Setelah Hujan

Setiap kali setelah hujan,
selalu kutunggu pelangi

Alangkah lama……

(PiS 20.10.12 “Rainbow after the Rain”)

Luka-luka Laut ku

Puisi sajak Luka-luka laut ku

Satu-satu camar hilang
Laut mendiam menyimpan birunya
Suara kepak menghening di buih kabut
mengadu lengang menggantikan cahaya.
Karang-cadas sembunyi-sembunyi menggurat hati
memaparkan tanya menusuk ke ubun-ubun
: “Di mana rasa cinta itu berlabuh?“
”Di mana?!”

Ada geligi gemeretak
Menahan luka mengaliri jiwa
Ada mata terpejam,
membendung hujan jatuh ke pasir
Butir bening air itu akhirnya melipir terasa asam
Menyentak pipi ke dalam gemetar
: Segala waktu telah menjadi basi

Aku menyendiri,
menanti kelahiranmu
megah di antara langit dan ufuk
juga menanti ombak gelombang cahaya rambutmu,
berkilau ke samudera sanubariku
: Silhuet

Tapi di rongga jantung hingga seluruh nadiku
: laut luka ku
luka laut ku

(PiS 03.05.12 “Menyapa Bulan Mei”)

Wajah (2)

Di wajahku, kuletakkan warna-warni membelakangi matahari
agar perbedaan di dunia tersimpan dengan rapat,
meski menyatu seolah menjadi hitam,
ianya jernih dan diam-diam mengumpulkan aneka damai ke dalam batin

Di wajahku, kuletakkan duka dan gembira menghadap matahari
agar semua jernih tanpa topeng yang membuai,
meski menyatu dalam garis kerut usia,
ianya jernih dan diam-diam mengumpulkan titik-titik bijaksana ke dalam nurani

Di wajahku, kau dan aku menjadi matahari
yang menerangi cinta dan kasih sayang agar melebur menjadi satu
meski kau telah mengatupkan matamu,
namun namamu bercahaya menyinari seluruh langkahku.

(PiS, 07.04.12 “Wajah Sesungguhnya”)

Wajah (1)

Inilah wajahku!
tempat warna dan rona bercengkerama
ada putih pulasan hatiku, yang bijak berlayar dalam derita
ada hitam yang mulai mengaliri serabut otak karena liur telusupan lidah iblis yang menelisik menghasut dentam dendam,
dan ada juga pohon abu-abu yang mengalir gemulai karena kehilangan akar cinta dan akar kasih sayang tulusnya

inilah wajahku!
di sini kau akan menemukan pagi tersentuh embun
dan merasakan mentari berkeriap ke pori-pori,
kau bisa menemukan siang dalam garang kemarau
atau bisa menemukan senja dalam bias oranye
Kau dapat menampah malam yang penuh oleh mata panah kesepian yang menikam
atau juga bisa menemukan silhuet hening ketika dini hari.

Inilah wajahku, tanpa topeng

Apakah kau takut…..?!!

(PiS 06 April’12 “Silhuet Wajah”)

Aku dan Bayangku

Aku dan Bayangku di Samas

Kadang tak kusadari
aku tak pernah berlari sendiri
karena bayang adalah teman sejati
yang selalu sadar untuk manut pada tuannya

Kadang tak kuyakini
aku tak pernah berdiri sendiri
karena bayang adalah kekasihku
yang selalu yakin dan setia pada tuhannya

Dan setiap aku diam terpana
dia selalu terinjak oleh gulita jiwaku.

(PiS 12092011)
Foto di Pantai Samas, IdulFitri 31 Agustus 2011

Kalau Kau Kesepian

bang bing bung bing bang bing bung
dang ding dung ding dang ding dung
tang ting tung ting tang ting tung
nang ning nung ning nang ning nung

Reff  :
lang ling lung ling lang ling lung
lang ling lung ling lang ling lung
lang ling lung ling lang ling lung

Aku bukan linglung atau gila
Tertawalah meski kau menganggapnya begitu
Kau sudah terhibur bukan?

PiS 02092011 “Sebelum meniup lilin Ultahku”

Terbang Ke Langit

Aku igin
Seperti si Indian
diriku punah
Atau Seperti burung Paraquay
Melayang tinggi meninggalkan jalan-jalan lampau
yang harusnya ditinggalkan

Tuhanku, teramat sangat
Nyalakan pelita jalanku………….
Dan bakar masa lampauku.
Biar apinya lebih menerangi
Dan asapnya menjadi torehan di langit

karena memang itu yang memang harus terjadi

(PiS 2011)

In English : Flying to the Sky

Top Rated