Bukan Rekuim

Bukan Rekuim

————————-
Masih tertoreh cintamu
retas membelah jiwaku
kulabuh kenangmu
di antara jurang
gunung terjal
samudera sepi tak bertepi
pulau tak bernama
tapi perihku tak jua sirna
ku tangkup tangisku
yang masih tiris
dari lubuk hatiku

: Ah… rindu, kau kepras diriku..!!
PiS 29Okt2011

Sahabat-sahabatku adalah Padi Kehidupan

Sahabat-sahabat adalah padi kehidupan. Semakin banyak kita menyemai, akan semakin  banyak yang bisa kita tuai. Sahabat-sahabatku yang baik adalah padi yang bernas berisi. Mereka menunduk menyerahkan bulir-bulir padi bernas berisinya bagi kehidupan. Dan bagi sang pencipta. Aku ingin selalu menjadi padi yang bernas berisi itu. Merunduk bersama padi-padi lainnya tanpa memilih sawah di mana kami akan tertimpa panas matahari, kotor bersama lumpur yang menyedihkan tapi juga akan menguatkan. Tertiup angin kencang yang kelak akan menjadi kenangan tak terlupakan. Tergerus air hujan tapi kelak akan menjadi gizi pembentuk jiwa yang kokoh.

Sahabat-sahabatku yang baik adalah padi kehidupan yang bernas berisi, yang tunduk sujud pada Pencipta, tunduk rela pada sesama. Sahabat-sahabat yang baik, hidup tanpa memilih-milih sawah, bersama-sama menggantang terik mentari,  bersama-sama membenteng angin kencang, bersama-sama menantang hama kehidupan.

 Sahabat-sahabatku yang baik akan selalu datang dan pergi, dalam bentang rentang waktu kehidupan. Tapi kenangan akan selalu di tinggal di sawah batin menjadi bibit untuk selalu memperbaiki diri menyambut sahabat-sahabat baru kelak.

 PiS 25 Oktober 2011

Cita-citamu

Menuangkan cita-citamu agar menjadi nyata, Masih seperti membeli mimpi yang dibayar dengan cinta Bagaimanapun ketulusan dan doa yang terselip di sana Masih saja keletihanlah yang selalu menang dan berkuasa padaku (PiS 17102011)

Lima Perjalanan

Lima perjalanan dalam satu fotoLima perjalanan  dalam sebuah foto :

  1. Perjalanan matahari ke ufuk barat
  2. Perjalanan  sungai  menuju  laut
  3. Perjalanan sriti ke peristirahatan
  4. Perjalanan waktu pd keabadian
  5. Perjalananku kembali ke kotamu

(PiS 2011)

Kupu-kupu Kecilku (For Divana Putri)

Kupu-kupu kecilku
bunga putih dan merah telah memanggilmu
kepaklah sayapmu dan hinggaplah perlahan di kelopaknya
embun pagi akan menghapus dahagamu
dan cicit burung2 kecil akan menghiburmu

Kupu-kupu kecilku
Terbanglah lagi dari bunga ke bunga
bernyanyilah riang ke sana kemari
meski orang tak mendengarnya
tapi hatiku mengiringkan senandung doa
bersama petikan gitar buatmu
menjalinkan tali temali hati kita
meski hanya dari pulau seberang

PiS : “Buat Diva-ku tersayang”

Mimpi Milikmu

Mimpi milikmu

Kurasa aku terlalu letih hari ini, aku bahkan sudah lupa tentang apa yang telah kukerjakan atau fikirkan yang menjadi penyebabnya. Yang kutahu aku tertidur begitu saja, terlupa akan online-online website dan FB yang masih menyala setelah barusan selesai mengedit fotomu dan menilik FB-mu.

 Begitu mataku terkatup lena oleh keletihan, tiba-tiba saja kita sudah berada di atas bis travel menuju perjalanan yang aku tidak tahu tujuannya. Matamu berbinar cerah menutupi letihmu setelah melakukan banyak persiapan. Kau ceria seolah menuju tempat yang telah lama kau mimpikan dan baru kali ini bisa terpenuhi.

Entah di hotel mana ini, tapi jelas kulihat secara nyata bahwa kau teramat sibuk, melakukan berbagai hal seperti biasa, mirip ketika kita akan berangkat atau sedang berada di tempat-tempat yang kau sukai atau pura-pura kau sukai karena tidak ada tempat lain yang bisa kusediakan, selain tempat-tempat pariwisata yang sudah terbiasa kita kunjungi. Parangtritis di saat senja, Parangtritis di saat subuh, Kyai Langgeng, Kaliurang, Tawangmangu, dan sebagainya. Yah…, hanya seputar-seputar itulah yang aku mampu berikan padamu. Bahkan Bali yang selalu kau sebut-sebut, tinggallah sekedar mimpimu yang selalu kusesali karena tak terbeli atau karena aku malas menyisihkan waktu dan selalu beranggapan bahwa memandang matahari terbenam dan memandang matahari terbit di Parangtritis atau di dekat sawah-sawah Godean sudah lebih indah dari apapun asal kau ada di sisiku.

Sekali lagi, entah di hotel mana dan di negeri mana ini, yang jelas kita sibuk mengangkati koper-koper. Dan aku heran, sejak kapan gadis-gadis belia itu nimbrung bersama kita. Mereka berlarian, berteriak-teriak satu sama lain. Suara yang mereka keluarkan sungguh hingar-bingar, melebihi riuhnya petasan di bulan Ramadhan. Biarlah, kurasa kaupun sudah terbiasa dengan irama nada tinggi mereka yang melengking-lengking seperti itu. Gadis-gadis yang penuh dengan ceria, melebihi yang pernah kau punya.

Kulihat wajahmu letih, tapi kau begitu puas dan teramat senang menyaksikan semua keriuhan itu. Mungkin itulah ponakan-ponakanmu, aku kurang menyimak wajah-wajah mereka. Namun, demi melihatmu bergelimang dengan raut puas seperti itu, kurasakan tak ada lagi selain itu yang kuharapkan di dunia ini. Hei…, tapi di mana si kecil itu ya? Mungkinkah dia sudah tidur lebih dulu?

Sayangku, kini aku baru tahu, bahwa ternyata ada juga mimpi yang bisa hadir senyata ini, dalam suasana hotel yang teramat nyata dan situasi yang teramat nyata pula. Teramat nyata kau ada di sisiku, menyiapkan baju-bajuku, segelas kopi, ciuman kecil yang masih saja rikuh kita lakukan, selimut-selimut dan bantal untuk persiapan tidur dan selalu saja tentang hal yang satu itu, yang tak akan mampu kulupakan seumur hidupku, malam ini terulang lagi, “merapikan kerah bajuku” dan “menyibak kotoran potongan rambut atau ketombe di bahuku”, meski sering kudapati bahwa kadang benda-benda itu tidak sedang berada di situ. Setelah semua itu, kutahu kau akan istirahat, jadi seperti seorang punggawa, aku memerintah para gadis-gadis itu agar masuk ke kamar mereka untuk melewati malam yang telah larut. Dan seperti biasa mereka selalu langsung menurut.

Dari balik jendela kaca, kita melihat hotel-hotel lain tinggi menjulang, seolah ingin menerobos langit hitam yang tiada berbintang. Ribuan lampu-lampunya tetap temaram, tak mampu menghalau kubah gelap yang melingkupi alam semesta. Satu dua kendaraan dengan lampu sorotnya yang panjang melaju di jalanan senyap.

Kukatakan padamu bahwa ribuan keindahan lampu di sana tak akan tergantikan dua bening bola matamu. Dan kau tertawa dengan gombal yang kadang kulantunkan untuk sekedar menghiburmu. Di dipanmu, kau tidur-tiduran, sebentar-sebentar tersenyum sambil memegang dan menarik tanganku, tapi itu tak berlangsung lama karena kau lalu tertidur. Sungguh kau terlelap dengan wajah terbenam di dalam letihmu, tapi di sana tergores senyum dan rasa puas yang tak terlukiskan. Sungguh sungkan aku untuk menggugahmu karena aku masih ingin bercerita atau agar bisa sekedar menyelipkan bisikan selamat malamku di telingamu. Jadi kukatakan saja dalam hatiku kalimat itu berulangkali, dengan harapan kau mendengarkannya di dalam mimpimu.

Sayangku, seingatku kita berdua belum pernah tidur di hotel manapun. Aku tahu dulu itu keinginanmu yang selalu kau nyatakan dan selalu kuiyakan dengan janjiku yang tidak pernah kesampaian hingga akhir hayatmu. Tapi bukankah kau sudah sering tidur di berbagai hotel bersama kakakmu atau saudara yang lain? Jadi kurasa mimpiku tadi di sebuah hotel terasa aneh, tapi kutepiskan pertanyaan itu dalam hatiku, karena bagiku itu tidaklah penting selain bahwa kau tadi sempat hadir dan ada.  Yang menghawatirkanku adalah bahwa tadi itu adalah mimpi milikmu yang kau sampaikan lewat mimpiku.

Tapi tahukah kau, sewaktu aku terbangun, mataku mencarimu ke sekeliling dalam beberapa saat, untuk kemudian menyadari, bahwa kau tidaklah mungkin akan benar-benar berada di sisiku lagi, karena itu menangislah aku merenungi diriku sendiri. Alangkah tersayat-sayat hatiku ini, tak bisa kulukiskan perasaanku dengan mencari perbandingan apapun, bahwa tadi meski teramat nyata, namun ianya hanyalah sekedar mimpi belaka. Sungguh menyedihkan setelah semua itu berakhir, tapi kelak ia akan menjadi indah bagiku dan akan kekal dalam tulisan ini. Dan terakhir sayangku, aku tidak akan pernah kapok, aku masih berharap dan akan selalu berharap agar mimpi-mimpi yang seperti tadi itu terulang lagi. Terimakasih menemaniku malam ini. Dan kumohon, datanglah lagi di tidurku yang berikutnya.

“Your Dearest PiS or PiY, Terjaga pada 4 Oktober 2011”
Sumber : www.maryati.net

—————————————————————————————————-

KATA HATI :

Protected :

.

Top Rated