Senja Menari di Bukit Bintang

Senja Menari Di Bukit Bintang

Kutahu senja telah telanjang
tertatih berjuang dari terjangan malam
yang gelap hitamnya mengalir
dari puncak bukit hingga ke ujung gang
berbusana hitam dalam kemilau lampu kota
kancing-kancing bintang gemerlap
berkeriap di kubah-kubah langit
menukik ke bumi berkaca ke sungai
mengukir punggung air menisik ke mata
lika-liku jalanan mengukir bumi
bagai ornamen bunga tak jadi
semuanya menjatuhkan hatiku
pada cinta pertama

Kini,
Kubisik pada bayangmu
“dulu cinta kita menari di sini
ketika senja
mulai menjamah Bukit Bintang.
Ingatkah kau?”

Dan,
Dengarkan degupku
Jantungku menari sendiri
Aku.., Sungguh Kehilanganmu..!

(Puisi, tentang 1997 “Bukit Bintang Wonosari”)

Advertisements

“Pecel Kembang Turi 3” (Masih, … …)

(Masih, senyum dan tawa itu masih)
Revisi Catatan 2010 pada Minggu, 20 Mei 2012 di Kaliurang.

Kenangan Pecel Kembang Nasi Turi bersama senyum dan tawamu

Hanya hening yang berkuasa
Kata-kata senyap kehabisan makna
Cerita lucu mengalir kehilangan arah
Tak ada yang mampu
membendung rasa perih di tubuhmu
kecuali keikhlasan hatimu sendiri
segala rayuku hanya penghibur sejenak
pupus oleh risau yang leluasa menggerogoti
lalu menyemaikan duka ke dalam jiwa
mengatupkan lorong harapan ke dalam hampa
Melihatmu…,
sungguh serasa sembilu menyembelih dada
mengirisnya tipis ke lautan waktu yang amat miris

Kau yang meminta ke sini
barangkali demi cinta yg dulu kita toreh
yang pernah berkilau di bawah pohon cemara
di antara daun dan kepak kupu-kupu
Di sini kasih itu memuai ke dalam rentang ulir zaman
Manis di antara tatapan kasihmu yang syahdu
Angin cemburu mengusik rambut di keningmu
mencoba membungkam petikan dawai gitarku
Aku tak perduli,
kubiarkan nada bertebar mengawal anak-anak berlarian
senar-senar bergetar menyerap senyummu ke dalam batin
di sini tak ada belenggu yang mengganggu
karena ketulusan tak mengunci pintu iman
hingga jeruji tak bermakna atas rasa kasihmu dan rasa kasihku
Namun rasa sakitmu lebih kerap memenangkan waktu
menyekap teriak, yang tersekat di rongga kerongkonganku
melihat sayu matamu serasa hatiku di kepras

Di sini masa lalu mungkin berbunga
tapi harumnya tak semerbak pada bintik pengharapan
pada derak dahan kayu rapuh yang tertiup angin,
kubungkam mimpiku, kubungkam teriakku
tentang sehat yang tak tak mampu kubeli
Ah…, sesekali kulirik kau, sambil menghujat kalimat doktermu

Saat tubuhmu masih di rasuk perih
Kita sempatkan membeli pecel Kembang Turi
mencoba menukar kenyataan dengan mimpi
Di tegarnya dahan cemara, angin sepoi saling berbisik
Tentang kembang Turi yang kau jadikan mainan pemikat hati
Senyummu rekah saat mempermainkan kembang-kembang itu
Kembang turi, menari di antara jemari, lidah, geligi dan bening binar matamu
mulutmu sempurna dalam komat-kamit lucunya
seraya mencoba menyembunyikan nyeri
yang selalu merepihkan sekujur tubuhmu
akhirnya tawa kita pecah sejenak
menghablurkan gumpalan galau
dan meruntuhkan rasa takutku yang menghujam
sambil kucoba melupakan detik-detik yang hanya akan sebentar ini

Kini…,
Saat aku kembali lagi ke sini
Sungguh, kau telah menanti
kau hadir lebih nyata, tak bias dalam bayangan
menari bersama kembang Turi di tanganmu
sambil mengurai senyum dan rinai tawamu
Telah kau bantu aku untuk tersenyum
meski bulir-bulir bening tetap berjatuhan

“Terimakasih sayang, sungguh kau kucinta selamanya…”

(PiS, Dari catatan harian “Pecel-Kembang Turi” di Kaliurang tahun 2010
dengan perubahan pada hari Minggu, 20 Mei 2012, “Masih, senyum dan tawa itu masih”)

Aku Tanpamu

Aku tanpamu adalah hening yang melenggang ke dalam malam. Aku tanpamu adalah sungai luka yang mengalir ke laut mayapada kematian.

Aku tanpamu adalah hening yang melenggang ke dalam malam

Aku tanpamu, mencoba menyanyi untuk meluapkan perasaanku. Perasaan yang selalu bergemuruh di dalam dada tanpa terbendung oleh tanggul tembok raksasa yang kubangun. Terserah pada yang bilang aku tak beriman, hanya demi melukaiku tanpa titik penghiburan. Aku sudah berteriak sekerasnya, sudah berlari sekencangnya sudah menangis sekuat yang kumampu, aku memukuli diriku sendiri, sudah melukai diriku dengan perasanku sendiri. Sudah kugelindingkan roda-rodaku hampir seratusan ribu kilometer jauhnya, sudah kularikan jiwaku dari kota ke kota, dari pelosok ke pelosok, dari gang ke gang. Aku bolak-balik menelusuri Pekan Baru, Dumai, Medan, Jakarta, Lampung, Semarang, Surabaya, berharap kerinduanku lunas terbayar dan rasa bersalahku lenyap menghilang tanpa bekas. Aku sudah terseok di pasir, sudah berpanas pada terik, sudah berbasah oleh hujan, dan kediningan di dinihari, mengerang akan sepi yang menyayat pagi, lapar dan haus menghujam nurani saat meniti jeruji waktu. Tapi tetaplah itu semua tak bermakna apa2 bagi sebuah kerinduan dan rasa kehilangan yang berkepanjangan. Aku tertimpa rasa bersalah tak berampun, tak mampu melindungi dan menyelamatkanmu dari sakitmu lalu meninggalkanku seorang diri dari dalam sunyi senyap di tingkap waktu. Semua cara sudah kulakukan untuk melupakanmu. Tapi semua jalan terjal, berliku, berbatu, berbeling, beranting tajam, berpasir kaca taklah memberikan sakit melebihi rasa perih dari kehilanganmu. Jadi selalu kucoba bernyanyi dan bernyanyi, menghindar waktu yang selalu mengalunkan sepi ke dalam diriku. Kini, datanglah kau dalam bayangmu semaumu, datanglah kapan saja, sampai kau bosan atau sampai aku mati. Meski orang tidak menyukainya tapi itulah mungkin takdirku.

(PiS, 21 May 2012, juga di http://www.Maryati.net)

“Sangam House, maka kulipat serbetku”

Rumah Makan Vegetarian Sangam House

Dulu selalu kuletak setitik pengharapanku di atas meja pilihanmu itu di tempat ini, mencoba memelihara mimpiku : untuk bisa selalu tetap duduk di sisimu, seolah-olah kata “kekal” itu memang ada, laksana keinginanku agar musim ini mampu kuhambat untuk tidak akan pernah berganti. Setidaknya sampai rambutku memutih bersama kulitku yang perlahan mengeriput karena telah sarat menyimpan ribuan makna dalam nadi darah yang semakin mengental dan tinggal menunggu waktu untuk membeku karena telah penuh dengan kenangan tentangmu. Tapi kini aku sadar, semua mimpi itu takkan mungkin terlaksana meski selaksa rindu menyentak ke langit biru sana. Sebuah mimpi hanyalah mimpi, yang akan jatuh dan berakhir ke dalam kubangan kegelapan mimpi juga. Jadi kutahankan saja gemetar dadaku sambil menarik serbet makanku.

 Kekasihku, saat aku datang dan kembali duduk di sini, tak ada yang berubah tentang dekorasi indah, begitu juga pernak-pernik yang selalu mencuri perhatian matamu, tak pula banyak perubahanan tentang sudut-sudut yang penuh dengan nuansa seni yang dulu kita resapi secara mendalam. Selalu kuingat saat itu, bahwa sungguh sulit hatiku untuk mampu melukiskan segala yang kita temukan di sini hanya dalam sekumpulan kata-kata pilihan yang bergelimangan dalam temaram lampu redup, tapi kini kusadari, semua itu bisa begitu sempurna karena ianya mengalir bersama binar bening  indah matamu yang selalu terkagum-kagum pada ornamen.  Juga bilasan keramahan, masih kental bersaput tebaran senyum di sana-sini. Namun kau harus kuberi tahu, kau harus paham, semua itu tak kini tak bermakna setitikpun bagi sekeping hatiku yang telah memaksa langkahkahku berlabuh ke sini. Semua ini hanya membuat nadiku serasa perih oleh sayatan luka dari detak jantungku yang selalu menebar rintihan rindu ke seluruh penjuru tubuhku.

Saat menu vegetarian telah terhidang bersama sekumpulan nama-nama indahnya, instrumental “A Whiter Shade of Pale”pun perlahan mendayu membuai perasaan, mengalunkan jiwaku dalam buaian sendu, gemulai seperti ketika rambutmu tertiup angin sepoi di bukit bintang saat kita menatap kerlip bintang-bintang beradu indah dengan cahaya dari bintik lampu-lampu kota saat malam menuangkan hening ke penjuru dunia. Di buaian nada-nada, kalbuku melayang dalam irisan rasa sepi tak bertepi, ia menemukan awan putih tempat aku dan kau seolah-olah melayang bersama dalam genggam jemari tak terlepaskan. Dalam sekejap kurasa kau telah menjelma datang dan duduk sebelah kiriku, menatapku tak berkedip, membawa utuh rasa cinta yang tulus ikhlas dari ruang batinmu. Saat ini, sungguh terasa kau sedang mencoba memahami makna terdalam dari rasa kehilangan yang tak berkesudahan ini. Kuharap jangan kau biarkan kelembutan jemarimu yang terasa damai dalam senyap yang menghinggapi sanubariku terlepas. Setidaknya untuk beberapa saat lagi. Kau pasti sudah merasakan, bahwa aku merindukan sekumpulan jemari kasih yang takkan luput dari ingatan, jemari yang selau melipatkan serbet makanku di tempat ini.

Detik ini, memanglah sungguh sangat buruk dan memalukan. Dan meski dunia akan mencelaku, tapi takkan ada yang mampu mencegahnya. Ya.., itulah, air mata itu, dan karenanya kurasa tak ada yang perlu kulakukan lagi saat ini, selain melipat kembali serbetku.

(PiS, Sebuah draft dari catatan harian di Medio Mei, “Sangam House 3”)
* Sangam House : Sebuah Rumah makan Vegetarian di Jogjakarta.
www.maryati.net

Titik-titik

Ingin kurangkai titik-titik menjadi garis
lalu merangkai garis menjadi titian
tempat agar aku bisa berlarian
mengejar bayangmu,
sambil melabuhkan kerinduan
pada arus sungai di bawanya
mengalir deras menuju ke negeri indahmu.

Ingin kurangkai titik-titik menjadi helai
lalu merangkai helai-helai menjadi rambutmu
tempat agar aku bisa membelaikan
jemari linangan kerinduan
sambil mengalunkan puisi di gemulai angin
agar tertiup ke dalam tidur damaimu.

Aku berbisik :
Pagi ini, sudah bangunkah kau di negerimu?

(PiS, 13.05.12 “Rindu Seabad”)

Ini begini, itu begitu (By : PiS)

Mungkin semua ini baru bisa begitu dengan harus begini dulu. Tak banyak orang bisa begitu dengan langsung berhasil mendapatkan itu tanpa harus begini. Ini karena proses mendapatkan itu mungkin harus dimulai dengan begini ini. Walaupun dengan begini ini belum mendapatkan itu, itu karena proses untuk bisa begitu memang dibutuhkan ini itu. Bahkan dengan sudah begini begini ini belum tentu bisa begitu itu, apalagi pengin begitu dengan langsung mendapatkan yang begitu itu. Tapi biarpun begitu, walaupun masih begini ini, dan belum mendapatkan yang begitu itu, itupun harus disyukuri. Kita jangan pernah  befikir, kenapa Tuhan memberikan yang bengini, kenapa tidak yang begitu. Jadi begini kawan, pikiran yang begitu itu keliru, itulah yang harus dirubah. Walau masih begini begini tapi soal menasehati yang begitu itu, itulah yang membuatku bisa begini. Makanya yang begini inipun harus kita terima, itu maksudku. Bukan maksudku harus begini-begitu, begini-begitu, bukaaaaan, bukan begitu. Baiklah kawan sudah cukuplah begini dulu. Karena jika harus menceritakan yang begitu-begitu nanti terlalu panjang. Begitu maksudku. (By PiS 06 May 2012, http://www.maryati.net &  Sketsa.co.id

Luka-luka Laut ku

Puisi sajak Luka-luka laut ku

Satu-satu camar hilang
Laut mendiam menyimpan birunya
Suara kepak menghening di buih kabut
mengadu lengang menggantikan cahaya.
Karang-cadas sembunyi-sembunyi menggurat hati
memaparkan tanya menusuk ke ubun-ubun
: “Di mana rasa cinta itu berlabuh?“
”Di mana?!”

Ada geligi gemeretak
Menahan luka mengaliri jiwa
Ada mata terpejam,
membendung hujan jatuh ke pasir
Butir bening air itu akhirnya melipir terasa asam
Menyentak pipi ke dalam gemetar
: Segala waktu telah menjadi basi

Aku menyendiri,
menanti kelahiranmu
megah di antara langit dan ufuk
juga menanti ombak gelombang cahaya rambutmu,
berkilau ke samudera sanubariku
: Silhuet

Tapi di rongga jantung hingga seluruh nadiku
: laut luka ku
luka laut ku

(PiS 03.05.12 “Menyapa Bulan Mei”)

Puisi Lelaki Tua dan Gitarnya

Suatu saat,
kalau kau menemui seorang laki-laki tua
sedang melantunkan puisinya
di beranda rumah saat senja mulai menghantar malam
cepatlah kau berlalu,
agar kau tak turut menghanyutkan senjamu
ke dalam gelap tak berujung,
mendingin lalu perlahan membeku

Suatu saat,
Kalau kau mendengar denting gitar tua
Menghiba malam terasuk dalam kepak camar
cepatlah kau menyentak mimpimu
sebelum garis pantai di alismu di hujam ombak
menjadi kepingan sembilu mengiris kalbu

Suatu saat,
kau akan menyadari
Semua itu adalah dirimu dan bayanganmu sendiri
karena sebetulnya puisi lelaki tua dan gitarnya
telah lama berlayar ke 8 penjuru mata angin

(PiS, 01.05.12 “Menyambut Malam”)

Bulan (2)

Kau tahu kekasih hatiku, kenapa bulan malam ini lebih suka menyembunyikan ronanya ke balik lembaran awan dari pada bersikukuh menampilkan sisi keanggunannya?

 Kau selalu diam kekasihku,
jadi kutebak saja, mungkin karena ia tidak suka aku mencuri-curi pandang padanya sambil menaruh harapan pada lembar bentang gelap malam. Harapan bahwa aku di sini sendiri tanpamu tidaklah begitu menyakitkan. Dan dia merasa aku memandanginya hanya agar bisa menikmati cahayanya sebagai sekedar pengisi sebuah jeda mimpi sebelum lembaran hari esok mulai terbuka kembali ke alam nyata. Huh… kurasa dia merasa tersisih dan merasa  direndahkan.

Kau tahu kekasih hatiku, kenapa bulan malam ini lebih suka menyembunyikan ronanya ke balik lembaran awan dari pada bersikukuh menampilkan sisi keanggunannya?

 Karena kau masih saja diam kekasihku,
jadi kutebak saja sekali lagi, mungkin juga karena ia tidak suka aku mencuri-curi pandang padanya demi keinginanku yang terlalu berhasrat untuk menyalakan lilin-lilin masa lampau. Lilin-lilin yang selalu bersimbah tarian-tarian api kecil dari rasa rindu yang menggeliat-geliatkan cahaya kuningnya saat terpaan angin lembut datang menyapa. Angin itulah yang dulu selalu meluruhkan rambut ke keningmu, lalu membuat hatiku tersentuh untuk mengurainya dari alis matamu lalu mengatakan cinta walau hanya di dalam batin. Dan bulan itu tahu, aku memandanginya sendiri begini tak jauh dari makna mengelabui diriku sendiri, bahwa semua ini hanyalah tindakan sementara saat menunggu kau dari perjalanan senyapmu untuk kembali menemaniku berdiri di sini. Lalu seperti dulu-dulu, ketika kita telah bersama kembali, kita berdua akan melepas pandang jauh ke alam raya langit gulita sana sambil mempergunjingkan cahayanya yang bergelombang yang dipantulkannya ke kali kecil yang membelah tengah kota Jogja atau mempergunjingkan cahayanya yang bergelombang ketika terpantul di sebuah sungai hitam di Riau sana.

Kau tahu kekasihku, kenapa malam ini bulan lebih suka menyembunyikan ronanya ke balik awan ketimbang menyalakan semerbak binar cahaya indahnya ke dalam redup mataku  yang selalu kagum akan ketegaran teguh cahaya kesendirianannya?

Baiklah, karena kau masih saja membekukan diammu di ujung langit sana,
kucoba tebak untuk kali terakhir : mungkin karena ia merasa hina dianggap sebagai benda yang mengagumkan sementara kesepian lebih tegas mencengkramkan kuku-kuku tajam ke dalam jiwanya di banding ke dalam jiwaku.  Dia yang merasa begitu, sedang aku sebaliknya. Aku lebih yakin pada diriku tentang hal itu daripada redup cahayanya yang terselubung oleh awan kelabu di kubah langit kelam sana.

Hari ini aku tiba-tiba benci pada bulan itu…
Dia menghempas rinduku ke rumput biru dengan tiba-tiba dia menepis seluruh awan-awan kelabu yang menyaput dirinya sambil bersuara lantang menantang bola mataku : “Terbanglah padaku, kekasihmu sedang membentang rindu di dalam cahaya gemerlapku…!”

; Bumi benderang, tapi hatiku senyap!
(PiS, 01.05.12 “Melukis Langit Malam”)
Sumber : www.maryati.net

Top Rated