Malam itu

Malam mengintaikan bulan padaku
tapi mengubur bintang-bintang demi dirimu

(IvanS 2013)

Advertisements

Elegi Februari

September yang selalu teringat
tak terlupakan, saat cinta menabur tambur
suaranya mengakar dalam basuhan kemelut bertubi

Namun Februari yang ingin kutepis
selalu menang ke atas batinku,
tak terhanyutkan hujan tak terlekangkan panas

Februari selalu hadir mengalirkan kenangan,
Melahirkan elegi panjang saat kau mengepak sayap abadimu
Meninggalkan simponi yang tak jadi selamanya

Uban Putih

Dulu kukira aku akan sempat
menikmati uban putihmu, berkilau-oranye-kuning-kemerahan
diterpa mentari sore saat kita duduk-duduk memaknai
hitungan debur demi debur ombak

Akan kularang kau mengecatnya
karena mahkot putih itu simbol cantik dalam saput bijak

Dulu kukira matahari senja atau matahari pagi sempat berkilau
di rambut putihmu
Dimana saat kita memandangnya akan ku buat kau tertawa
dalam kekanakanku yang tak hilang-hilang
ditengah arungan usia senja, seperti pernah kuperjanjikan padamu

Dulu kukira kau takkan meninggalkanku
sebelum senjaku berlalu, maka kubilang pada diriku :
“Alangkah lama malamku menjelang langitku”

Daun Hijau Menggapai Senja

Sebaiknya aku bersiap-siap pulang, senja dan awan hitam mulai menelan kehijauan.

Di antara gulungan-gulungan kapas hitam itu, sesekali kilatan cahaya terlihat menyambar-nyambar menunjukkan geraknya yang maha cepat.

Begitu juga dengan suara menggelegar dari balik angkasa, mencoba menakuti makhluk-makhluk yang masih belum beranjak dari  bawah kehijauan.

Ya, sebaiknya aku pulang!

Dari Kumpulan catatan harian : “Dibawah Daun-daun Hijau”

Daun Hijau dan Matahari Yang Mulai Tenggelam (1)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam

Aku bisa melihat matahari berkaca di danau kecil yang pinggirnya ditumbuhi ilalang-ilalang hijau. Sekumpulan ilalang itu mulai menidurkan semangat ekspansinya, lemah seperti pasrah. Ya…, matahari punya kekuasaan untuk membuatnya tetap hijau atau menenggelamkan pigmennya menjadi kuning bahkan coklat meranggas.

Kali ini yang akan kukatakan bukanlah faktanya, hanya kelihatannya saja, bahwa warna seluruh daun-daun tampak mulai memudar menjadi hitam, meski mereka sebetulnya masih menggenggam warna hijau dalam jiwanya.

Andai aku masih punya kamera semi prof, tentu gradasi dari hijau ke hitam itu bisa kutangkap meski aku bukanlah fotographer.

Begitu juga cahaya matahari itu, harusnya indah bagai binar seorang bidadari yang pernah kukenal. Mungkin kau ingin juga mengenalnya bukan? Hmmm… gampang saja tatap saja selalu matahari yang baru terbit dan matahari yang mulai tenggelam, open your mind, maka di sana akan kau lihat mata bidadari yang akan memberimu semangat bekerja dan mata bidadari yang akan meninabobokkanmu dalam mimpi dan kerinduan.

 

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (2)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (2)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (4)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (4)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (5)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (5)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (6)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (6)

 

Daun Hijau dan Mari Makan Mie (1)

Daun Hijau dan mari makan mie

Tak banyak kegembiraan yang bisa kami dapatkan dibanding apa yang didapatkan oleh orang-orang kota di metropolitan sana. Tapi yang sedikit itu kadang sudah lebih daripada cukup daripada tidak ada sama sekali.

Tak ada listrik, tak ada mesin cuci, tak ada televisi, tak ada playstation atau barang-barang sejenisnya. Di kota barang-barang itu sudah termasuk kategori barang biasa. Tapi jangan tanya di sini, benda-benda itu kadang sering mampir hanya dalam mimpi saja.

Tapi hari ini kawan, mie yang kami masak dengan kayu bakar dan kuali hitam, ternyata mampu mengundang canda gurau dan tawa. Sementara itu, biarlah dulu anak-anak itu serius menikmati mienya.

“Nyam…. nyam… nyam…”, kata anak-anak
“Huah… ha… ha… ha…”, kata kami, demi melihat tingkah aneh mereka saat salah seorang dari kami diam-diam menggelitik kuping anak-anak itu dengan daun sawit hijau dari belakang pintu.

Dari Kumpulan Catatan Harian : “Dibawah Daun-daun Hijau”

Daun Hijau dan Dapur Orang Manda (1)

Daun hijau dan dapur orang mandaDaun hijau dan dapur orang manda

Seperti di atas itulah kondisi dapur orang manda. Di perkebunan kelapa sawit, “manda” ini biasanya diartikan sebagai tinggal sementara atau beberapa hari di sebuah perkebunan untuk menyelesaikan pekerjaan borongan di perkebunan tersebut. Beras, cabe, bawang dan lauk berupa ikan asin di beli di pasar lalu di bawa kelahan. Sayur bisa diambil dari daun-daunan hijau yang ada dilahan, atau minta dari tetangga lahan. Kalau ada waktu ikan juga bisa ditangkap di sungai kecil atau biasa disebut kanal.

Pekerjaan untuk manda ini antara lain adalah

  • menyemprot gulma, untuk yang luasnya puluhan hektar, biasanya memerlukan waktu yang agak lama. Yang pernah saya tahu untuk 2o hektar dengan tenaga 2 orang selesai satu minggu dengan bayaran per hektar 800 ribu rupiah.
  • memiringi
  • membuat jalan (pasar)
  • menunas, membuang pelepah/daun yang sudah tua, kuning atau membusuk agar pohon menjadi sehat dan tidak kelihatan meranggas. Lahan yang sudah selesai ditunas biasanya tampak hijau dan memberi semangat.

Aku mengenal beberapa teman yang dari dulu pekerjaannya adalah borongan, dia biasanya manda dari suatu tempat ke tempat lain, bahkan antar kota. Jika sedang tidak ada pekerjaan, mereka biasanya pulang kampung. Menunggu panggilan sms dari teman-temannya yang sudah menetap atau bayar bulanan.

Setelah pekerjaan borongan selesai baru mereka mendapat bayaran lalu pulang untuk menunggu job berikutnya.

Ngomong-ngomong perutku sudah keroncongan, temankupun sudah selesai masak, ada yang mau ikut makan hasil dari operasi dapur ini?!
Mari… mari… :)

Panen Yang Mendebarkan di Sisi Harga Buah Sawit yang Naik Terus

Catatan Harian 04 Desember 2013

Harga tandan buah segar (TBS) Sawit menunjukkan trend naik terus. Hari inipun begitu. Buah hasil panen hari ini dihargai Rp. 1640 /Kg.

Selama panen tiga hari ini badan rasanya cukup letih. Hujan deras, jalan-jalan mulai rusak, semakin hari semakin parah, becek, licin karena tergerus derasnya air dari atas bukit.

Beberapa pemanen sudah ada yang mulai demam dan batuk. Satu dua orang yang diundang untuk manen ada yang istirahat sementara hingga badan pulih kembali.

Panen hari ini tantangan cukup mendebarkan juga. Jalan cukup licin, mobil tidak bisa mendaki, meskipun gardan 2 sudah dipasang. Ban belakang selalu terselip ke arah bibir jurang. Setelah mencoba dua tiga kali, akhirnya saya memutuskan untuk mencari batu-batuan. Daripada harus menjalani resiko yang berat.

Batu-batu di serak di tempat-tempat licin. Voilaaaa…, mobil bisa mendaki dengan tenang. Hari ini panenpun bisa kami selesaikan tanpa ada insiden berarti selain daripada detak jantung dag dig dug plas….

Dan RAM langgananku ini cukup berbaik hati untuk tidak mengurangi persen pada buah yang agak basah kena gerimis. Perkilo dihargai Rp. 1640.

Sampai jumpa di cerita panen berikutnya. Malam… :)

Pikiran-pikiranmu Bebas, tapi Tak Boleh Mengganggu Pikiran-pikiranku

Catatan Harian 04 Desember 2013 – Kanker dan aku yang sedang berada di bawah daun-daun hijau

Pikiran-pikiranmu bebas, tapi tak boleh mengganggu pikiran-pikiranku. Mungkin terkesan sinis aku mengatakannya padamu. Tapi kau harus kuberitahu, mungkin menjelang usiaku yang tua begini, tak banyak lagi yang kuharapkan selain menerima apapun yang kudapatkan, tidak lagi mengharapkan kesenangan-kesenangan duniawi, lampu-lampu gemerlap metropolitan, rokok bermerek, bermain-main di tempat rekreasi, baju bagus, refreshing pantai, mancing, minum-minum (Jangan masukkan teh hangat atau secangkir kopi tentunya), shopping dsb. Kalaupun semua itu terpaksa kulakukan, itu demi kau,  bukan demi aku. Meski aku tak akan pernah menilai dirimu minus hanya karena itu.

Kau juga harus kuberitahu, sudah lama aku belajar untuk menerima bahwa bekerja harus kuanggap sebagai sebuah kesenangan, sebagai sebuah hobi, atau sebagai sebuah pengganti gemerlap-gemerlap yang sering menarik laron-laron hingga terjebak di balik kaca.

Maka itu kukatakan : “Pikiran-pikiranmu bebas, boleh kau ungkapkan kepadaku, namun kau jangan memaksa agar hal itu bisa mengganggu pikiran-pikiranku dan bersifat memaksa hanya karena aku skeptis akan hal itu. Karena untuk yang tidak kusuka aku berusaha untuk tidak marah, dan tidak suka balik memaksa, tetapi aku akan lebih suka memilih untuk pergi menyendiri berlinang ke dalam pekerjaan-pekerjaanku.”

Ah… kau, janganlah menghujatku. Percuma! Telingaku hanya terbuka pada suara-suara yang lagi susah, yang lagi sakit dan butuh nasehat kecil tentang sebuah kata kunci “Kanker”

Kau mungkin tidak akan takut dengan kata “kanker” itu, kau boleh saja berseloroh tentangnya sebagai sebuah kantong kering atau anekdot lainnya hingga kau kelak menghadapinya karena ia bernaung di dalam dirimu, dalam diri orang yang kau kasihi, dalam diri saudaramu atau dalam diri teman yang kau sayangi. Jika kau terpaku karenanya dan merasa berdenging di dengkulmu karena tak kuat menahan kekhawatiran, boleh-boleh saja kau berbicara dari hati ke  hati padaku, itupun kalau kau mau dan merasa belum ada yang lainnya yang lebih baik.

Untuk yang pertama, kau boleh mengajakku tertawa sembari aku tetap bekerja di bawah daun-daun hijau kelapa sawitku tanpa harus berhenti dan tanpa harus melap keringat. Namun untuk yang kedua, aku akan berhenti bekerja, sedaya upaya akan mencoba menenangkan diriku lalu menenangkan dirimu, mengingat apa yang pernah kupelajari dan kualami selama beberapa tahun tentang kanker sialan itu. Lalu mencoba memetik hikmah yang perlu dan berbagi kalau kau mau menerimanya. Kau boleh memilah, memakai yang kau perlu dan membuang yang kau tak suka. Mungkin kau akan bertanya dan aku berusaha menjawab. Mungkin pengetahuanku tentang itu masihlah cetek dibanding dokter-dokter ahli. Tentu saja itu benar, tapi aku memiliki waktu yang berlebih dibanding mereka, dan aku tak harus mengingat jarum jam atau memutar tombol-tombol waktu sejak pertama kali kita bicara tentang penyakit sialan itu lalu mengeluarkan billing. Tidak! Ini kulakukan karena akupun pernah sedikit terdamaikan oleh orang yang tidak kukenal waktu penyakit itu ada didepan mataku selama bertahun-tahun. Dia memberiku nasihat yang tidak kalah mahalnya dibanding yang diberikan oleh dokter walaupun hanya lewat sms dan hanya lewat dunia maya belaka. Waktu itu sudah kusadari bahwa pengetahuan dia tentang penyakit kanker itu sangatlah jauh dibanding dengan apa yang menjadi harapanku atas sejumlah pertanyaan yang bergayut di hati. Tapi kedamaian dan pengharapan tetaplah terkandung dalam kalimatnya dan itu hingga kini belumlah mampu kubayar dengan apapun selain daripada mencoba berbuat seperti yang pernah dilakukannya padaku.

Daun Hijau Menggapai Awan Putih dan Langit Biru

Daun hijau menggapai awan putih dan langit biru

Jari-jemari itu, hijau, menggapai kubah biru berselimut putih. Ia ingin sekali bersalaman dengan titik redup yang tinggi jauh di atas sana, yang menyimpan semangat dan sari kehidupan dalam siklus yang selalu bergantian. Tidak seperti hujan dan kemarau, ia akan tetap selalu hadir kedalam musim apapun, meski kadang suram oleh asap buatan manusia atau oleh kabut ciptaan Tuhan. Sesekali ia bersembunyi tapi tetap mempersembahkan energi agar kehidupan senantiasa tetap berjalan pada titian waktu sebagai jembatan karunia.

Saat kutatap tinggi-tinggi, aku mendengar bisikan suara hatiku dengan seksama, “Kekasihku, apakah kau di Sana?” Tentu saja itu ungkapan rindu yang datang dengan tidak kusadari.

“Kenapa mesti  mengelak?” demikian kata perasaanku.

Dan saat pikiran-pikiran logika datang bahwa “bekerja lebih baik daripada menimang masa lalu yang tak bermanfaat”, datang dan tersiratlah kata di antara hati dan pikiran : “Inilah seni, inilah kehidupan, kau boleh memilih menikmati gemerlap bintang-bintang malam dan purnamanya dengan suka cita atau dengan perih hati. Kau bisa menikmati kelabu senja dengan senyum atau sejumlah kerut menguasai keningmu. Kau bisa memilih menjadikan rasa rindumu menjadi tikaman atau menjadi balutan lembut di ulu hatimu. Jadi kenapa mesti kau tepis, kalau puncak rasa rindumu bisa kau jadikan sebagai simbol bahwa ada Kekuasaan yang maha tinggi yang bisa menyatukan dan memisahkanmu dengan orang yang kau sayangi atau dengan siapapun. Dan kaupun telah melihat, bahwa rasa rindumu dalam tatanan indah telah membuat ia hadir di antara langit biru, awan putih sebagai matahari yang redup bercahaya namun tersirat binar terang dalam jiwanya yang akan membantu menerangi jalanmu, menolong tangan-tangan hijaumu saat menggapai indahnya redup mentari di langit biru berawan putih. Suat saat, kau akan memetik buahnya!”

“Ya, akan kupilih kata diantara hati dan pikiranku!”

Dari kumpulan catatan “Di Bawah Daun-daun Hijau”

Daun hijau menggapai awan putih dan langit biru
Daun hijau menggapai awan putih dan langit biru

Daun Hijau dan mari makan mie

Tak banyak kegembiraan yang bisa kami dapatkan dibanding apa yang didapatkan oleh orang-orang kota di metropolitan sana. Tapi yang sedikit itu kadang sudah lebih daripada cukup daripada tidak ada sama sekali.

Tak ada listrik, tak ada mesin cuci, tak ada televisi, tak ada playstation atau barang-barang sejenisnya. Di kota barang-barang itu sudah termasuk kategori barang biasa. Tapi jangan tanya di sini, benda-benda itu kadang sering mampir hanya dalam mimpi saja.

Tapi hari ini kawan, mie yang kami masak dengan kayu bakar dan kuali hitam, ternyata mampu mengundang canda gurau dan tawa. Sementara itu, biarlah dulu anak-anak itu serius menikmati mienya.

“Nyam…. nyam… nyam…”, kata anak-anak
“Huah… ha… ha… ha…”, kata kami, demi melihat tingkah aneh mereka saat salah seorang dari kami diam-diam menggelitik kuping anak-anak itu dengan daun sawit hijau dari belakang pintu.

Menangkap Daun Hijau di Dalam Jurang (1)

Daun hijau dalam jurang

Menangkap sebuah gambar dari alam yang indah sesuai dengan keinginan hati agar kekaguman yang menyelimuti diriku bisa kubagi tanpa harus berkata-kata tidaklah sulit bagi seorang fotografer yang profesional, tapi bagiku hal itu seperti melawan arus sungai dengan tujuan cepat-cepat menggapai hulu.

Meski demikian, aku tak mau membungkam keinginan berbagiku walau jelas tak menemui makna sempurna. Jadi kucoba meng-klik beberapa bagian dari pemandangan ini dengan sedikit harapan agar teman-teman yang terlanjur masuk kehalaman ini merasakan gemuruh kagum yang tersirat di seluruh nadiku atas kebesaran dan kemahakuasaan pencipta.

Memang sungguh sayang, kini aku tak lagi memiliki kamera semipro-ku. Tapi segala yang kudapat, meski kecil, taklah membuatku menggerutu hingga melemparkan nilai diri atau merendahkan nilai diri hingga jatuh kepada keserakahan dan ketidak sabaran. Kupikir aku masih bisa mencoba berbagi kekaguman yang menyelimuti hati dan pikiranku ini walau dengan mengabadikan foto daerah ini memakai kamera pocket dan kamera handphone. Dan engkau yang berjiwa seni, mungkin bisa mengimajinasikannya melalui hal-hal serupa yang pernah kau lihat, menutupkan kedua bola mata dan membayangkan seperti apa yang kulihat ini.

Sobat! Ngarai ini menurutku tidak kalah indahnya dengan ngarai atau jurang yang ada di Kaliurang, tempat aku biasa menumpahkan rasa rindu dan membungkam rasa sepi saat masih tinggal di Yogyakarta. Tidak ada wisatawan yang mau datang kesini, terkecuali orang-orang luar yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan orang-orang yang tinggal di sini.

Bisa kukatakan kondisi tanaman di sini mirip dengan kondisi tanaman yang di Kaliurang, hanya ada sedikit pohon hijau, yang rimbun adalah rumput-rumput liar, sejenis gulma atau pakis berdaun hijau.

Dan bila kekaguman itu ada pada dirimu, seperti yang ada pada diriku, kurasa saat itulah perasaan  kita berjalan menuju titik yang sama. Keagungan Sang Pencipta.

Dari kumpulan Catatan Harian “PiS”

Daun hijau dalam jurang
Daun hijau dalam jurang

Daun Hijau dan lembah
Daun Hijau dan lembah

Daun Hijau dan ngarai (2)
Daun Hijau dan ngarai (2)

Bulan di Atas Daun-daun Hijau

Daun Hijau dan Malam (1)

Hari ini rasanya malam terlalu cepat datang. Ia mengejar terang secepat  elang mengejar ayam. Senja ditelannya bulat-bulat dalam  hitungan waktu yang tak kami sadari. Gelap!!! Tapi kami masih di ladang sawit menyelesaikan kerja panen dari buah yang seolah ada dan selalu ada.  Tapi mengeluh bukanlah hal yang patut pada bagian letih yang ini. Karena letih yang ini adalah refleksi dari rejeki yang harusnya disyukuri. Harus di syukuri meski tulang serasa putus pada belikat, meski keringat bagai tiris hujan meninggalkan kulit, dan meski tanah-tanah landai  naik-turun menyerap tenaga seperti terik  menguapkan air. Hmmm… sudahlah…! Inilah bagian dari doa yang dikabulkan.

Dan lihat…! Masih ada beberapa ton tandan buah sawit yang harus kami antar ke  RAM. Brondolan sawit juga masih banyak berserangkan, kontras dalam warna oranye-nya di antara helai-helai rumput hijau. Tak lelap oleh hitam malam. Tetap spesifik menampakkan dirinya bahwa meski kecil ia ada bersama yang lainnya. Brondolan oranye itu harus kami kumpulkan meski  badan rasanya telah mencapai keletihan yang sempurna.

Dan “Hai… hai…  hai…, lihat!” bulan memberi semangat, mengirimkan cahaya di antara daun-daun sawit hijau yang tampak kelihatan hitam karena malam. Cahayanya cukup terang untuk menembus pelepah-pelepah. Sinar yang ternyata  cukup tajam untuk menggodam semangat kami. Mengirimkan sinyal spirit dan memantulkan suatu kekuatan agar tangan tetap berayun dan agar kaki tetap berlangkah. Ayo…!

Daun hijau dan malam (2)

Daun Hijau dan Malam (4)

Dari kumpulan catatan Harian : “Bulan di Atas Daun-daun Hijau”

isi test tampilkan gbr

yuuy tggy

Daun Hijau 2

Jiwaku berlari merentang belukar hutan
melayang melewati pohon-pohon
menyatu pada rambah gemuruh angin.
Lebur tanpa batas.

Hatiku berlari di antara pohon-pohon,
membawa gapai gemuruh perasaan yang ingin terbang mengangkasa lalu lenyap tanpa suara

Begitulah aku mencari-cari jejakmu di sini
Saat aku letih kupaku kakiku ke dermaga kecil
dan menemukanmu mengalir pada selembar daun hijau
yang mengapung di atas sungai hitam

(PiS)

Previous Older Entries

Top Rated