Lingkaran Musim

Lingkaran kehidupanku selalu menyingkap kekuatan dan kelemahanku seperti pergantian musim demi musim. Dan aku percaya bahwa setiap musim menyimpan kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri (PiS, Agustus 2012, Green Forest Riau)

Advertisements

“Pecel Kembang Turi 3” (Masih, … …)

(Masih, senyum dan tawa itu masih)
Revisi Catatan 2010 pada Minggu, 20 Mei 2012 di Kaliurang.

Kenangan Pecel Kembang Nasi Turi bersama senyum dan tawamu

Hanya hening yang berkuasa
Kata-kata senyap kehabisan makna
Cerita lucu mengalir kehilangan arah
Tak ada yang mampu
membendung rasa perih di tubuhmu
kecuali keikhlasan hatimu sendiri
segala rayuku hanya penghibur sejenak
pupus oleh risau yang leluasa menggerogoti
lalu menyemaikan duka ke dalam jiwa
mengatupkan lorong harapan ke dalam hampa
Melihatmu…,
sungguh serasa sembilu menyembelih dada
mengirisnya tipis ke lautan waktu yang amat miris

Kau yang meminta ke sini
barangkali demi cinta yg dulu kita toreh
yang pernah berkilau di bawah pohon cemara
di antara daun dan kepak kupu-kupu
Di sini kasih itu memuai ke dalam rentang ulir zaman
Manis di antara tatapan kasihmu yang syahdu
Angin cemburu mengusik rambut di keningmu
mencoba membungkam petikan dawai gitarku
Aku tak perduli,
kubiarkan nada bertebar mengawal anak-anak berlarian
senar-senar bergetar menyerap senyummu ke dalam batin
di sini tak ada belenggu yang mengganggu
karena ketulusan tak mengunci pintu iman
hingga jeruji tak bermakna atas rasa kasihmu dan rasa kasihku
Namun rasa sakitmu lebih kerap memenangkan waktu
menyekap teriak, yang tersekat di rongga kerongkonganku
melihat sayu matamu serasa hatiku di kepras

Di sini masa lalu mungkin berbunga
tapi harumnya tak semerbak pada bintik pengharapan
pada derak dahan kayu rapuh yang tertiup angin,
kubungkam mimpiku, kubungkam teriakku
tentang sehat yang tak tak mampu kubeli
Ah…, sesekali kulirik kau, sambil menghujat kalimat doktermu

Saat tubuhmu masih di rasuk perih
Kita sempatkan membeli pecel Kembang Turi
mencoba menukar kenyataan dengan mimpi
Di tegarnya dahan cemara, angin sepoi saling berbisik
Tentang kembang Turi yang kau jadikan mainan pemikat hati
Senyummu rekah saat mempermainkan kembang-kembang itu
Kembang turi, menari di antara jemari, lidah, geligi dan bening binar matamu
mulutmu sempurna dalam komat-kamit lucunya
seraya mencoba menyembunyikan nyeri
yang selalu merepihkan sekujur tubuhmu
akhirnya tawa kita pecah sejenak
menghablurkan gumpalan galau
dan meruntuhkan rasa takutku yang menghujam
sambil kucoba melupakan detik-detik yang hanya akan sebentar ini

Kini…,
Saat aku kembali lagi ke sini
Sungguh, kau telah menanti
kau hadir lebih nyata, tak bias dalam bayangan
menari bersama kembang Turi di tanganmu
sambil mengurai senyum dan rinai tawamu
Telah kau bantu aku untuk tersenyum
meski bulir-bulir bening tetap berjatuhan

“Terimakasih sayang, sungguh kau kucinta selamanya…”

(PiS, Dari catatan harian “Pecel-Kembang Turi” di Kaliurang tahun 2010
dengan perubahan pada hari Minggu, 20 Mei 2012, “Masih, senyum dan tawa itu masih”)

Bulan (2)

Kau tahu kekasih hatiku, kenapa bulan malam ini lebih suka menyembunyikan ronanya ke balik lembaran awan dari pada bersikukuh menampilkan sisi keanggunannya?

 Kau selalu diam kekasihku,
jadi kutebak saja, mungkin karena ia tidak suka aku mencuri-curi pandang padanya sambil menaruh harapan pada lembar bentang gelap malam. Harapan bahwa aku di sini sendiri tanpamu tidaklah begitu menyakitkan. Dan dia merasa aku memandanginya hanya agar bisa menikmati cahayanya sebagai sekedar pengisi sebuah jeda mimpi sebelum lembaran hari esok mulai terbuka kembali ke alam nyata. Huh… kurasa dia merasa tersisih dan merasa  direndahkan.

Kau tahu kekasih hatiku, kenapa bulan malam ini lebih suka menyembunyikan ronanya ke balik lembaran awan dari pada bersikukuh menampilkan sisi keanggunannya?

 Karena kau masih saja diam kekasihku,
jadi kutebak saja sekali lagi, mungkin juga karena ia tidak suka aku mencuri-curi pandang padanya demi keinginanku yang terlalu berhasrat untuk menyalakan lilin-lilin masa lampau. Lilin-lilin yang selalu bersimbah tarian-tarian api kecil dari rasa rindu yang menggeliat-geliatkan cahaya kuningnya saat terpaan angin lembut datang menyapa. Angin itulah yang dulu selalu meluruhkan rambut ke keningmu, lalu membuat hatiku tersentuh untuk mengurainya dari alis matamu lalu mengatakan cinta walau hanya di dalam batin. Dan bulan itu tahu, aku memandanginya sendiri begini tak jauh dari makna mengelabui diriku sendiri, bahwa semua ini hanyalah tindakan sementara saat menunggu kau dari perjalanan senyapmu untuk kembali menemaniku berdiri di sini. Lalu seperti dulu-dulu, ketika kita telah bersama kembali, kita berdua akan melepas pandang jauh ke alam raya langit gulita sana sambil mempergunjingkan cahayanya yang bergelombang yang dipantulkannya ke kali kecil yang membelah tengah kota Jogja atau mempergunjingkan cahayanya yang bergelombang ketika terpantul di sebuah sungai hitam di Riau sana.

Kau tahu kekasihku, kenapa malam ini bulan lebih suka menyembunyikan ronanya ke balik awan ketimbang menyalakan semerbak binar cahaya indahnya ke dalam redup mataku  yang selalu kagum akan ketegaran teguh cahaya kesendirianannya?

Baiklah, karena kau masih saja membekukan diammu di ujung langit sana,
kucoba tebak untuk kali terakhir : mungkin karena ia merasa hina dianggap sebagai benda yang mengagumkan sementara kesepian lebih tegas mencengkramkan kuku-kuku tajam ke dalam jiwanya di banding ke dalam jiwaku.  Dia yang merasa begitu, sedang aku sebaliknya. Aku lebih yakin pada diriku tentang hal itu daripada redup cahayanya yang terselubung oleh awan kelabu di kubah langit kelam sana.

Hari ini aku tiba-tiba benci pada bulan itu…
Dia menghempas rinduku ke rumput biru dengan tiba-tiba dia menepis seluruh awan-awan kelabu yang menyaput dirinya sambil bersuara lantang menantang bola mataku : “Terbanglah padaku, kekasihmu sedang membentang rindu di dalam cahaya gemerlapku…!”

; Bumi benderang, tapi hatiku senyap!
(PiS, 01.05.12 “Melukis Langit Malam”)
Sumber : www.maryati.net

Pagi Itu di Gazeboo

Pagi itu cintamu kau percikkan di ubun-ubunnya
mengalir dalam tunduk haru,
gemulai merembes ke dalam hati
Jiwanya terkesima oleh rasa sayang yang membuai
kekal meski kini dalam kenangan

Pagi itu mataku tak henti menampung cahaya
yang membahana dari lima jemarimu yang semakin tirus
menyiratkan pendar kasih yang utuh dan ikhlas
yang kami namai karunia

Kini dari hatiku bergolak kemilau rindu
Memecah aorta tembus ke ubun-ubun

(PiS, Pagi itu di Gazeboo)

Kebebasan Sang Walet

Burung walet yang beterbangan,
di lantai 5 gedung bedah sentral terpadu
adalah kebebasan sempurna.
Mereka mengepakkan sayapnya mencoba menghiburmu
membawamu ke awan putih bersih

Air matamu yang jatuh berlinangan
di bantal rumah sakit adalah kebebasan sempurna
ia menguap menjadi awan putih bersih
menuju samudera lepas yang maha luas

Sesaat engkau mencoba duduk
Lalu kita di sini, berdua terkungkung oleh kaca tipis ini.

3 November 2011

In English : Freedo Of The Swallow

Protected: Belum Terkatakan

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Olenka, Untuk Tiga Tahun

Matahari Pagi
Tadinya aku tidak ingin memanggil nama itu, bahkan membisikkannya sekalipun. Karena ia telah ada jauh di seberang mengepakkan sayapnya. Ia telah mulai menyemai padi kehidupan,  sedangkan aku baru menabur benih di sawah yang baru kugarap. Namun, tadinya kukira kegembiraannya utuh, sampai naluriku berbisik. Di ufuk, saat langit memerah, kulihat hening di matanya, redup dan menusuk ulu hati. Jadi aku datang menghiba agar engkau mempertimbangkan tentang waktu yang pernah kita perjanjikan.  Kutakutkan butiran bening Olenka itu kembali mengalir.  Lama aku menunggu, tak kunjung jua ada isyarat darimu. Maka kubawa perca hatiku ke jembatan layang.

Lalu!  Sekilas, terbayang lagi waktu engkau berangkat ke Jakarta dan berkata akan menginap beberapa hari di sana. Telah kumohonkan dengan sungguh-sungguh padamu untuk tidak berangkat hari itu karena aku ingin menghabiskan liburan di sampingmu dalam redup matahari terbenam di Tritis, sambil memandangi anak-anak kita itu berlarian. Sesungguhnya aku ingin selalu di sisimu, karena ada suatu gejolak yang selalu mencemaskanku. Hari ini aku berdiri dekat stasiun kereta api. Kau ada di sana, kurasa waktu hari ini adalah hitungan mundur ketika engkau akan berangkat dulu itu. Ketika kau hendak berpamitan, sesaat sebelum berpisah kau membisikkan dengan tegas “Cuma tiga hari, atau beberapa hari.” Mencoba melegakan hatiku.
Tapi hari ini dalam gerbong kehidupan ini, kau berbisik ,”tiga tahun lagi, atau kalau kau telah bijaksana!”  Lalu gerbong kereta api berangkat dan perlahan hilang di kejauhan. Kehilanganku yang dulu  tergambar jelas tapi tidak sebanding dengan kehilangan panjang hari ini. Itu hanyalah debu halus yang tertiup angin senja. Yang hari ini tak terlukiskan…

Jadi bergulirlah butiran bening Olenka itu perlahan dari sudut mataku. Rel  dingin tak mampu menahan diri, ia berkata, “Sadarlah, sampai kapanpun dia tidak akan menjadi siapa-siapa selain hanya sebagai ruang kecil di samudera hatimu atau sampai salah satu di antara kalian telah tiada“. Aku sesegukan.

(Nyanyian tiga tahun — “PiS – Juni 2011” )
From : www.Maryati.net

line twilight
Luka Lain :

line twilight

 

Tadi Pagi

Serasa kau masih disekitarku, sayang. Jadi aku ke dapur, barang kali engkau sedang sibuk mengiris bawang,  membuat jus wortel atau memasak. Tapi di sana hanya kutemui gelas, sendok, pisau dan piring kotor. Entahlah,  mungkin masih ada harapan, jadi kucoba membuka kamar-kamar belakang, berharap kau di sana sedang sibuk bersih-bersih dan butuh bantuanku. Lagi, hanya ada tumpukan buku, kertas-kertas usang,  koran bekas berserakan dan angin belaka.

Pagi tadi, tak ada bunyi gelas gemerincing, tak ada bunyi air keran, atau senandung kecil, yang ada hanya bisik sang sunyi menghimpit dada dan perasaan hampa tak terperikan. Kupikir kau lagi belanja, jadi aku ke beranda, kucoba duduk sementara menantikanmu. Alangkah lama datangmu.

Di ruang Website terlihat kosong, anak-anak belum datang. Di dindingnya ada fotomu dengan mbak Umi bersama Adnan Buyung dan entah siapa lagi itu teman-temanmu itu. Kalau kutatap seolah engkau bilang kau baru sibuk ikut perkumpulan, arisan atau apalah, kau akan pulang sebentar lagi.

Meja-meja dirungan itu terasa dingin, detak jarum jam terasa miris. Ada kartu namamu dan dadaku berdebar membacanya. Kertas-kertasmu masih bertebaran, dan coretan tanganmu, astaga…., hatiku ini….

Di taman belakangpun  sunyi, bunga-bunga sudah tidak terurus, kaupun tak ada situ. Dulu, pagi-pagi sekali, engkau sering kudapati di situ, kalau tidak menyiram bunga, kau sedang mencabuti rumput atau menanam biji Anthurium. Kau selalu bilang, “Ayo bang dibantu, siapa tahu besok bisa di jual.” Mana suaramu itu sayang…?

Kurasa aku hanya sedang bermimpi, sayang. Mar.., apakah kau ada di angin-angin seputarku? Apakah kau ada di langit-langit taman ini? Atau dimanakah kau sayang? Apakah kau betul-betul sudah di pembaringan yang kekal itu? Apakah kau di surga? Masih kau dengarkah kalau aku bernyanyi pagi-pagi untukmu? Lagu si Ebiet G. Ade itu sekarang sering kukumandangkan pada pagi, malam, bahkan dini hari, sambil berharap cemas bahwa kau masih bersedia meluangkan waktu mendengarkan, tersenyum dan menggamitku menyuruh tidur. Kau dengar tidak sayang lagu-lagu itu? Kau dengar nggak rintihan dawai gitarku itu?

Kurasa kau sedang membaca tulisanku ini, dan memelukku dari belakang tanpa kusadari.

Masih Ada beribu pertanyaan Mar, berbisiklah padaku sesekali. Jangan biarkan aku selalu menunggu, menunggu dan menunggu, setidaknya kirimkan bayanganmu sekedar menemani mimpi panjangku.

In English : This Morning

From : www.maryati.net 

—————————
24 Februari 2011
——————————

line twilight
Luka-Luka Hati Lainnya :

line twilight

Kemana Burung Layang-layang

Pukul 7 pagi :

Seperti hari biasa, hari ini aku berdiri di jendela, memandang menembus kaca, mencari keceriaan dan twistnya si burung layang-layang.

Tapi,  hari ini mereka tak ada terbangan dan hinggap di seputar dinding lantai 5 Gedung Bedah Sentral ini. Sarangnya kosong ditinggalkan. Lengang. Kenapa? Entahlah!

Dadaku disusupi sunyi, batinku sepi, situasiku mengalir malas, aku gelisah lalu  doa-doa tak lagi menenangkan.

Tapi sebentar kemudian Tuhan mengirimkan seekor pipit, dia terbang ke pohon pinang hanya beberapa meter di depanku. Terbangnya tak beraturan. Leher putihnya sangat menghibur, tapi itupun tak lama jua. Limabelas menit kemudian dia lari dan tak datang lagi.

Lalu kesepian dan kesunyianlah yang beterbangan di sekelilingku.

Sedang Kau Maryati,
sedari tadi lunglai tertidur,
lemah tanpa sayap.

In Memorial : Desember 2010, RS Sardjito.
Dari berkas-berkas yang berceceran.

Aliran Derita

Ketika orang-orang tak mau lagi mengotori hari  kebahagiaannya
dengan cerita sedihmu,
Ketika orang-orang cepat-cepat menutup handphonenya,
mendengar lirih rintihmu,
Ketika orang-orang sangat jarang mengunjungimu,
dan tak kuasa melihatmu,
Ketika semua orang menjadi semakin sibuk,
tak perlu kau mengatupkan mulut,
memicingkan mata,
berdiam diri menahan jarum-jarum yang bertubi menghancurkan sekujur tubuhmu,
meringislah,
menangislah,
menjeritlah,
Kubuka telingaku,
kuulurkan tanganku,
kan kuhentikan langkahku ke pintu terbuka,
‘ku kan selalu di sisimu.

.

Oh…, makhluk Tuhan yang kurus,
kecil,
keriput,
tanpa berat badan
Kaulah kesempurnaan selama 16 tahun ini.

.

Oh …Tuhan,
kenapa kau ciptakan makhluk dengan aorta dilewati sungai derita yang tak kunjung henti?
Oh… Tuhan
tak kaulihatkah keperihan itu mengucur menghujani bantal, sprei dan tirai batinku?

Oh…Tuhan butakanlah Mataku dan matikanlah perasaanku
Aku tak sanggup melihatnya begini

.

Oh…, makhluk Tuhan kecilku yang kucintai,
kukatakan padamu
Kuatlah sayang,
aku disisimu
Mari sini kuhapus air matamu!!!!!!

dst
.

.

.

.

Januari 2011

For Maryati

Top Rated