Love is God’s Gift

Love is God's most beautiful Gift and God's most mystery Gift
Love Is God’s most beautiful Gift and God’s most mystery Gift (PiS, 13.07.12, Foto Jalan Godean)

“Ikan dan Burung”

3:40 AM. Untuk yang terkasih : Maryati
Kurasa aku seperti ikan kecil di dalam akuarium. Merasa bebas ke sana ke mari, merekahkan sirip-siripnya, lalu meluncur merdeka di antara koral-koral hias, batu, kerikil, dan pasir. Nyatanya hatiku taklah pernah bisa terbawa pergi lebih dari satu meter jauhnya dari tempat engkau menorehkan garis tulus di tugu perasaan itu.

Jadi, begitu kutahu kemerdekaanku hanyalah seukuran akuarium maka akupun mencari bentangan laut, meski ada kekhawatiran bahwa mungkin aku tidak akan pernah sampai ke pesisir pantai sekalipun. Tapi sepanjang aku mencari pemenuhan keinginanku itu, aku akan tetap menyenandungkan rasa syukur dibanding seekor burung dalam sangkar yang bahkan tidak akan pernah beranjak lebih dari dua kali bentangan sayapnya. Aku masih lebih beruntung dengan sirip kecilku dibanding dengan sepasang sayap yang kepaknya tidaklah terlalu memberikan manfaat.

Kau yang membacaku harus mengerti, bahwa aku tak berkeinginan membeli banyak akuarium bagi diriku sendiri seperti mengumpulkan kepingan-kepingan kemerdekaan, hanya agar aku merasa bahwa aku telah memiliki tempat berpindah-pindah untuk menghalau kerinduan atau tempat aku menebarkan butiran-butiran air mata atau kesepian-kesepian yang selalu menghujani malam-malam dingin atau mengiris-iris hingga ke lubuk hati. Hingga aku kelak menjadi bongkok dan tak berkuasa lagi selain hanya mampu bermimpi mendapatkan sayap yang lebih luas, lebih kokoh, lebih bebas merdeka dan lebih bijaksana.

(PiS, 09.04.12 Bahan manuskrip & blog : “Ikan dan Burung”)

Menarikan Mimpi

Andai kumampu meminjam setitik waktu
tentu sekejap kecup mampir ke keningmu
Andai kumampu memutar kincir waktu
tentu senyap senyum melahap rinduku

Andai kumampu menari dalam mimpimu
tentu rentak hentak menapak merdu
Andai kumampu menyapa sepimu
tentu seribu sendu menjadi lagumu

Karena aku tak mampu,
jadi kucoba menarikan mimpiku

(PiS, 120212, “

Sahabat-sahabatku adalah Padi Kehidupan

Sahabat-sahabat adalah padi kehidupan. Semakin banyak kita menyemai, akan semakin  banyak yang bisa kita tuai. Sahabat-sahabatku yang baik adalah padi yang bernas berisi. Mereka menunduk menyerahkan bulir-bulir padi bernas berisinya bagi kehidupan. Dan bagi sang pencipta. Aku ingin selalu menjadi padi yang bernas berisi itu. Merunduk bersama padi-padi lainnya tanpa memilih sawah di mana kami akan tertimpa panas matahari, kotor bersama lumpur yang menyedihkan tapi juga akan menguatkan. Tertiup angin kencang yang kelak akan menjadi kenangan tak terlupakan. Tergerus air hujan tapi kelak akan menjadi gizi pembentuk jiwa yang kokoh.

Sahabat-sahabatku yang baik adalah padi kehidupan yang bernas berisi, yang tunduk sujud pada Pencipta, tunduk rela pada sesama. Sahabat-sahabat yang baik, hidup tanpa memilih-milih sawah, bersama-sama menggantang terik mentari,  bersama-sama membenteng angin kencang, bersama-sama menantang hama kehidupan.

 Sahabat-sahabatku yang baik akan selalu datang dan pergi, dalam bentang rentang waktu kehidupan. Tapi kenangan akan selalu di tinggal di sawah batin menjadi bibit untuk selalu memperbaiki diri menyambut sahabat-sahabat baru kelak.

 PiS 25 Oktober 2011

Cita-citamu

Menuangkan cita-citamu agar menjadi nyata, Masih seperti membeli mimpi yang dibayar dengan cinta Bagaimanapun ketulusan dan doa yang terselip di sana Masih saja keletihanlah yang selalu menang dan berkuasa padaku (PiS 17102011)

Work is Like A River

All works are like a river, I can make them in equal,  fight them,  be followed by their flow or race to the downstream.

I can also enjoy them  by getting out from their water once then take a sun bath, enjoying a piece of bread, hot coffee, making love with the wind, counting the stems of tree or writing a story in my diary part by part.

 The work is really like a river, I can forget the time, submerge and swim in the water. Getting a lot of fish and some kind of grass to make jelly, sniffing the plankton into my lungs even I don’t know its benefit for my body or taking the decorated stone which sometime it is not useful so for my life except for fun anyway.

 Ok…, the work is like a river. I can arrange it orderly in the world of my life, or no to be realized, forget about the time and when I get out I find my self to be wrinkled and coldness.

Indonesian : Pekerjaan itu seperti sungai.

PiS, August 26 2001.

 

Pekerjaan itu seperti sungai

Seluruh pekerjaan itu seperti sungai, aku bisa mengimbanginya, melawannya, terikut arusnya atau ngebut menuju ke hilir.

Aku juga bisa menikmatinya dengan sesekali keluar dari airnya lalu berjemur, menikmati sepotong roti, kopi hangat, bercumbu dengan angin, menghitung batang-batang pohon atau menuliskan sekelumit demi sekelumit ceritamu di diariku.

Pekerjaan itu memanglah seperti sungai, aku bisa lupa waktu, berendam dan berenang-renang di dalamnya, mendapatkan banyak ikan dan beberapa jenis rumput untk membuat agar-agar, menghirup plankton ke dalam paru-paruku meski aku tak mengetahui manfaatnya bagi tubuhku atau mengambil batu hias yang kadang tidak begitu bermanfaat bagi kehidupanku kecuali kesenangan belaka.

Ya…., pekerjaan itu seperti sungai. Aku bisa mengaturnya dengan rapi di lembar kehidupanku, atau aku terlena, lupa waktu dan begitu aku keluar aku mendapati diriku sudah keriput dan kedinginan.

PiS, 26 Agustus 2011.

Laki-Laki Atau Perempuan? (2)

 “Laki-laki atau perempuan?” Itulah pertanyaan yang pertama kali diajukan pada seorang ayah ketika seorang ibu baru saja melahirkan. Semua teman-teman dan sanak-saudara mengajukan hal itu sebagai yang perdana, jadi bukanlah tentang kesehatan ibunya. Pertanyaan kedua yang menyusul barulah tentang kondisi kesehatan sang ibu.

Dan seorang ayah akan dengan sangat gembira, berbinar-binar, ceria jika anak yang dilahirkan tersebut adalah seorang anak laki-laki. Tentu saja tetap akan bahagia jika anak yang lahir adalah seorang perempuan, namun dalam kadar yang berbeda, dan besarnya perbandingan itu hanya dia dan Tuhan yang tahu. Dalam kapasitas kadar ini, jangan kau tanya pendapatku yang “sebenarnya” ketika anakku yang baru lahir ternyata adalah seorang anak perempuan. Ibunya akan sangat marah, semua anak perempuan yang terdengar akan hal ini pun akan bersatu padu mengutukiku dan menjadi sangat kecewa terhadap jawabanku itu. Pada awalnya tentunya, sebelum akhirnya aku akan bersusah-payah membuat alasan-alasan pembenar yang kurangkai sedemikian rupa demi menenangkan hati semua orang yang sempat akan menggebuki para kaumku yang turut mengacungkan jempol atas kejujuranku itu.

Dan inilah pengalamanku, bahwa meski seorang ayah selalu bilang laki-laki atau perempuan sama saja, tapi beberapa atau boleh dikatakan banyak diantaranya yang tidak akan bisa menyembunyikan sekelumit rasa kecewanya dari mataku. Jangan salahkan aku bila dia akan lebih gembira ketika anak itu lahir sebagai laki-laki. Bahwa anak bayi laki-laki adalah impian kaum ayah benarlah adanya, bahkan sering terjadi untuk anak yang kedua dan ketiga sekalipun. Dan aku sendiri, dulu sangat berharap bahwa anakku yang baru lahir adalah seorang anak laki-laki. Ketika yang lahir itu ternyata bukan bayi dengan jenis kelamin yang kuidam-idamkan, aku tetap gembira dan bersyukur, dengan sedikit usaha memendam impianku tentunya, karena kekecewaan itu toh sempat terlintas walau cuma beberapa saat. Gembiraku tidak full seperti beberapa temanku yang bahkan hingga berjingkrak-jingkrak kegirangan dan rela beberapa gelas atau piring hiasnya pecah di lantai demi membayar kegembiraannya itu.

Untuk hari-hari selanjutnya, sebulan atau beberapa bulan, apalagi beberapa tahun setelah kelahirannya, amat baguslah kalau kau bertanya perasaanku yang sebenarnya tentang kelahiran seorang bayi perempuan. Karena jawabanku pada saat itu akan membuat semua anak perempuan di penjuru dunia akan iri pada bayi mungil perempuan milikku itu. Rasanya 24 jam sehari terlalu sedikit bagi kami berdua, belum lagi jatah waktu harus dibagi buat ibunya, saudara, teman atau dunia internet yang terlalu banyak menyita waktuku. Dan kau akan butuh kalkulator khusus agar bisa menghitung jumlah puisi plus foto dan video yang terikut lahir dan kusimpan di komputerku, terlahir karena kelucuan dan kegemasan akan gerak-geriknya.

Bahwa dialah anak satu-satunya dari ibunya yang kucintai sudah tidak bisa lagi dipungkiri dan itu sudah kekal oleh-Nya. Saat ini terlalu sulit untuk memahami kejadian kenapa ada alur cerita yang membuatnya sampai dia bisa tinggal jauh, bahkan berbeda pulau denganku. Kata orang itu semua tergantung atas pilihanku.Tapi terlalu sulit pula, atau bahkan mungkin berlebihan bila harus kukatakan bahwa itu juga sebagian dari keinginan atau kemauan ibunya yang berlawanan dengan semua keinginan orang. Tapi kutahu perempuan bijaksana itu benar, memahami isi sudut hatiku dan karakter isi kepalaku. Jadi dia bilang, “Bla…bla…bla…bla…bla…., sabarlah sebentar dan hanya kau yang tahu kapan waktunya, lalu jemputlah.”

 Untuk hari-hari terakhir ini, anakku itu, hanya dialah tumpuan kasih sayangku. Tumpuan rasa gelisah  dan rasa resahku. Membuatku semangat atau melemah. Ia membuat kerinduanku bertumpuk dan bertumpuk hari demi hari. Namun karena itu pula maka makna sebuah sms yang datang darinya sudah setara dengan sebuah kegembiraan seorang ayah atas kelahiran seorang bayi laki-laki. Semoga Tuhan menunjukkan jalan yang lebih lapang bagi pekerjaanku dan menunjuk suatu tempat bagi kami agar bisa mengikatkan dan meraut kembali saling berbagi kasih sayang tanpa sebuah jarak lagi di antara kami berdua.

 Anakku, saat ini aku sangat merindukanmu, akan tetapi seorang laki-laki, apalagi yang telah dewasa tak baik menangis karena akan menimbulkan pertanyaan, “Laki-laki atau perempuan?”

 PiS Maret 2011, Catatan Harian “KOMA”

In English : Boy or Girl?

Protected: Rancangan Kolom Donasi Utk Penderita Kanker

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: Malaikat yang Turun dari Langit Metropolitan

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Soma Yoga, Belajar Menyapa Yang Bukan di Dunia Maya (1)

The Beginning

Warung Vegetarian Soma YogaSoma Yoga, 31/2 meter, cukuplah untuk sebuah jalan agar orang-orang yang bahkan membawa kendaraan roda empat bisa berkumpul dan berdiskusi di tempat ini.  Sebagian besar mereka berbicara tentang kesehatan dan makanan yang bukan berkaki.  Aku rasa sekelompok anak-anak muda ini adalah dari perkumpulan yang dulu sempat mengajakmu belajar memasak vegetarian di daerah Condong Catur. Ah, aku selalu lupa wajah teman-temanmu.

Sendiri, datanglah seorang gadis cantik berkaki panjang, tinggi, melenggangkan pelan tangan putihnya yang terawat halus, tubuh itu  membawa sepasang mata berbinar yang sangat indah. Meski menimbulkan sekilas misteri bagi yang melihatnya. Ia duduk dengan anggun bersama jemari lentiknya. Wajahnya halus, lembut sebagai sebuah kesempurnaan yang merupakan pahatan dan pulasan kuas dari sang Pencipta. Dua bukit yang indah sempurna tercipta menggunung tanpa menimbulkan pikiran tidak senonoh bahkan dari orang yang punya otak kotor sekalipun. Semuanya,  plus Jazz yang di parkirnya telah megundang seribu tanya tentang  sejumlah daftar biaya-biaya yang dibutuhkan agar mimpi seperti itu bisa di dapatkan oleh seorang ayah buat anak gadis kecilnya yang sangat dikasihinya yang tinggal jauh di pulau seberang. Ah… Olenka kecilku, aku meringis di dalam hati.

Padi & Burung Pipit di Soma YogaHamparan tanaman padi tentulah membantu membuka cakrawala kelezatan tentang berbagai makanan yang berbau hijau bagi orang yang duduk di sini. Tapi, lihatlah padi yang menunduk pasrah pada nasib yang bergantung ke burung-burung pipit yang lincah beterbangan. Meski angin membantu padi menghindarkan sergapan pipit, naluri laparnya selalu menang di atas kelelahannya mwski harus melawan kesabaran angin yang menyayangi bulir bernas berisi dari batang padi sang sahabatnya. Tak terhitung banyaknya batang padi yang harus merelakan sebagian buah kasihnya agar lingkaran kehidupan tetap mengalir sempurna dan sayap bisa tetap berkepak.

 Gadis yang diam seribu bahasa, sesekali dengan lemah, ia melirik majalah kesehatan yang kutaruh di meja. Lalu pandangannya lepas ke Utara. Isi ruang batinnya melayang lewat sepasang mata indah yang terbawa oleh sayap-sayap segerombolan pipit yang terbang tak beraturan. Dia sedang bukan di dunia maya, tapi tidak pula sedang di sini, dia ada di hamparan cakrawala, nun jauh di sana. Dan kalau kau jeli, maka di balik kesempurnaan yang dimilikinya, kaupun akan tahu bahwa ia sedang membutuhkan sebuah bahu untuk bisa sekedar menyandarkan keletihan jiwanya. Dan untukmu kekasihku, kau tahu aku manusia pemalu yang belum mampu melakukan hal-hal semacam itu, meski kuyakin kau takkan melarangnya dengan dalih kemanusiaan. Aku, kan baru belajar menyapa sayang? Dan aku ke sini masih hanya untuk ingin menyapamu. Tapi baiklah demi janjiku itu, akan kucoba.

 Tatapan kami berbenturan, sekejap sesudah ia memandang majalah itu. Darahku berdesir, dan jantungku berdetak hebat, jadi kuangkat majalah kesehatan itu agak tinggi sebagai simbol sebuah tanda tanya meski tak terucapkan. Itu semata hanyalah sebuah respons yang jauh di luar lingkar kesadaran. Matanya memaku pada judul besar di majalah itu.  Ia mengangguk, maka respons yang jauh di luar lingkar kesadaran itu kembali muncul, mendorongku memberanikan diri untuk beranjak membawa majalah yang menurutku beratnya hampir 10 kwintal itu padanya. Bukan aku, namun majalah itulah kelihatannya menyimpan sebuah pengharapan baginya. Sinar tepatnya.

Vegetarian Soma YogaTak ada tempat di meja di antara jus wortel, nasi organik, model daging ayam berbahan jamur dan roti bekatul atau roti jagung.  Aku heran dengan pesanannya yang cukup banyak itu. Jadi dengan hati-hati, majalah kuletakkan perlahan menimpa sebuah list laborat kedokteran. Sekilas di salah satu baris tertulis CAE 5,6 .  Dalam terhenyak, aku telah memahami tentang sebuah kebenaran di atas beribu dugaan. Memahami tentang wajah pucat dengan mata berbinar hanya karena desir kepak burung-burung pipit yang terbang bebas. Memahami pengorbanan padi dan pengorbananmu sebelum aku duduk di sini. Memahami lingkaran kehidupan antara dia, dokter, burung dan batang-batang padi yang merunduk.  Memahami makna sebuah maket dari sebuah situs. Dan memahami bahwa ini bukanlah dunia maya, inilah kenyataan tapi tak perlu ditangisi. Jadi aku mengakhiri pelajaranku tentang menyapa dengan hanya mengangguk-angguk kecil berulang kali ketika dia bilang terima kasih dengan senyum tulusnya yang teramat ramah dan menawan tapi sungguh perih menyesakkan dadaku.

PiS 2011
Sumber : www.maryati.net

line twilight

Goresan Lainnya :

Sejoli, Belajar Menyapa Yang Bukan Di Dunia Maya (4)

line twilight

Mimpi, di antara “White SEO” dan “Black SEO” (2)

Belajar Menyapa di Senja KelabuCileduk….,
Masih Pagi buta saat aku tiba di warnet. Belum banyak susunan kata-kata mengenai Trik SEO atau seputar PageRank Google yang berhasil kuketik. Karena waktuku terpakai di blog wordpress dan FaceBook itu. Tapi untunglah tadi aku sudah sempat tidur meski hanya beberapa jam saja. Bagi orang-orang dengan pekerjaan dunia maya, tidur hanyalah formalitas belaka, mereka melakukannya hanya demi meneruskan kebiasaan yang merupakan warisan dari nenek moyang terdahulu. Dan karena kebiasaan itu, maka sang Tidur-lah yang sering keserempet caci maki dari para pekerja dunia maya, “Wah.. sialan harus tidur, udah mau pagi!” atau “Sudah Jam 4? Gilak… kapan mau tidur,” dst.

Sama sepertiku, keseharian temanku ini ikut imbas masuk kategori pemaki si tidur itu. Dia juga lagi OL dini hari itu, dia tahu lewat Twitter dan Plurk maka berderinglah HP-ku. Setelah basa-basi tentang beberapa hal, dia mengakhiri dengan pertanyaan tentang alamat rental warnet ini. Dan tau-tau dia sudah nongol di kaca warnet. Si penjaga warnet tersentak kaget di tengah kantuknya, dia melongo, sedikit menganga, kurasa dia gemetaran, membayangkan hal-hal seputar perampokan. Hih..hi.. penjaga itu mematung, aku tahu pasti dalam pikirannya,” Itu kepala apa bukan ya?” Jadi di dalam hati akupun membantu menjawab, “Itu bukan kepala tapi cuman segerombolan rambut.”

“Demi langit, bulan dan bintang, bolehkah diulang kembali aku masih di rumahku dan tidak jadi menjaga rental ini?” itu pikiran ke dua si penjaga rental. Jadi daripada dia kencing di celana aku bilang padanya bahwa orang sangar itu temanku, plus bahwa aku sudah selesai menyewa. Maka legalah dia, terhindar dari gejala stroke, dan keringat dinginnya terserap kembali ke pori-pori kulitnya menghindarkannya dari serangan dehidrasi ketakutan.

“Dari pada di rental, mendingan di rumahku aja coy…” begitu katanya padaku di depan penjaga rental. Penjaga rental itu mesam-mesem merasa selamat dari aksi perampokan barbar.

Philodendron, puring Raja, aglonema lipstic, aglonema Hot Lady, Anturium dengan ukuran jumbo, ya ini yang jenis Cobra – anthurium Cobra, masih ada puluhan jenis tanaman memukau lainnya, merekalah yang menyambut kedatangan kami, setelah gerbang itu menganga. Aku terkesima melihat semua itu, apalagi lampu-lampu spot warna yang di taruh di tanah, cahayanya menyembur ke atas menimpa daun-daun dan dinding, menjadikannya sebagai sebuah lukisan silhuet tanaman dengan pola warna-warni di sekeliling menimpa kanvas dinding yang putih bersih. Kurasa aku seperti melayang ke surga, semoga aku bisa bertemu denganmu. Aku sudah tidak tahan untuk minta ijin memfoto demi kamera pocketku yang sudah geregetan di dalam tas. Aku pernah melihat yang seperti ini di sebuah toko tanaman besar di daerah Tawangmangu tapi dalam bentuk mini. Ah.., kembali lagi memori itu, perjalanan bersamamu ke toko-toko tanaman mulai dari yang di jalan Godean, jalan Kaliurang hingga ke Tawangmangu. Memori-memori itu seperti berenang di otak dan sanubariku. Dadaku mulai terasa sesak lagi. Jadi kutaroh titik di sini lalu melanjutkan yang lain saja.

Hatiku bertanya-tanya, apakah taman dengan rumah sebesar ini bisa didapat hanya dengan menjadi seorang Blogger? Apakah dari puluhan Google Adsense? Laku milyarankah web kontroversinya itu? Atau apakah didapat dari pekerjaan menjadi seorang SEO? Apakah dia yang memiliki web-web trafik tinggi di dunia periklanan? Mungkin periklanan rumah kalik, ya? Entahlah, tapi jangan-jangan temanku ini hanyalah seorang “Black SEO” atau mungkin kalau dia “White SEO” dia telah beruntung mendapatkan klien sebuah perusahaan raksasa yang sedang bertikai, hotel, biro travel, atau SEO bagi sebuah partai politik yang sudah memenangkan posisi2 tertentu. Jangan-jangan pula kemampuan hackernya yang dipakainya untuk memeras orang atau pejabat. Atau dia pernah merecovery data rahasia dan lalu menjualnya. Di Jakarta apapun bisa terjadi. Ah, aku cepat-cepat menepis semua pikiran ke arah jahat. Karena sekecil apapun pikiran jahat hanya akan menjadi racun bagi hatiku, hati itu akan membusuk. Apalah artinya memiliki hati busuk apalagi hati itu sudah berkeping-keping seperti ini. Di dalam ruang keluarga, istrinya datang menyambut dengan hangat. Tangan terawatnya halus menyalami. Dan wajahnya bertolak belakang 360 derajat di banding pikiran kita tentang orang yang beruntung meminangnya. “Demi langit, bulan dan bintang, bolehkah diulang kembali aku masih di warnet dan tidak jadi mampir ke rumah ini?” Dasternya, baju tidurnya itu cukup tipis menerawang, merusak segala cara pandang logika etika. Menjadikan seorang seniman sejatipun akan bimbang, memilih yang nyata ini atau memandangi lukisan-lukisan abstrak yang sangat indah di dinding itu.

Lagi, pikiran yang suka membandingkan itu datang, dia dan istrinya, aku rasa seperti sebuah lukisan Van Gogh, yang di miliki oleh seorang pengamen kucel tapi kaya raya. Lebih tepat kurasa kalau memilih salah satu lukisan yang bernama “Patch of Grass” , dimana lukisan itu selalu ditimpa oleh gitar bututnya setiap kali ia akan istirahat setelah bekerja seharian. Tapi mungkin tidak ada masalah di sana, kerena rumah ini tidak kalah menarik dengan Museum Kröller-Müller. Yang di beli berkat gitar butut itu sendiri. Jadi istrinya atau lukisan itu tetap betah menjadi penghuni rumah idaman ini. Hah..ha… semoga dia tidak marah lalu pada awal bulan ini dia tiba-tiba nongol lalu menendang bokongku. Istrinya ke dalam, mungkin akan memasak sarapan. Diapun menyuruhku menunggu lalu beranjak menuju sebuah ruangan dengan pintu yang dipenuhi sticker gambar penyanyi-penyanyi rock tempo dulu. Hening seketika, tapi keindahan tetap memancar dari ruangan ini. “White Seo…”, “Black Seo…”, hacker, google, “White Seo…”, “Black Seo…”, pagerank, dst, kata-kata itu silih berganti menghantui, bergelimangan di dalam otak menelusup keruang batin dan jiwaku. Sesekali ada suara gemerincing sendok, ada suara piring mendenting, suara air keran gemericik, aku merasa seoalah-olah kaulah yang ada di sana menyiapkan sesuatu untuk sarapan pagiku di Jalan Gajah Mada itu. Barangkali dunia yang seperti inilah yang kau impikan sejak dulu. Tapi kau tahu pasti, jauh di relung hatiku tak sebersitpun aku pernah menginginkan ini kecuali demi engkau. Dan karena kau pula, aku sampai di rumah ini demi sebuah janji. Sungguh lama temanku itu keluar, jadi kuambil lagi buku merahku dan menulis “Belajar Menyapa Yang Bukan di Dunia Maya lalu kuteruskan dengan “Jakarta adalah dunia maya yang sebenarnya, dan sebenar-benarnya dunia maya.”

.

.

PiS, catatan yang masih tertinggal untuk tgl 26 atau 27 Juli 2011 “Masih tentang merindukanmu”

from : www.maryati.net

In English :
A Couple of Twosome, Learning To Say Hello Not in The World of Illusion (4)

line twilight

Goresan Lainnya :

Protected :

.

PUISI :

line twilight

The Gate, Learning To Say Hello Not To Be in The World of Illusion

The Dream, between “White SEO” and “Black SEO”— Part 1
I was in Ciliduk area. The time pointed out 2 o’clock a.m. when I was awake, remembered you, sitting and thinking what I should be done at the moment in my brother’s home. I though I was dreaming without I was realized in front of TV silently. I was slept away in the family room and somebody had turn off the TV. I still thought What I supposed to do, there was not a bicycle or internet anyway in this house, even the book of Ajahn Brahm part 2 I had read it twice, the big book of SEO Google and the trick of SEO were too much tired already. TV? I was already tired also, just always told about Nurdin the corruptor and Democrat Party with their thousand of mask. And you know my love, I was heard so stupid if I told the security of gate’s guard that I wanted to run or walk in the morning. So I thought the way to say hello that he did not have to be responsible of the sin just because of angry in his heart: “2 o’clock just for running in the morning?”! Do you want to run away, don’t you?!”

In the gate, oh my god, he was slept also. It meant I had to learn how to say hello that is not in the world of illusion with the object as a guard who was in his world. I hoped he maybe did not hit my head for making him awake and surprise. So as soft as possible, even it was almost like a whisper I called him repeatedly. Finally, he was awake, his face was rather upset, glanced, starting to search the parts of my face. He apparently arranged a question, if he searched in Google and Yahoo, of course, so we were not too long to be rigid. He started to be realized and knew me, then he tried to be smiled to make him self friendly. I pulled up the backpack on my back in order that its position is better, then I tried to replay his smile as sweet as I could.

“Go out again?” he asked patiently

“Yes sir, I want to go to warnet sir.”

“Oh…,” he answered shortly

Silently, Of course I might not explain him that I went to warnet to study “the tricks of SEO GOOGLE” or wanted to make poem for the love of my heart. A Such thing, for a guard who was still sleepy might also make his cudgel lay down on my head or at least made him to get more sin because to be angry in the heart: “Aah, you are lie, you want to look for blue film, don’t you, or the picture of beautiful naked girls, who cares, I want to sleep again…!!! If his cudgel was really drop in, of course I lost everything of Seo’s tricks” I had learned from my brain, at once the facility to be able to forget you. And fortunately, after the answer “Oh…” came out from his mouth, he stood up and went to open the gate. Our conversation was over. At the time the gate of housing was opened, I felt my learning to say hello not to be in the world of illusion had finished in good enough.

The security, I was sure he watched my back till I was lost in the cloudy dark morning. I tried to turn off back, especially waved my hand. Afraid to be suspicious by him exactly and he ran after me instead. I did not try also to think what was in his mind when I was far to my backpack. It was better I put my mind to the idea of SEO’s trick and good SEO. Maybe he did not report me to the police for the sake of my backpack which was content of a girl’s head I would throw iy away in Ciliwung river. Maybe everything was only a splash of good thinking, so nobody else got a sin at the time till everything were done as properly.

The dark still covered the city, the circumstance was still silent when I arrived close to a market, there was one or two two-wheels vehicles starting to pass the holed roads in the city of Kreo. One time at the distance, I faintly heard people shouted out. Some people who was preparing their merchandise did not care it too much. So did them in other small store, everything as used to be, they did not hear anything as like. Everything was done till the silence covered it back widely.

I showed the sky was empty of stars. Even the moon did not show its face. The poles of iron were showed cold and rigid. The lights turn off slowly like they felt lonely for something, they were in line till far away, to be smallest till they became a silent point. I thought it was almost 3 o’clock am. I played Demis Russos’s song “Before The Storm”. The song flowed and swung away my heart, drifted me away in deep loneliness to you. I walked faster only to see a glance of your color in the Facebook, moreover I wanted to continue my article about “SEO Google” sooner. Among my long steps I still remembered the words that made me awake tonight. Your advice to me kept hearing so. Did I always try already, didn’t I? Because of that I wrote a sequel of “The Gate, Learning To Say Hello Not To Be in The World of Illusion (3)”

Cileduk, PiS July 28 2011(Revision of the notes on the date of July 26 2011)
.
Indonesian : Gerbang, Belajar Menyapa Yang Bukan di Dunia Maya

Mimpi, di antara “White SEO” dan “Black SEO” — bagian 1.

Protected: Gazebo dan Teras, Ada Angin Yang Bercengkrama di Sana

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Stasiun Senen, Belajar Menyapa Yang Bukan di Dunia Maya (2)

.line twilight

Miss youDi dunia maya berlaku hukum bahwa bisa saja selama bertahun-tahun ini kau mengira bahwa kau telah menjalin komunikasi dengan seorang gadis cantik, pria tampan, FBI, CIA, BIN, penyanyi, aktor/aktris tenar, selingkuhanmu, atau siapalah yang kau senangi, sampai akhirnya kau temui kenyataan bahwa selama ini kau ternyata hanya berkomunikasi dengan seekor monyet berbuntut pendek atau seseorang yang tak akan pernah terbayangkan sebelumnya.”

Hatiku gelisah, menimang-nimang, apakah aku harus merepotkan orang lain dengan membangunkannya pada pagi-pagi buta hanya karena aku khawatir dan resah pada hal-hal yang aku sendiri tidak mengerti tentang apa, kenapa dan untuk apa. Selalu saja setiap sebuah pertanyaan tentang bagaimana menyelesaikan sebuah persoalan lahir, maka ingatanku padamu menjadi dominan, selalu berandai-andai bahwa jika kau ada di sisiku, tentu kau akan menelpon seseorang yang juga selalu saja jauh lebih baik daripada orang yang pernah kukenal atau pernah menjadi sahabatku, lalu seperti yang sudah-sudah, semua akan berakhir dengan baik, sedang kerjaku hanya tinggal mengangkati koper-koper saja.

Aku rasa seseorang di luar sana telah salah menilai, bahwa selama ini aku selalu memanjakanmu, nyatanya, kaulah yang terlalu memanjakanku, kalau tidak, aku tentu tidak akan segugup ini hanya untuk menuju sebuah stasiun yang bahkan sudah kuanggap kuno. Jam 2 pagi, tidak ada masalah dengan jam segitu, kau kan tahu, bahkan untuk tidur di tempat angker pun aku tidak akan pernah takut, karena aku selalu mengagungkan logika berfikir melebihi mistik atau perbuatan jahat apapun. Tapi kurasa bukan karena semua itu, barangkali kesepiankulah yang mendorongku untuk menyapa, mungkin aku butuh teman ngobrol di kota yang tidak pernah bisa kupahami ini. Ya, mungkin itu.

Seperti selalu kau bilang, sungguh sangat jarang dalam hidupku, tapi aku melakukannya, menelpon! Tidak secara eksplisit mengatakan supaya aku dijemput. Aku cuma bilang, “Eh, kamu online terus ya, aku akan sampai di stasiun lho sekitar jam 2 pagi. Aku baik-baik saja, kata orang banyak ojek, bemo, taksi kok di situ dst, dst, dst…”

Kurasa dia mengerti, jadi dia menghardik, menyuruhku lebih baik diam, mendengarkan dulu dan menurut saja, lalu memutuskan sendiri secara otoriter, akan berada di sana sebelum aku tiba. Kurasa seperti biasa, ketika kami berdebat di dunia maya, dia mulai keras padaku. Tapi keras yang ini membuatku merasa senang, karena aku betul-betul merasa diperhatikannya.

Aku tersadar dengan kata-kataku sendiri yang selalu bilang, kita harus berpikir jauh ke depan. Harus hati-hati tentang sebuah keputusan. Namun tentang temanku ini, baru detik ini kusadari, lalu muncullah ke khawatiran itu dalam hatiku. Kutenangkan diriku sendiri, bukankah dia juga cuma makhluk Tuhan semata? Bukankah kami sudah saling kenal bertahun-tahun di dunia maya, dan bukankah aku yang pertama kali mencoba bersapa dan bertukar no HP dan ingin ketemu di dunia nyata dan itu baru kemarin pagi? Tapi tunggu dulu, bukankah dia juga yang selalu mengkritikku habis-habisan? Bukankah dia yang selalu memulai perang argumen pedas? Bukankah dia yang memaki-makiku membabi buta hanya karena aku menulis tentang  seorang Cat Steven dengan lagu “Morning Has Brokennya.” Padahal aku hanya mengatakan bahwa lagu itu telah menjadi jembatan antar kita yang berdiri di jurang-jurang pemisah yang sangat dalam? Bagaimana jika dia ternyata masih menyimpan sebuah dendam? Dst… dst…

Ah, sudah terlanjur. Jadi kuangkat tasku, turun dari kereta, celingak-celinguk dan mulai memiss call ke sana sini berulang kali, sampai akhirnya pada waktu yang tepat kulihat seseorang mengangkat HP nya. Tak begitu jauh dariku. Astaga naga mudah-mudahan bukan itu orangnya. Pasti bukan, badan gituan bukanlah badan seorang blogger yang mengerti masalah-masalah seputar SEO dan Google Adsense. Jantungku berdetak. Kurasa aku keringat dingin. Itu kepala apa bukan ya?

Dia melambai, mulai mengenali, mungkin dari icon kaca mataku di blog-blogku, ya, kurasa dialah orangnya, tapi mana mungkin, masak aku mesti curhat tentang “cinta dan kerinduan” dengan orang bermuka sangar dan tangan penuh tato begitu. Astaga apa yang sudah kulakukan ini. Pikiranku bergelimang dengan kabut pertanyaan plus dugaan-dugaan. Demi langit, bulan dan bintang, bolehkah diulang kembali aku masih di gerbong dan tidak jadi menelponnya?

“Hah, si abang!” Teriak lantang. “Pastilah kau orangnya!”, suaranya agak keras memecah keheningan  sambil mematikan HP. Jakunku naik turun, ketika mengiyakan. Jangankan aku, para preman Stasiun Senen ini kurasa jadi gugup, menyelamatkan muka demi mendengar dan menoleh ke wajah si empunya suara. Jabatannya sangat keras. Rambutnya itu, daripada milik seorang blogger cerdas, barangkali lebih tepat kalau kukatakan cuma dipinjam dari seorang pengamen jalanan yang nggak mandi ribuan tahun lamanya. Ih…, itu bukan kepala, tapi segerombolan rambut.

Semua pada akhirnya berjalan dengan poin yang menurutku sangat baik. Dia bahkan mentraktirku makan, yang belakangan kusadari telah kubayar dengan sejumlah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang apa sebetulnya yang terjadi setahun belakangan ini. Kenapa aku lenyap dsb. Apakah aku masih punya rasa nasionalis itu, apakah aku memusuhinya, apakah kami akan bertemu lagi, apakah aku akan mencari istri lagi, apakah tulisannya bagus, apakah, apakah, apakah…. begitulah. Lalu dialah membayar makan dini hari kami. Dia mengatakan juga, nggak nyangka mukaku cuman seperti ini. Katanya lagi, mukaku amat kontradiksi dengan artikelku, dan dia bilang aku lebih cocok kalau berambut gondrong. Dia mengantarku hingga di mulut gang sambil mengatakan rindu akan tulisanku tentang negara yang kita sayangi ini. Negara yang kita sayangi?! Seumur-umur aku nggak bakalan  percaya dia mengucapkan itu kalau tidak kudengar dengan kupingku sendiri dan dari mulutnya sendiri. Huh…, dunia  sudah kebalik-balik kataku dalam hati.

Bulan dan matahari bergantian menyapa bumi. Maya dan nyata bergantian menyapaku. Aku menoleh ke belakang sekali lagi, masih gelap gulita ketika samar-samar ia menjauh membawa badannya yang besar itu. Di kejauhan, gedung-gedung dalam gelap kelam penuh dengan cahaya-cahaya kecil, sangat mirip dengan bintang-bintang langit di Alun-alun yang sudah menempel di hati kita. Seperti biasa, aku mengingatmu kembali, utuh seperti hari-hari sebelumnya. Di tengah kerinduanku padamu dan kesepianku, di tengah rentang gelap yang panjang, kau tentu tahu apa yang dikatakan para gedung tinggi berkelap-kelip itu padaku. Ya, itulah yang dikatakan gedung-gedung itu padaku.

.

PiS, Cileduk 27 Juli 2011

.

NB : Aku tiba di stasiun senen pd tgl 25072011
lalu catatan ini dibuat dicicil di tengah kesibukan
sebuah pesta pernikahan.

In English :
Senen Station, Learning To Say Hello Not To Be in The World of Illusion (2)

line twilight

Kerinduanku Menyentak Hatiku Untuk Terjaga dari dunia Maya, Lalu Menulis :

Protected :

.

PUISI :

line twilight

Previous Older Entries

Top Rated