannya sangat gatal, bahkan terakhir suaranya serak dan hilang.

Saya pun menyadari dan sudah tak sanggup lagi melihatnya menderita demi mengkonsumsi umbi, batang dan bunga si keladi tikus. Mungkin cara kami mengkonsumsinya salah, entahlah, tapi kami sudah mencoba berbagai cara. Oleh karena saya sendiri pernah menggigit cuilan buahnya itu dan tahu bagaimana menyiksanya si tanaman itu, saya putuskan lebih baik membeli pil yang merupakan hasil ekstrak dari keladi tikus juga. Ada banyak merek yang saya temukan. Saya mencari yang terbaik mempelajari situs-situs penjual obat tersebut dan mempelajari testimoni. Saya putuskan membeli obat seperti yang diiklankan di  situs  http://www.cancerhelps.com. Nama obatnya “Typhonium Plus”. Lewat saudara, saya memesannya dari Jakarta.

Typhonium Plus

Bakal Bunga Keladi Tikus

Bakal Bunga Keladi Tikus

Di samping banyak obat-obat dan herbal lain, istri saya sudah mengkonsumsi obat herbal ini dalam jumlah puluhan kotak, tapi mungkin Tuhan berkehendak lain. Saya tidak menyalahkan obatnya, cukup menyalahkan diri sendiri, karena memang keterlambatan saya dalam menjalankan pengobatan rumah sakit, selain itu kanker istri saya saat mengkonsumsi obat tersebut sudah bermetasis ke mana-mana, menurut dokter bahkan sudah merusak ginjal. Meskipun begitu, tanaman itu pernah menjadi harapan ditengah gersangnya kehidupan  kami ketika dilanda ketidak mampuan dari berbagai sisi. Saat itu tanaman keladi tikus menjadi alternatif ketika kami tidak memiliki banyak dana untuk berobat. Dia menyemangati kami.

Sampai saat ini tanaman itu masih saya tanam di pot-pot bunga. Semenjak istri saya berpulang, saya kurang merawat tanaman tersebut. Banyak juga rekan-rekan yang memintanya, ada teman-teman yang mengatakan tamanan itu cukup berkhasiat, ada yang bilang tidak.  Kalau itu memang bisa menjadi harapan dan anda kesulitan mencari dan mengidentifikasinya, di pot-pot di halaman saya masih ada berserakan, mungkin bisa sebagai sampel agar anda tidak keliru ketika akan mengkonsumsinya. Teman-teman yang butuh sampel,  bisa mengambilnya cuma-cuma, tapi tolong bawa pot dan tanah sendiri, karena saya tetap ingin menanamnya sekedar untuk kenangan dan agar orang yang berminat tidak perlu ke hutan hanya sekedar mencari sampel, dengan harapan kelak bisa lebih gampang mengidentifikasinya dan mencarinya sendiri.

(PiS)
www.maryati.net

3 Comments (+add yours?)

  1. wijaya
    Dec 28, 2012 @ 10:03:45

    rencana Tuhan lebih indah dari apa yang kita minta…..

    Like

    Reply

  2. wijaya
    Dec 28, 2012 @ 10:05:54

    rencana Tuhan lebih indah dari apa yang kita minta….. walaupun air mataku menetes saat aku megucapnya dalam hati dan menuliskan nya di sini…..

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated