Laki-Laki Atau Perempuan? (2)

 “Laki-laki atau perempuan?” Itulah pertanyaan yang pertama kali diajukan pada seorang ayah ketika seorang ibu baru saja melahirkan. Semua teman-teman dan sanak-saudara mengajukan hal itu sebagai yang perdana, jadi bukanlah tentang kesehatan ibunya. Pertanyaan kedua yang menyusul barulah tentang kondisi kesehatan sang ibu.

Dan seorang ayah akan dengan sangat gembira, berbinar-binar, ceria jika anak yang dilahirkan tersebut adalah seorang anak laki-laki. Tentu saja tetap akan bahagia jika anak yang lahir adalah seorang perempuan, namun dalam kadar yang berbeda, dan besarnya perbandingan itu hanya dia dan Tuhan yang tahu. Dalam kapasitas kadar ini, jangan kau tanya pendapatku yang “sebenarnya” ketika anakku yang baru lahir ternyata adalah seorang anak perempuan. Ibunya akan sangat marah, semua anak perempuan yang terdengar akan hal ini pun akan bersatu padu mengutukiku dan menjadi sangat kecewa terhadap jawabanku itu. Pada awalnya tentunya, sebelum akhirnya aku akan bersusah-payah membuat alasan-alasan pembenar yang kurangkai sedemikian rupa demi menenangkan hati semua orang yang sempat akan menggebuki para kaumku yang turut mengacungkan jempol atas kejujuranku itu.

Dan inilah pengalamanku, bahwa meski seorang ayah selalu bilang laki-laki atau perempuan sama saja, tapi beberapa atau boleh dikatakan banyak diantaranya yang tidak akan bisa menyembunyikan sekelumit rasa kecewanya dari mataku. Jangan salahkan aku bila dia akan lebih gembira ketika anak itu lahir sebagai laki-laki. Bahwa anak bayi laki-laki adalah impian kaum ayah benarlah adanya, bahkan sering terjadi untuk anak yang kedua dan ketiga sekalipun. Dan aku sendiri, dulu sangat berharap bahwa anakku yang baru lahir adalah seorang anak laki-laki. Ketika yang lahir itu ternyata bukan bayi dengan jenis kelamin yang kuidam-idamkan, aku tetap gembira dan bersyukur, dengan sedikit usaha memendam impianku tentunya, karena kekecewaan itu toh sempat terlintas walau cuma beberapa saat. Gembiraku tidak full seperti beberapa temanku yang bahkan hingga berjingkrak-jingkrak kegirangan dan rela beberapa gelas atau piring hiasnya pecah di lantai demi membayar kegembiraannya itu.

Untuk hari-hari selanjutnya, sebulan atau beberapa bulan, apalagi beberapa tahun setelah kelahirannya, amat baguslah kalau kau bertanya perasaanku yang sebenarnya tentang kelahiran seorang bayi perempuan. Karena jawabanku pada saat itu akan membuat semua anak perempuan di penjuru dunia akan iri pada bayi mungil perempuan milikku itu. Rasanya 24 jam sehari terlalu sedikit bagi kami berdua, belum lagi jatah waktu harus dibagi buat ibunya, saudara, teman atau dunia internet yang terlalu banyak menyita waktuku. Dan kau akan butuh kalkulator khusus agar bisa menghitung jumlah puisi plus foto dan video yang terikut lahir dan kusimpan di komputerku, terlahir karena kelucuan dan kegemasan akan gerak-geriknya.

Bahwa dialah anak satu-satunya dari ibunya yang kucintai sudah tidak bisa lagi dipungkiri dan itu sudah kekal oleh-Nya. Saat ini terlalu sulit untuk memahami kejadian kenapa ada alur cerita yang membuatnya sampai dia bisa tinggal jauh, bahkan berbeda pulau denganku. Kata orang itu semua tergantung atas pilihanku.Tapi terlalu sulit pula, atau bahkan mungkin berlebihan bila harus kukatakan bahwa itu juga sebagian dari keinginan atau kemauan ibunya yang berlawanan dengan semua keinginan orang. Tapi kutahu perempuan bijaksana itu benar, memahami isi sudut hatiku dan karakter isi kepalaku. Jadi dia bilang, “Bla…bla…bla…bla…bla…., sabarlah sebentar dan hanya kau yang tahu kapan waktunya, lalu jemputlah.”

 Untuk hari-hari terakhir ini, anakku itu, hanya dialah tumpuan kasih sayangku. Tumpuan rasa gelisah  dan rasa resahku. Membuatku semangat atau melemah. Ia membuat kerinduanku bertumpuk dan bertumpuk hari demi hari. Namun karena itu pula maka makna sebuah sms yang datang darinya sudah setara dengan sebuah kegembiraan seorang ayah atas kelahiran seorang bayi laki-laki. Semoga Tuhan menunjukkan jalan yang lebih lapang bagi pekerjaanku dan menunjuk suatu tempat bagi kami agar bisa mengikatkan dan meraut kembali saling berbagi kasih sayang tanpa sebuah jarak lagi di antara kami berdua.

 Anakku, saat ini aku sangat merindukanmu, akan tetapi seorang laki-laki, apalagi yang telah dewasa tak baik menangis karena akan menimbulkan pertanyaan, “Laki-laki atau perempuan?”

 PiS Maret 2011, Catatan Harian “KOMA”

In English : Boy or Girl?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated