“Pecel Kembang Turi 3” (Masih, … …)

(Masih, senyum dan tawa itu masih)
Revisi Catatan 2010 pada Minggu, 20 Mei 2012 di Kaliurang.

Kenangan Pecel Kembang Nasi Turi bersama senyum dan tawamu

Hanya hening yang berkuasa
Kata-kata senyap kehabisan makna
Cerita lucu mengalir kehilangan arah
Tak ada yang mampu
membendung rasa perih di tubuhmu
kecuali keikhlasan hatimu sendiri
segala rayuku hanya penghibur sejenak
pupus oleh risau yang leluasa menggerogoti
lalu menyemaikan duka ke dalam jiwa
mengatupkan lorong harapan ke dalam hampa
Melihatmu…,
sungguh serasa sembilu menyembelih dada
mengirisnya tipis ke lautan waktu yang amat miris

Kau yang meminta ke sini
barangkali demi cinta yg dulu kita toreh
yang pernah berkilau di bawah pohon cemara
di antara daun dan kepak kupu-kupu
Di sini kasih itu memuai ke dalam rentang ulir zaman
Manis di antara tatapan kasihmu yang syahdu
Angin cemburu mengusik rambut di keningmu
mencoba membungkam petikan dawai gitarku
Aku tak perduli,
kubiarkan nada bertebar mengawal anak-anak berlarian
senar-senar bergetar menyerap senyummu ke dalam batin
di sini tak ada belenggu yang mengganggu
karena ketulusan tak mengunci pintu iman
hingga jeruji tak bermakna atas rasa kasihmu dan rasa kasihku
Namun rasa sakitmu lebih kerap memenangkan waktu
menyekap teriak, yang tersekat di rongga kerongkonganku
melihat sayu matamu serasa hatiku di kepras

Di sini masa lalu mungkin berbunga
tapi harumnya tak semerbak pada bintik pengharapan
pada derak dahan kayu rapuh yang tertiup angin,
kubungkam mimpiku, kubungkam teriakku
tentang sehat yang tak tak mampu kubeli
Ah…, sesekali kulirik kau, sambil menghujat kalimat doktermu

Saat tubuhmu masih di rasuk perih
Kita sempatkan membeli pecel Kembang Turi
mencoba menukar kenyataan dengan mimpi
Di tegarnya dahan cemara, angin sepoi saling berbisik
Tentang kembang Turi yang kau jadikan mainan pemikat hati
Senyummu rekah saat mempermainkan kembang-kembang itu
Kembang turi, menari di antara jemari, lidah, geligi dan bening binar matamu
mulutmu sempurna dalam komat-kamit lucunya
seraya mencoba menyembunyikan nyeri
yang selalu merepihkan sekujur tubuhmu
akhirnya tawa kita pecah sejenak
menghablurkan gumpalan galau
dan meruntuhkan rasa takutku yang menghujam
sambil kucoba melupakan detik-detik yang hanya akan sebentar ini

Kini…,
Saat aku kembali lagi ke sini
Sungguh, kau telah menanti
kau hadir lebih nyata, tak bias dalam bayangan
menari bersama kembang Turi di tanganmu
sambil mengurai senyum dan rinai tawamu
Telah kau bantu aku untuk tersenyum
meski bulir-bulir bening tetap berjatuhan

“Terimakasih sayang, sungguh kau kucinta selamanya…”

(PiS, Dari catatan harian “Pecel-Kembang Turi” di Kaliurang tahun 2010
dengan perubahan pada hari Minggu, 20 Mei 2012, “Masih, senyum dan tawa itu masih”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated