KOPI Dan ROTI yang sebenarnya :

Kusentak mimpiku menyambangi ritmis pagi
menyadarkan renungku tentang bintang yang suram
selayaknya aku tak ingin menjejas pada pencarian
yang takkan mungkin kembali

‘pabila kau nanti ke sini dalam secangkir kopi
kuyakin hitam jejak akan larut oleh rintik embun

‘pabila sepotong roti
terhidang ke langkah jiwaku
kuyakin putih hatimu menghias relung perjalananku

Tapi lihatlah aku membatu
Terdiam oleh bisu pengharapan yang mengerucut
karena kusadari, tanpamu! :
“Takkan pernah ada secangkir kopi dan sepotong roti yang sebenarnya itu…”
(PiS, 4 Maret 2012, “KOPI dan Roti 1”)

Like · · Share

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated