“Ikhlas”


Tak perlu kucari makna kata itu di kamus,
Atau bertanya pada marah kemarau :
Kenapa rumput harus meranggas meriak mati?
Kenapa sungai tak mengalir lalu meruak keruh?
dan
Kenapa aku mesti menjadi sendiri
merundung sepi terpaku di sini….?!

Tak pula perlu kutanya makna kata itu pada para pujangga,
Atau bertanya pada bening malam :
Kenapa rembulan menyepi?
Kenapa bintang mengatup diri?

dan

kenapa aku lagi-lagi menuai muram
lalu berdiri mematung ke sini….?!

Di bentang sayup seruling kekasihku berbisik :

; Nantikanlah lahirnya sang esok…!
kan kau seduh sebuah jawaban setelah
Cahaya Mentari Pagi menorehkan hijau
ke wajah dedaunan

(PiS, 29.04.12, “Cahaya dan Seruling Bambu”)

Advertisements

BUNGA KEMUNING

Puisi Bunga Kemuning

Puisi Bunga Kemuning

Bungaku,
takkan repih di gemuruh ombak
takkan ranggas di pisau kemarau,
takkan hanyut di lirih desau angin
takkan luruh terbuai dedaunan menguning
: Bungaku menebar wangi, kekal ke ruang jiwaku.

Bungaku,
merekahkan senyum di kemilau pagi
melepaskan buai ke relung senja
meniriskan cinta ke jantung malam
Selalu setia, melenakan jiwa
: Agar katup mataku susup dalam damai

Bungaku,
kuhela selalu kelopakmu
agar tak terinjak derap cinta buta yang hina,
kujaga mataku ke alur hidup yang kau semai
agar hatiku setia menjadi tangkaimu
: Maka kau mekar mengusap kalbu

Bungaku,
selalu ingin kurengkuh kau utuh
kedalam jemari kasih tak berbilang
impikan warna abadimu menghias tamanku
menjauhkanku dari sayatan sepi dan lara duka

Tuhanku….,
Telah Kau petik Kemuningku
lalu membiarkan akarnya tertinggal
mencengkramkan tangis abadi ke ulu hatiku

(PiS 23.04.12 “Taman Yang Sepi”)
Ditulis saat mendengarkan kembali lagu “KEMUNING Widyawati”,
Mencoba menjawab pertanyaan seorang teman di FB

Di 61.000 Km tanpamu

05:11 AM — “Di 61.000 KM tanpamu”
Masih akan kugelindingkan roda-rodaku mencuri jeda antara bangun dan tidurnya matahari, meski jalanku terasa masih buta menuju titik mimpi raksasa yang tidak dibutuhkan oleh hatiku. Sungguh menyesakkan dada ketika otakku sudah mulai bersiasat : “Bukankah ulat bahkan tidak bisa menebak akan jadi apa dia kelak setelah menjadi kepompong? Jadi apa yang kau takutkan? Di sana pasti keindahan itu terhampar.”
Hatiku berkata :”Keindahan itulah yang kutakutkan, karena keindahan adalah awal dari kepak sayap-sayap keangkuhan dan sayap-sayap kesombongan yang kelak akan memenjarakan kebebasan waktu!”
Hatiku dan otakku masih berdebat, tapi roda-rodaku tetap menggelinding… dst… dst… (PiS, 130412, Tambahan manuskrip “Perjalanan #3, Ulat yang rendah hati dan kupu-kupu yang mengepakkan keangkuhan”) with Maryati

“Ikan dan Burung”

3:40 AM. Untuk yang terkasih : Maryati
Kurasa aku seperti ikan kecil di dalam akuarium. Merasa bebas ke sana ke mari, merekahkan sirip-siripnya, lalu meluncur merdeka di antara koral-koral hias, batu, kerikil, dan pasir. Nyatanya hatiku taklah pernah bisa terbawa pergi lebih dari satu meter jauhnya dari tempat engkau menorehkan garis tulus di tugu perasaan itu.

Jadi, begitu kutahu kemerdekaanku hanyalah seukuran akuarium maka akupun mencari bentangan laut, meski ada kekhawatiran bahwa mungkin aku tidak akan pernah sampai ke pesisir pantai sekalipun. Tapi sepanjang aku mencari pemenuhan keinginanku itu, aku akan tetap menyenandungkan rasa syukur dibanding seekor burung dalam sangkar yang bahkan tidak akan pernah beranjak lebih dari dua kali bentangan sayapnya. Aku masih lebih beruntung dengan sirip kecilku dibanding dengan sepasang sayap yang kepaknya tidaklah terlalu memberikan manfaat.

Kau yang membacaku harus mengerti, bahwa aku tak berkeinginan membeli banyak akuarium bagi diriku sendiri seperti mengumpulkan kepingan-kepingan kemerdekaan, hanya agar aku merasa bahwa aku telah memiliki tempat berpindah-pindah untuk menghalau kerinduan atau tempat aku menebarkan butiran-butiran air mata atau kesepian-kesepian yang selalu menghujani malam-malam dingin atau mengiris-iris hingga ke lubuk hati. Hingga aku kelak menjadi bongkok dan tak berkuasa lagi selain hanya mampu bermimpi mendapatkan sayap yang lebih luas, lebih kokoh, lebih bebas merdeka dan lebih bijaksana.

(PiS, 09.04.12 Bahan manuskrip & blog : “Ikan dan Burung”)

Wajah (2)

Di wajahku, kuletakkan warna-warni membelakangi matahari
agar perbedaan di dunia tersimpan dengan rapat,
meski menyatu seolah menjadi hitam,
ianya jernih dan diam-diam mengumpulkan aneka damai ke dalam batin

Di wajahku, kuletakkan duka dan gembira menghadap matahari
agar semua jernih tanpa topeng yang membuai,
meski menyatu dalam garis kerut usia,
ianya jernih dan diam-diam mengumpulkan titik-titik bijaksana ke dalam nurani

Di wajahku, kau dan aku menjadi matahari
yang menerangi cinta dan kasih sayang agar melebur menjadi satu
meski kau telah mengatupkan matamu,
namun namamu bercahaya menyinari seluruh langkahku.

(PiS, 07.04.12 “Wajah Sesungguhnya”)

Wajah (1)

Inilah wajahku!
tempat warna dan rona bercengkerama
ada putih pulasan hatiku, yang bijak berlayar dalam derita
ada hitam yang mulai mengaliri serabut otak karena liur telusupan lidah iblis yang menelisik menghasut dentam dendam,
dan ada juga pohon abu-abu yang mengalir gemulai karena kehilangan akar cinta dan akar kasih sayang tulusnya

inilah wajahku!
di sini kau akan menemukan pagi tersentuh embun
dan merasakan mentari berkeriap ke pori-pori,
kau bisa menemukan siang dalam garang kemarau
atau bisa menemukan senja dalam bias oranye
Kau dapat menampah malam yang penuh oleh mata panah kesepian yang menikam
atau juga bisa menemukan silhuet hening ketika dini hari.

Inilah wajahku, tanpa topeng

Apakah kau takut…..?!!

(PiS 06 April’12 “Silhuet Wajah”)

KOPI Dan ROTI yang sebenarnya :

Kusentak mimpiku menyambangi ritmis pagi
menyadarkan renungku tentang bintang yang suram
selayaknya aku tak ingin menjejas pada pencarian
yang takkan mungkin kembali

‘pabila kau nanti ke sini dalam secangkir kopi
kuyakin hitam jejak akan larut oleh rintik embun

‘pabila sepotong roti
terhidang ke langkah jiwaku
kuyakin putih hatimu menghias relung perjalananku

Tapi lihatlah aku membatu
Terdiam oleh bisu pengharapan yang mengerucut
karena kusadari, tanpamu! :
“Takkan pernah ada secangkir kopi dan sepotong roti yang sebenarnya itu…”
(PiS, 4 Maret 2012, “KOPI dan Roti 1”)

Like · · Share

“Diam”

Gadis kecilku
Telah seminggu diamku merana
menelusuri jejak jawaban dari ranting ke ranting
dari dahan ke dahan
dan berhenti menjadi akar yang terkubur
karena pertanyaanmu menjadikan lidah kelu
dan terpenjara di rongga bibirku

Untuk rindumu yang gelisah
telah kuletakkan rinduku di depan pintu hatimu
bersama ribuan jemari yang tetap berat untuk mengetuk
dan bila belum terucapkan sepatah kata sebagai jawaban
biarlah waktu yang membukakan pintu bagi kita kelak…
6:20 AM.

(PiS, 030412, “Bersabarlah di sana” For anak terkasih)

Top Rated