Gerbang, Belajar Menyapa Yang Bukan Di Dunia Maya (3)

line twilight

Mimpi, di antara “White SEO” dan “Black SEO” — bagian 1.

senja kelabu white Seo & Black Seo GoogleAku masih di Kawasan Cileduk. Jam menunjukkan pukul 2.00 dini hari ketika aku terjaga, teringat padamu, duduk dan memikirkan apa yang harus kulakukan pada jam segitu di rumah saudaraku ini. Kurasa aku melamun tanpa kusadari di depan TV yang diam membisu. Aku ketiduran di ruang keluarga dan seseorang telah mematikan TV-nya. Masih kupikirkan apa yang bisa kulakukan, di rumah ini tidak ada sepeda atau internet, buku Ajahn Brahm jilid 2 bahkan sudah dua kali kubaca, buku belajar SEO Google dan Trik SEO sudah sangat jenuh. TV? Aku sudah bosan, selalu hanya tentang si  koruptor Nurdin dan  Partai Demokrat dengan ribuan topengnya. Dan kau tahu sayangku, akan terdengar sangat bodoh bila aku mengatakan kepada satpam penjaga gerbang bahwa aku ingin lari pagi atau jalan pagi. Jadi Aku memikirkan cara menyapa, supaya satpam itu tidak perlu harus memikul dosa hanya karena memakiku dalam hatinya : “Jam 2.00 lari pagi?! mau nyonong kalik ya…?!”

 Di gerbang. Astaga, dia juga ketiduran. Ini artinya aku harus belajar menyapa yang bukan di dunia maya dengan obyek seorang penjaga yang sedang berada di dunia maya-nya. Aku berharap mudah-mudahan dia tidak mementung kepalaku karena membuatnya terjaga dan kaget. Maka dengan sehalus mungkin, bahkan nyaris seperti berbisik aku memanggilnya berkali-kali. Dia akhirnya terjaga, rautnya sedikit kesal, melirik, mulai menyelidiki sudut-sudut mukaku. Tampaknya  dia baru merangkai sebuah pertanyaan, andai saja dia mencarinya di Google atau Yahoo, tentu kami tidak terlalu lama kaku begini.  Dia mulai sadar dan mulai mengenaliku, lalu berusaha tersenyum meramahkan diri. Aku menyentak ransel di punggungku agar posisinya lebih baik, lalu kami berusaha membalas senyumnya dengan semanis-manisnya.

“Mau keluar lagi?” tanyanya ramah.

“Ya pak, mau ke warnet pak. “

“Oh….,” Jawabnya pendek.

 Hening. Tentu tak mungkin kujelaskan padanya bahwa aku ke warnet mau belajar “TRIK-TRIK SEO GOOGLE” atau mau membuat puisi buat kekasih hatiku.  Hal-hal semacam itu, buat sorang penjaga yang masih ngantuk bisa saja justru membuat pentungannya mendarat di kepalaku atau setidaknya malah membuat dosanya bertambah karena mengumpat dalam hati : “Halah, paling-paling kau mau cari video-video bokep, BF, atau foto gadis-gadis cantik yang bugil, peduli amat, aku mau tidur lagi..!!!! Andai pentungannya betul-betul mampir, tentu hilanglah semua “Trik-trik Seo” yang sudah kupelajari dari otakku, sekaligus sarana untuk bisa melupakanmu. Dan untunglah setelah jawaban “Oh….” yang keluar dari mulutnya itu, dia segera beranjak membukakan gerbang. Selesailah percakapan kami. Dengan terbukanya gerbang perumahan itu, kurasa belajar menyapaku yang bukan di dunia maya, telah berakhir dengan cukup baik.

 Satpam itu, aku yakin dia memperhatikan punggungku hingga aku menghilang di keremangan. Aku berusaha untuk tidak menoleh ke belakang, apalagi melambai. Takut justru dia curiga dan malah mengejarku. Aku juga berusaha untuk tidak memikirkan apa yang ada di dalam benaknya ketika aku menjauh dengan tas punggungku. Lebih baik pikiranku kuarahkan pada ide trik SEO dan SEO yang baik. Mudah-mudahan dia tidak melaporkanku ke polisi demi mengira tas ranselku berisi kepala seorang gadis yang akan kubuang di kali Ciliwung. Mudah-mudahan semua hanya berupa percikan pikiran-pikiran baik saja, sehingga tidak seorang pun berdosa saat itu hingga semua berjalan baik pula adanya.

 Gelap masih melingkupi kota, suasana masih senyap ketika aku tiba di dekat pasar,  ada satu dua kendaraan beroda dua mulai melintasi jalan-jalan berlubang di daerah Kreo itu. Sekali waktu di kejauhan sayup-sayup terdengar orang berteriak-teriak. Beberapa orang yang sedang menyiapkan dagangannya tidak terlalu memperdulikan akan teriakan itu.  Begitu juga orang di ruko-ruko lain, semua biasa, mereka seperti tak mendengar apa-apa. Semua berjalan hingga senyap kembali leluasa melingkupiku.

 Kulihat langit tak berbintang. Bulan pun tak menunjukkan raganya.  Tiang-tiang besi terlihat dingin-kaku. Lampu-lampu meredup seperti merindukan sesuatu, mereka berbaris hingga jauh, semakin mengecil hingga  hanya menjadi sebuah titik senyap. Kurasa ini hampir jam 3.00 pagi. Kunyalakan lagu “Before The Storm-nya Demis Russos.” Lagu itu mengalun membuai hatiku, melarutkan aku dalam kerinduan yang mendalam padamu. Kupercepat langkahku sekedar ingin melihat sekilas ronamu di FaceBook itu, lagipula aku ingin cepat-cepat melanjutkan artikelku tentang “SEO Google”. Di antara langkah-langkah panjangku masih kuingat kata-kata yang membuatku terjaga tadi malam. Nasehatmu padaku terus saja terngiang. Bukankah itu sudah selalu kucoba? Karena itulah kutulis lagi sequel :
“Gerbang, Belajar Menyapa Yang Bukan di Dunia Maya (3)”.

 .

Cileduk, PiS 28 Juli 2011 (Refisi dari catatan tanggal 26 Juli 2011)

From : http://www.maryati.net
In English : The Gate, Learning To Say Hello Not To Be in The World of Illusion
line twilight

Goresan Lainnya :

Protected :

.

PUISI :

line twilight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated