Daun Hijau Menggapai Awan Putih dan Langit Biru

Daun hijau menggapai awan putih dan langit biru

Jari-jemari itu, hijau, menggapai kubah biru berselimut putih. Ia ingin sekali bersalaman dengan titik redup yang tinggi jauh di atas sana, yang menyimpan semangat dan sari kehidupan dalam siklus yang selalu bergantian. Tidak seperti hujan dan kemarau, ia akan tetap selalu hadir kedalam musim apapun, meski kadang suram oleh asap buatan manusia atau oleh kabut ciptaan Tuhan. Sesekali ia bersembunyi tapi tetap mempersembahkan energi agar kehidupan senantiasa tetap berjalan pada titian waktu sebagai jembatan karunia.

Saat kutatap tinggi-tinggi, aku mendengar bisikan suara hatiku dengan seksama, “Kekasihku, apakah kau di Sana?” Tentu saja itu ungkapan rindu yang datang dengan tidak kusadari.

“Kenapa mesti  mengelak?” demikian kata perasaanku.

Dan saat pikiran-pikiran logika datang bahwa “bekerja lebih baik daripada menimang masa lalu yang tak bermanfaat”, datang dan tersiratlah kata di antara hati dan pikiran : “Inilah seni, inilah kehidupan, kau boleh memilih menikmati gemerlap bintang-bintang malam dan purnamanya dengan suka cita atau dengan perih hati. Kau bisa menikmati kelabu senja dengan senyum atau sejumlah kerut menguasai keningmu. Kau bisa memilih menjadikan rasa rindumu menjadi tikaman atau menjadi balutan lembut di ulu hatimu. Jadi kenapa mesti kau tepis, kalau puncak rasa rindumu bisa kau jadikan sebagai simbol bahwa ada Kekuasaan yang maha tinggi yang bisa menyatukan dan memisahkanmu dengan orang yang kau sayangi atau dengan siapapun. Dan kaupun telah melihat, bahwa rasa rindumu dalam tatanan indah telah membuat ia hadir di antara langit biru, awan putih sebagai matahari yang redup bercahaya namun tersirat binar terang dalam jiwanya yang akan membantu menerangi jalanmu, menolong tangan-tangan hijaumu saat menggapai indahnya redup mentari di langit biru berawan putih. Suat saat, kau akan memetik buahnya!”

“Ya, akan kupilih kata diantara hati dan pikiranku!”

Dari kumpulan catatan “Di Bawah Daun-daun Hijau”

Daun hijau menggapai awan putih dan langit biru
Daun hijau menggapai awan putih dan langit biru

Menangkap Daun Hijau di Dalam Jurang (1)

Daun hijau dalam jurang

Menangkap sebuah gambar dari alam yang indah sesuai dengan keinginan hati agar kekaguman yang menyelimuti diriku bisa kubagi tanpa harus berkata-kata tidaklah sulit bagi seorang fotografer yang profesional, tapi bagiku hal itu seperti melawan arus sungai dengan tujuan cepat-cepat menggapai hulu.

Meski demikian, aku tak mau membungkam keinginan berbagiku walau jelas tak menemui makna sempurna. Jadi kucoba meng-klik beberapa bagian dari pemandangan ini dengan sedikit harapan agar teman-teman yang terlanjur masuk kehalaman ini merasakan gemuruh kagum yang tersirat di seluruh nadiku atas kebesaran dan kemahakuasaan pencipta.

Memang sungguh sayang, kini aku tak lagi memiliki kamera semipro-ku. Tapi segala yang kudapat, meski kecil, taklah membuatku menggerutu hingga melemparkan nilai diri atau merendahkan nilai diri hingga jatuh kepada keserakahan dan ketidak sabaran. Kupikir aku masih bisa mencoba berbagi kekaguman yang menyelimuti hati dan pikiranku ini walau dengan mengabadikan foto daerah ini memakai kamera pocket dan kamera handphone. Dan engkau yang berjiwa seni, mungkin bisa mengimajinasikannya melalui hal-hal serupa yang pernah kau lihat, menutupkan kedua bola mata dan membayangkan seperti apa yang kulihat ini.

Sobat! Ngarai ini menurutku tidak kalah indahnya dengan ngarai atau jurang yang ada di Kaliurang, tempat aku biasa menumpahkan rasa rindu dan membungkam rasa sepi saat masih tinggal di Yogyakarta. Tidak ada wisatawan yang mau datang kesini, terkecuali orang-orang luar yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan orang-orang yang tinggal di sini.

Bisa kukatakan kondisi tanaman di sini mirip dengan kondisi tanaman yang di Kaliurang, hanya ada sedikit pohon hijau, yang rimbun adalah rumput-rumput liar, sejenis gulma atau pakis berdaun hijau.

Dan bila kekaguman itu ada pada dirimu, seperti yang ada pada diriku, kurasa saat itulah perasaan  kita berjalan menuju titik yang sama. Keagungan Sang Pencipta.

Dari kumpulan Catatan Harian “PiS”

Daun hijau dalam jurang
Daun hijau dalam jurang

Daun Hijau dan lembah
Daun Hijau dan lembah

Daun Hijau dan ngarai (2)
Daun Hijau dan ngarai (2)

Bulan di Atas Daun-daun Hijau

Daun Hijau dan Malam (1)

Hari ini rasanya malam terlalu cepat datang. Ia mengejar terang secepat  elang mengejar ayam. Senja ditelannya bulat-bulat dalam  hitungan waktu yang tak kami sadari. Gelap!!! Tapi kami masih di ladang sawit menyelesaikan kerja panen dari buah yang seolah ada dan selalu ada.  Tapi mengeluh bukanlah hal yang patut pada bagian letih yang ini. Karena letih yang ini adalah refleksi dari rejeki yang harusnya disyukuri. Harus di syukuri meski tulang serasa putus pada belikat, meski keringat bagai tiris hujan meninggalkan kulit, dan meski tanah-tanah landai  naik-turun menyerap tenaga seperti terik  menguapkan air. Hmmm… sudahlah…! Inilah bagian dari doa yang dikabulkan.

Dan lihat…! Masih ada beberapa ton tandan buah sawit yang harus kami antar ke  RAM. Brondolan sawit juga masih banyak berserangkan, kontras dalam warna oranye-nya di antara helai-helai rumput hijau. Tak lelap oleh hitam malam. Tetap spesifik menampakkan dirinya bahwa meski kecil ia ada bersama yang lainnya. Brondolan oranye itu harus kami kumpulkan meski  badan rasanya telah mencapai keletihan yang sempurna.

Dan “Hai… hai…  hai…, lihat!” bulan memberi semangat, mengirimkan cahaya di antara daun-daun sawit hijau yang tampak kelihatan hitam karena malam. Cahayanya cukup terang untuk menembus pelepah-pelepah. Sinar yang ternyata  cukup tajam untuk menggodam semangat kami. Mengirimkan sinyal spirit dan memantulkan suatu kekuatan agar tangan tetap berayun dan agar kaki tetap berlangkah. Ayo…!

Daun hijau dan malam (2)

Daun Hijau dan Malam (4)

Dari kumpulan catatan Harian : “Bulan di Atas Daun-daun Hijau”

Surat Maya untuk Maryati

Surat Maya Untuk Maryati

Mar..,
Kau tahu, kemanapun aku pergi, mungkin rasanya akan sama saja. Jadi kusingkirkan saja pikiran terhadap angan tentang pemilihan suatu tempat atau berkelana ke tempat demi tempat-tempat lain, lalu  membayangkan aliran nafas kehidupanku yang mencoba berdiri sambil melepaskan  cengkraman akar-akar rasa rindu padamu di sana bergulir dengan lancar.

Kurasa aku tak perlu membanding-bandingkan suatu tempat dengan tempat lain, lalu bermimpi menemukan tiang di suatu tempat untuk menambatkan hatiku karena  siapa tahu di tempat itu kutemukan ketenangan jiwa yang lama kucari walau tanpamu.

Ah… kurasa takkan ada tempat seperti itu! Jadi.., biarkanlah dulu sementara ini aku di sini, mencoba menguburkan lukisan jiwaku yang berisi gambaran-gambaran dari perasaan hingar-bingar yang berkejaran dan berlarian tanpa arah, lukisan  yang selalu berlomba menampilkan ribuan warna tentangmu, namamu, raut wajahmu, senyummu dan seluruh kemilau kenangan tentangmu.

Harus kuterima saja guratan lukisan-lukisan itu dengan menyiapkan sebuah kanvas seluas-luasnya di hamparan sisa waktu dan pikiranku. Karena tak ada lagi yang bisa kulakukan selain membiarkannya  saja mengalir ke dalamnya bersama arus sungai di depanku ini, entah kemanapun semua itu kelak akan bermuara.

Perasaan…! Rindu! Sungguh kau tak terkuburkan di tempat manapun di muka bumi ini.  Tempat yang ditunjuk orang atau yang kupilih sendiri.

Kini di sini, di siang terik di bawah gemerisik daun yang melambai, saat sayup dan hening menang atas seluruh   redup sudut pandang jiwaku,  kau serasa hadir di sisi kananku. Saat kesunyian merajai kehijauan dan meredam suara arus sungai yang lunglai, saat desau angin  membuai seluruh sendi rasa rindu yang tak habis-habisnya, mungkinkah kau memang berada di sini, di tempat ini? Mungkinkah kau melihatku dan mencoba menentramkanku lewat desau angin?

Hatiku berperang dengan Pikiranku!
Ah…, kurasa kualah yang berbisik di antara helai-helai daun sawit dan  gemericik sungai kecil. Kau merangkulku lembut saat aku mengatup mata, lalu memperdengarkan suara kecil serupa desau di daun telingaku. Bisikmu menyejukkan hatiku saat pelan-pelan kau bilang  : “Segalanya akan baik-baik saja”

Jadi kutuliskan surat mayaku ini padamu sekedar untuk bilang terimakasih.  Dan bila esok menjelang, saat aku kembali singgah di sini, kuundang kau lewat surat ini. Datang, mampir dan bisikilah aku sekali lagi dan sekali lagi, sebagai pertanda bahwa kau juga masih memiliki rasa rindu padaku yang dulu kau janjikan tidak akan pernah pudar. Lubuk hatiku akan menuliskan lagi surat-surat maya lainnya sebagai pertanda bahwa seluruh jiwa ragaku masih utuh menyimpan rasa rindu sempurna yang hanya untukmu, meski di tempat manapun aku berada dan menghela nafas kehidupan. Karena sungguh, aku masih menyayangimu. Sungguh!

Riau, 20 Agustus 2012

(Pis)

Draft dari http://www.maryati.net

Melankolia dan sepotong doa

Kutinggalkan kotamu dalam tikaman melankolis-melankolis
jemari kenangan terus saja deras mematahkan niat
menyobek dada lalu menarik jantung harapanku ke luar
menghentakku agar pasrah diam – buta mematung
“Jangan pergi!!” Kata kepal tanganku geram memukul dada
Tapi kaki batuku terus saja meruah langkah

Akhirnya….!
nafas pesawat melepas kotamu : Yogya…!!
tubuhku merapuh, terapung menuju awan-awan putih
awan tempat dulu mata kita berpadu dalam kasih
aku termati dalam bola mata beliak
ngilu tergetar menyerbu sumsum belulang
mengalir denyut dalam remuk sendi

terlayang habis jiwa di atas lekuk sungai
lalu rohku meliuk bersama ularan jalan di bawah sana
Hatiku masygulku tertinggal,
terpatri di hamparan hijau sawah
tempat dulu kita menabur bulir cinta
di antara titian, jalan setapak, debu-debu
batu-batu, rerumputan Godean
dan bibit padi yang baru disemai

Oh…, tidurmu
telah melekat di sumsumku
meruntuhkan segala harapan dan keinginan
membuat mimpiku meleleh di antara dingin ac
dan gemulai pramugari cantik yang tak menarik sama sekali

Selamat tinggal kotaku!
Selamat tinggal labuhan jiwaku!
Selamat tinggal tidur abadimu!
Ada sepotong doaku mengikatkanku padamu
penuh oleh rumbai-rumbai melankolis.

(PiS, Di dalam Air Plane, 27 Juli 2012)

Melankolia : keadaan psikologi yang ditandai oleh keadaan depresi dan ketidak aktifan fisik
Melankolis : dalam keadaan pembawaan fisik yang lamban, pendiam, murung dan sayu; sifat mudah larut dalam kesedihan
Meruah : melimpah

Pecel kembang Turi (2)

Pecel Kembang Nasi Turi bersama senyum dan tawamu

Kali ini mimpi menenggelamkanku :
“Di sepiring pecel kembang Turi,
jari-jemari hutan pinus,
dan  tumpukan bayangmu yang tak berkesudahan.”

Aku meranggas karena rindu

(Riau, Jam 04.50 Pagi, 23-08-12, “Memorial Pecel Kembang Turi”)

Sebuah Tempat Untukku

Tentu ada sebuah tempat buatku, dimana aku bisa bekerja keras menghabiskan sisa waktuku dan sisa-sisa tenagaku demi melewati lembar hari demi lembar hariku dan mengurainya menjadi sesuatu yang berarti meski hanya setitik.

Sebuah tempat untukku buat bekerja dan merenung arti kehidupan, jauh dari kebohongan-kebohongan, jauh dari intrik-intrik, jauh dari keinginan-keinginan tersembunyi selain daripada apa adanya dan keikhlasan. Sebuah tempat sederhana dimana aku bertemu orang-orang sederhana tanpa mengenakan topeng dan senyum misteri.

Di tempat itu pasti aku bisa leluasa menulis atau menuangkan perasaanku tentangmu, berbual-bual dengan bayangmu, mengeja arti dan makna kehidupan ini sambil berusaha tetap menjaga hatiku agar menjadi baik dan apa adanya.

Kau pasti mengerti dan memahami perasaanku, karena orang-orang yang dulu kukira sangat baik, malaikat-malaikat yang bertaburan dengan kalimat-kalimat tentang keimanan, ternyata mereka  hanyalah orang-orang yang memendam keinginan-keinginan tersembunyi yang sulit kupahami.

Tuhan kabulkanlah keinginanku, dan jadikan aku setidaknya sebagai sebutir debu yang sedikit berarti buat gurun kehidupan ini.

KEBOHONGAN

Tuhanku, jauhkan aku dari fikiran  : “Apa gunanya berkata jujur jika pada kenyataanya kebohongan ada di mana-mana.”

 

Love is God’s Gift

Love is God's most beautiful Gift and God's most mystery Gift
Love Is God’s most beautiful Gift and God’s most mystery Gift (PiS, 13.07.12, Foto Jalan Godean)

Masygul

Masygul Di atas Kereta Api

Masygul Di atas Kereta Api

Dari atas gerbong kereta api yang dingin

Kubaca kau di lambaian daun-daunan
yang bertahan hidup meski akarnya meranggas

Kubisik namamu ke langit kemarau,
menatah hujan yang lama tak tiris-tiris

Wajahmu mengalir samar di alur sungai-sungai
yang berliku dan  berujung entah ke mana

Senyummu megah di lereng gunung-gunung
yang menjulang tinggi mengukir kenangmu

Kutangkap larimu yang timbul-tenggelam
berlarian bersama batang-batang pohon

Saat angin diam-diam menyela rambut pelipisku
kusimak desir suara semerbak hela nafasmu

Kekasihku, kemana lagi kaki harus kusentak!?
agar terlupa untaian tangis dan tawamu…
Sungguh! Hatiku  masygul…!!

PiS (PiS, 11.07.12 “Di gerbong KA yang senyap”)

Telah Letih

Telah letih hatiku
Merajut hari tanpamu
berjalan di benang waktu
kusut dalam jemari rindu

Telah letih hatiku
Menguntai mosaik kenangmu
terhambur tindih-menindih
merepih sepi ke langit biru

Aku, sungguh dalam mencintaimu
Aku, sungguh luas merinduimu
Menepilah sekejap di sisi mimpiku…
agar langkah letihku rehat
menghampiri tidurmu…

(PiS, 10.07.12 “Rehat”)

Di Stasiun Tugu

Di stasiun Tugu,
senja memuai menjadi gelap
Ribuan teriakan melirih menjadi senyap
Hingar-bingar redam dalam kelam
Melipir mataku mencarimu
di antara kerumunan tak berwujud
Di sela-sela rel-rel dingin,
kurus langkahku menjadi kaki tirus
Batu-batu kaku membungkam hati beku
Jiwaku melebam di rajam repihan rindu

: Kusadari,
kau takkan pernah lagi
duduk di situ
menunggu
ku…

(PiS, 26.06.12 “Stasiun Tugu”)

Buah Hatiku (For Divana Putri)

Buah hatiku,
Jangan kau cemas tentang
apa yang kita punya dan
tentang apa yang tidak kita punya
Karena hari ini  kita yang punya.

(PiS, 01.07.12 “Tentang Kita”)

Ziarah Pertama

Gambar

Kata-kata kehilangan suara
taburan bunga kehilangan warna
bulir air mata kehilangan cinta
semua resap ke tanah merah
menggapai jemari kasihmu yang jauh di sana

Dalam diammu, kau gemakan makna :
“Oleh cintaku, untailah terus langkah-langkah
mengarung gelombang liku jalan
dan ombak gelora samudera
sampai titik terakhir
menyekat nafas di rongga paru-parumu”

(PiS, 19.06.12 “Ziarah Pertama” Terimakasih Tuhan atas semua beban berat yang menyiksa karena dengan hanya begitu maka aku bisa mampu sampai ke makam ini)

Di Segelas Kopi Buatanmu

Di segelas kopi buatanmu
ada cinta yang indah ;
pahitnya kehidupan
dan hitamnya derita
renyah terurai
oleh manisnya butiran kasihmu
semua larut
di segelas kopi buatanmu

Aku rindu,
untuk mengapung
di segelas kopi buatanmu

(PiS, 11 Juni 2012 “6.12 AM, Saat-saat Rindu” )

Biduk untuk Kita (For Divana Putri)

Biduk untuk Kita

Biduk untuk Kita

Lekatkan tatapmu  jauh
ke ujung sungai sebelum liku berakhir
Di setiap lekuk sungai
biarkan harapan bergayut
menjuntaikan jiwa pada niat suci

Genggamlah tanganku
di setiap goncangan biduk
mengokohkan tugu hatimu,
teguh mengarung badai

Bila kau tergemetar
karena api marah kayuhku
rebahlah dan menangislah di dadaku
ribuan sayang bergetar di dalamnya
karena di situ
kasih ibumu dan kasihku
selalu utuh menyimpan lembayung
hanya untukmu

(PiS, 07.06.12 “Kukayuh Biduk Untukmu” dari kumpulan “Tempat Berteduh #11))

Biduk dan Bahuku Untukmu

Puisi Untuk Divana

Catatan harian kami berdua untuk mengenangmu

Tak perlu bersedih,
kasih ibumu
utuh tersimpan di hatiku buatmu

Bila nanti kau di sisiku lagi
telah kutambatkan biduk
agar kita kembali bisa berlayar
mengarung liku sungai atau luas samudera

rebahlah dibahuku
maka ombak, desau angin
dan pasang laut
hanyalah nyanyian alam saja
yang dikirim ibumu
buat menghibur hatimu

(PiS, 05.06.2012 “A Song for Divana”)
Miss you bunga kecilku

Luka-luka Laut ku

setangkai puisi untuk Maryati : Luka-luka Lautku

(Revisi Dinihari tadi)

Satu-satu camar hilang
Meninggalkan laut menyimpan birunya
Suara kepak menyibak sayup
memapar lengang mengganti cahaya

Jauh di ufuk,
oranye kemerahan bersimpuh pada rasa rindu
Nun di dasar laut sana,
karang-cadas sembunyi2 menggurat hati
ada tanya gencar menusuk ubun-ubun
: “Ke mana rasa cinta itu berlabuh?“
”Dimana?!”

Ada geligi gemeretak
Menahan sayat mengalir ke jiwa
Ada mata terpejam,
membendung hujan menghujam pasir
Butir bening air itu akhirnya melipir asam
Menyentak pipi ke dalam gemetar
: abad-abad waktu terasa basi

Aku ke sini,
menghujat sisa senja
menanti lahirmu
megah di udara langit dan ufuk
ingin mengusap ombak gelombang rambutmu,
berkilau ke samudera hatiku
: Silhuetmu abadi di sini

Tapi di rongga jantung hingga seluruh nadiku
: laut luka ku
luka laut ku

(PiS 03.05.12 and 04/06/12 “Oranye di Bulan Juni”)

Suatu Tempat Selain di Benteng Vredeburg ini

Andai kau mau membisikkan suatu tempat, ke mana kakiku bisa menapakkan kenyataannya tanpa meninggalkan banyak jejak semu, tentu aku juga bisa menemukan sebuah pintu baru, di mana di dalam ruangnya tak ada lagi kenangan yang harus teringat-ingat.

Andai tempat itu ada, aku tak perlu lagi duduk di sini menimang sejuta kerinduan di antara ribuan cinta yang bertebaran di sini.  Kau lihat pasangan-pasangan itu mereka tak melepas detik ke lautan waktu dengan sia-sia. Mereka menguntai setiap detik ke dalam gema cinta yang seolah tak akan padam. Sementara aku di sini hanya mendulang bayang-bayang ke dalam rona malam.

Sungguh…, aku kehilangan dudukmu di batu ini, Mar…
AKu tak ingin berharap dengan memelas dan meretas hatiku, akan mendatangkan kasihmu dalam bentuk lain apapun. Penantian ini serasa abad-abad yang telah lama punah namun tak bisa lepas dari pelupuk mata yang akan terbuka abadi.

Hanya doa,
Berharap akan menjadi jembatan, meski aku berkubang dalam pengharapan hambar, jembatan di mana masa itu akan datang lalu menjadi tempat di mana aku perlahan meniti agar bisa menyeberang ke negeri di mana aku bisa duduk dengan kau ada di sebelah kiriku.

(PiS, 01.06.12 “Kenangan malam di Benteng Vredeburg”)

Senja Menari di Bukit Bintang

Senja Menari Di Bukit Bintang

Kutahu senja telah telanjang
tertatih berjuang dari terjangan malam
yang gelap hitamnya mengalir
dari puncak bukit hingga ke ujung gang
berbusana hitam dalam kemilau lampu kota
kancing-kancing bintang gemerlap
berkeriap di kubah-kubah langit
menukik ke bumi berkaca ke sungai
mengukir punggung air menisik ke mata
lika-liku jalanan mengukir bumi
bagai ornamen bunga tak jadi
semuanya menjatuhkan hatiku
pada cinta pertama

Kini,
Kubisik pada bayangmu
“dulu cinta kita menari di sini
ketika senja
mulai menjamah Bukit Bintang.
Ingatkah kau?”

Dan,
Dengarkan degupku
Jantungku menari sendiri
Aku.., Sungguh Kehilanganmu..!

(Puisi, tentang 1997 “Bukit Bintang Wonosari”)

“Pecel Kembang Turi 3” (Masih, … …)

(Masih, senyum dan tawa itu masih)
Revisi Catatan 2010 pada Minggu, 20 Mei 2012 di Kaliurang.

Kenangan Pecel Kembang Nasi Turi bersama senyum dan tawamu

Hanya hening yang berkuasa
Kata-kata senyap kehabisan makna
Cerita lucu mengalir kehilangan arah
Tak ada yang mampu
membendung rasa perih di tubuhmu
kecuali keikhlasan hatimu sendiri
segala rayuku hanya penghibur sejenak
pupus oleh risau yang leluasa menggerogoti
lalu menyemaikan duka ke dalam jiwa
mengatupkan lorong harapan ke dalam hampa
Melihatmu…,
sungguh serasa sembilu menyembelih dada
mengirisnya tipis ke lautan waktu yang amat miris

Kau yang meminta ke sini
barangkali demi cinta yg dulu kita toreh
yang pernah berkilau di bawah pohon cemara
di antara daun dan kepak kupu-kupu
Di sini kasih itu memuai ke dalam rentang ulir zaman
Manis di antara tatapan kasihmu yang syahdu
Angin cemburu mengusik rambut di keningmu
mencoba membungkam petikan dawai gitarku
Aku tak perduli,
kubiarkan nada bertebar mengawal anak-anak berlarian
senar-senar bergetar menyerap senyummu ke dalam batin
di sini tak ada belenggu yang mengganggu
karena ketulusan tak mengunci pintu iman
hingga jeruji tak bermakna atas rasa kasihmu dan rasa kasihku
Namun rasa sakitmu lebih kerap memenangkan waktu
menyekap teriak, yang tersekat di rongga kerongkonganku
melihat sayu matamu serasa hatiku di kepras

Di sini masa lalu mungkin berbunga
tapi harumnya tak semerbak pada bintik pengharapan
pada derak dahan kayu rapuh yang tertiup angin,
kubungkam mimpiku, kubungkam teriakku
tentang sehat yang tak tak mampu kubeli
Ah…, sesekali kulirik kau, sambil menghujat kalimat doktermu

Saat tubuhmu masih di rasuk perih
Kita sempatkan membeli pecel Kembang Turi
mencoba menukar kenyataan dengan mimpi
Di tegarnya dahan cemara, angin sepoi saling berbisik
Tentang kembang Turi yang kau jadikan mainan pemikat hati
Senyummu rekah saat mempermainkan kembang-kembang itu
Kembang turi, menari di antara jemari, lidah, geligi dan bening binar matamu
mulutmu sempurna dalam komat-kamit lucunya
seraya mencoba menyembunyikan nyeri
yang selalu merepihkan sekujur tubuhmu
akhirnya tawa kita pecah sejenak
menghablurkan gumpalan galau
dan meruntuhkan rasa takutku yang menghujam
sambil kucoba melupakan detik-detik yang hanya akan sebentar ini

Kini…,
Saat aku kembali lagi ke sini
Sungguh, kau telah menanti
kau hadir lebih nyata, tak bias dalam bayangan
menari bersama kembang Turi di tanganmu
sambil mengurai senyum dan rinai tawamu
Telah kau bantu aku untuk tersenyum
meski bulir-bulir bening tetap berjatuhan

“Terimakasih sayang, sungguh kau kucinta selamanya…”

(PiS, Dari catatan harian “Pecel-Kembang Turi” di Kaliurang tahun 2010
dengan perubahan pada hari Minggu, 20 Mei 2012, “Masih, senyum dan tawa itu masih”)

Aku Tanpamu

Aku tanpamu adalah hening yang melenggang ke dalam malam. Aku tanpamu adalah sungai luka yang mengalir ke laut mayapada kematian.

Aku tanpamu adalah hening yang melenggang ke dalam malam

Aku tanpamu, mencoba menyanyi untuk meluapkan perasaanku. Perasaan yang selalu bergemuruh di dalam dada tanpa terbendung oleh tanggul tembok raksasa yang kubangun. Terserah pada yang bilang aku tak beriman, hanya demi melukaiku tanpa titik penghiburan. Aku sudah berteriak sekerasnya, sudah berlari sekencangnya sudah menangis sekuat yang kumampu, aku memukuli diriku sendiri, sudah melukai diriku dengan perasanku sendiri. Sudah kugelindingkan roda-rodaku hampir seratusan ribu kilometer jauhnya, sudah kularikan jiwaku dari kota ke kota, dari pelosok ke pelosok, dari gang ke gang. Aku bolak-balik menelusuri Pekan Baru, Dumai, Medan, Jakarta, Lampung, Semarang, Surabaya, berharap kerinduanku lunas terbayar dan rasa bersalahku lenyap menghilang tanpa bekas. Aku sudah terseok di pasir, sudah berpanas pada terik, sudah berbasah oleh hujan, dan kediningan di dinihari, mengerang akan sepi yang menyayat pagi, lapar dan haus menghujam nurani saat meniti jeruji waktu. Tapi tetaplah itu semua tak bermakna apa2 bagi sebuah kerinduan dan rasa kehilangan yang berkepanjangan. Aku tertimpa rasa bersalah tak berampun, tak mampu melindungi dan menyelamatkanmu dari sakitmu lalu meninggalkanku seorang diri dari dalam sunyi senyap di tingkap waktu. Semua cara sudah kulakukan untuk melupakanmu. Tapi semua jalan terjal, berliku, berbatu, berbeling, beranting tajam, berpasir kaca taklah memberikan sakit melebihi rasa perih dari kehilanganmu. Jadi selalu kucoba bernyanyi dan bernyanyi, menghindar waktu yang selalu mengalunkan sepi ke dalam diriku. Kini, datanglah kau dalam bayangmu semaumu, datanglah kapan saja, sampai kau bosan atau sampai aku mati. Meski orang tidak menyukainya tapi itulah mungkin takdirku.

(PiS, 21 May 2012, juga di http://www.Maryati.net)

“Sangam House, maka kulipat serbetku”

Rumah Makan Vegetarian Sangam House

Dulu selalu kuletak setitik pengharapanku di atas meja pilihanmu itu di tempat ini, mencoba memelihara mimpiku : untuk bisa selalu tetap duduk di sisimu, seolah-olah kata “kekal” itu memang ada, laksana keinginanku agar musim ini mampu kuhambat untuk tidak akan pernah berganti. Setidaknya sampai rambutku memutih bersama kulitku yang perlahan mengeriput karena telah sarat menyimpan ribuan makna dalam nadi darah yang semakin mengental dan tinggal menunggu waktu untuk membeku karena telah penuh dengan kenangan tentangmu. Tapi kini aku sadar, semua mimpi itu takkan mungkin terlaksana meski selaksa rindu menyentak ke langit biru sana. Sebuah mimpi hanyalah mimpi, yang akan jatuh dan berakhir ke dalam kubangan kegelapan mimpi juga. Jadi kutahankan saja gemetar dadaku sambil menarik serbet makanku.

 Kekasihku, saat aku datang dan kembali duduk di sini, tak ada yang berubah tentang dekorasi indah, begitu juga pernak-pernik yang selalu mencuri perhatian matamu, tak pula banyak perubahanan tentang sudut-sudut yang penuh dengan nuansa seni yang dulu kita resapi secara mendalam. Selalu kuingat saat itu, bahwa sungguh sulit hatiku untuk mampu melukiskan segala yang kita temukan di sini hanya dalam sekumpulan kata-kata pilihan yang bergelimangan dalam temaram lampu redup, tapi kini kusadari, semua itu bisa begitu sempurna karena ianya mengalir bersama binar bening  indah matamu yang selalu terkagum-kagum pada ornamen.  Juga bilasan keramahan, masih kental bersaput tebaran senyum di sana-sini. Namun kau harus kuberi tahu, kau harus paham, semua itu tak kini tak bermakna setitikpun bagi sekeping hatiku yang telah memaksa langkahkahku berlabuh ke sini. Semua ini hanya membuat nadiku serasa perih oleh sayatan luka dari detak jantungku yang selalu menebar rintihan rindu ke seluruh penjuru tubuhku.

Saat menu vegetarian telah terhidang bersama sekumpulan nama-nama indahnya, instrumental “A Whiter Shade of Pale”pun perlahan mendayu membuai perasaan, mengalunkan jiwaku dalam buaian sendu, gemulai seperti ketika rambutmu tertiup angin sepoi di bukit bintang saat kita menatap kerlip bintang-bintang beradu indah dengan cahaya dari bintik lampu-lampu kota saat malam menuangkan hening ke penjuru dunia. Di buaian nada-nada, kalbuku melayang dalam irisan rasa sepi tak bertepi, ia menemukan awan putih tempat aku dan kau seolah-olah melayang bersama dalam genggam jemari tak terlepaskan. Dalam sekejap kurasa kau telah menjelma datang dan duduk sebelah kiriku, menatapku tak berkedip, membawa utuh rasa cinta yang tulus ikhlas dari ruang batinmu. Saat ini, sungguh terasa kau sedang mencoba memahami makna terdalam dari rasa kehilangan yang tak berkesudahan ini. Kuharap jangan kau biarkan kelembutan jemarimu yang terasa damai dalam senyap yang menghinggapi sanubariku terlepas. Setidaknya untuk beberapa saat lagi. Kau pasti sudah merasakan, bahwa aku merindukan sekumpulan jemari kasih yang takkan luput dari ingatan, jemari yang selau melipatkan serbet makanku di tempat ini.

Detik ini, memanglah sungguh sangat buruk dan memalukan. Dan meski dunia akan mencelaku, tapi takkan ada yang mampu mencegahnya. Ya.., itulah, air mata itu, dan karenanya kurasa tak ada yang perlu kulakukan lagi saat ini, selain melipat kembali serbetku.

(PiS, Sebuah draft dari catatan harian di Medio Mei, “Sangam House 3”)
* Sangam House : Sebuah Rumah makan Vegetarian di Jogjakarta.
www.maryati.net

Titik-titik

Ingin kurangkai titik-titik menjadi garis
lalu merangkai garis menjadi titian
tempat agar aku bisa berlarian
mengejar bayangmu,
sambil melabuhkan kerinduan
pada arus sungai di bawanya
mengalir deras menuju ke negeri indahmu.

Ingin kurangkai titik-titik menjadi helai
lalu merangkai helai-helai menjadi rambutmu
tempat agar aku bisa membelaikan
jemari linangan kerinduan
sambil mengalunkan puisi di gemulai angin
agar tertiup ke dalam tidur damaimu.

Aku berbisik :
Pagi ini, sudah bangunkah kau di negerimu?

(PiS, 13.05.12 “Rindu Seabad”)

Ini begini, itu begitu (By : PiS)

Mungkin semua ini baru bisa begitu dengan harus begini dulu. Tak banyak orang bisa begitu dengan langsung berhasil mendapatkan itu tanpa harus begini. Ini karena proses mendapatkan itu mungkin harus dimulai dengan begini ini. Walaupun dengan begini ini belum mendapatkan itu, itu karena proses untuk bisa begitu memang dibutuhkan ini itu. Bahkan dengan sudah begini begini ini belum tentu bisa begitu itu, apalagi pengin begitu dengan langsung mendapatkan yang begitu itu. Tapi biarpun begitu, walaupun masih begini ini, dan belum mendapatkan yang begitu itu, itupun harus disyukuri. Kita jangan pernah  befikir, kenapa Tuhan memberikan yang bengini, kenapa tidak yang begitu. Jadi begini kawan, pikiran yang begitu itu keliru, itulah yang harus dirubah. Walau masih begini begini tapi soal menasehati yang begitu itu, itulah yang membuatku bisa begini. Makanya yang begini inipun harus kita terima, itu maksudku. Bukan maksudku harus begini-begitu, begini-begitu, bukaaaaan, bukan begitu. Baiklah kawan sudah cukuplah begini dulu. Karena jika harus menceritakan yang begitu-begitu nanti terlalu panjang. Begitu maksudku. (By PiS 06 May 2012, http://www.maryati.net &  Sketsa.co.id

Luka-luka Laut ku

Puisi sajak Luka-luka laut ku

Satu-satu camar hilang
Laut mendiam menyimpan birunya
Suara kepak menghening di buih kabut
mengadu lengang menggantikan cahaya.
Karang-cadas sembunyi-sembunyi menggurat hati
memaparkan tanya menusuk ke ubun-ubun
: “Di mana rasa cinta itu berlabuh?“
”Di mana?!”

Ada geligi gemeretak
Menahan luka mengaliri jiwa
Ada mata terpejam,
membendung hujan jatuh ke pasir
Butir bening air itu akhirnya melipir terasa asam
Menyentak pipi ke dalam gemetar
: Segala waktu telah menjadi basi

Aku menyendiri,
menanti kelahiranmu
megah di antara langit dan ufuk
juga menanti ombak gelombang cahaya rambutmu,
berkilau ke samudera sanubariku
: Silhuet

Tapi di rongga jantung hingga seluruh nadiku
: laut luka ku
luka laut ku

(PiS 03.05.12 “Menyapa Bulan Mei”)

Bulan (2)

Kau tahu kekasih hatiku, kenapa bulan malam ini lebih suka menyembunyikan ronanya ke balik lembaran awan dari pada bersikukuh menampilkan sisi keanggunannya?

 Kau selalu diam kekasihku,
jadi kutebak saja, mungkin karena ia tidak suka aku mencuri-curi pandang padanya sambil menaruh harapan pada lembar bentang gelap malam. Harapan bahwa aku di sini sendiri tanpamu tidaklah begitu menyakitkan. Dan dia merasa aku memandanginya hanya agar bisa menikmati cahayanya sebagai sekedar pengisi sebuah jeda mimpi sebelum lembaran hari esok mulai terbuka kembali ke alam nyata. Huh… kurasa dia merasa tersisih dan merasa  direndahkan.

Kau tahu kekasih hatiku, kenapa bulan malam ini lebih suka menyembunyikan ronanya ke balik lembaran awan dari pada bersikukuh menampilkan sisi keanggunannya?

 Karena kau masih saja diam kekasihku,
jadi kutebak saja sekali lagi, mungkin juga karena ia tidak suka aku mencuri-curi pandang padanya demi keinginanku yang terlalu berhasrat untuk menyalakan lilin-lilin masa lampau. Lilin-lilin yang selalu bersimbah tarian-tarian api kecil dari rasa rindu yang menggeliat-geliatkan cahaya kuningnya saat terpaan angin lembut datang menyapa. Angin itulah yang dulu selalu meluruhkan rambut ke keningmu, lalu membuat hatiku tersentuh untuk mengurainya dari alis matamu lalu mengatakan cinta walau hanya di dalam batin. Dan bulan itu tahu, aku memandanginya sendiri begini tak jauh dari makna mengelabui diriku sendiri, bahwa semua ini hanyalah tindakan sementara saat menunggu kau dari perjalanan senyapmu untuk kembali menemaniku berdiri di sini. Lalu seperti dulu-dulu, ketika kita telah bersama kembali, kita berdua akan melepas pandang jauh ke alam raya langit gulita sana sambil mempergunjingkan cahayanya yang bergelombang yang dipantulkannya ke kali kecil yang membelah tengah kota Jogja atau mempergunjingkan cahayanya yang bergelombang ketika terpantul di sebuah sungai hitam di Riau sana.

Kau tahu kekasihku, kenapa malam ini bulan lebih suka menyembunyikan ronanya ke balik awan ketimbang menyalakan semerbak binar cahaya indahnya ke dalam redup mataku  yang selalu kagum akan ketegaran teguh cahaya kesendirianannya?

Baiklah, karena kau masih saja membekukan diammu di ujung langit sana,
kucoba tebak untuk kali terakhir : mungkin karena ia merasa hina dianggap sebagai benda yang mengagumkan sementara kesepian lebih tegas mencengkramkan kuku-kuku tajam ke dalam jiwanya di banding ke dalam jiwaku.  Dia yang merasa begitu, sedang aku sebaliknya. Aku lebih yakin pada diriku tentang hal itu daripada redup cahayanya yang terselubung oleh awan kelabu di kubah langit kelam sana.

Hari ini aku tiba-tiba benci pada bulan itu…
Dia menghempas rinduku ke rumput biru dengan tiba-tiba dia menepis seluruh awan-awan kelabu yang menyaput dirinya sambil bersuara lantang menantang bola mataku : “Terbanglah padaku, kekasihmu sedang membentang rindu di dalam cahaya gemerlapku…!”

; Bumi benderang, tapi hatiku senyap!
(PiS, 01.05.12 “Melukis Langit Malam”)
Sumber : www.maryati.net

“Ikhlas”


Tak perlu kucari makna kata itu di kamus,
Atau bertanya pada marah kemarau :
Kenapa rumput harus meranggas meriak mati?
Kenapa sungai tak mengalir lalu meruak keruh?
dan
Kenapa aku mesti menjadi sendiri
merundung sepi terpaku di sini….?!

Tak pula perlu kutanya makna kata itu pada para pujangga,
Atau bertanya pada bening malam :
Kenapa rembulan menyepi?
Kenapa bintang mengatup diri?

dan

kenapa aku lagi-lagi menuai muram
lalu berdiri mematung ke sini….?!

Di bentang sayup seruling kekasihku berbisik :

; Nantikanlah lahirnya sang esok…!
kan kau seduh sebuah jawaban setelah
Cahaya Mentari Pagi menorehkan hijau
ke wajah dedaunan

(PiS, 29.04.12, “Cahaya dan Seruling Bambu”)

BUNGA KEMUNING

Puisi Bunga Kemuning

Puisi Bunga Kemuning

Bungaku,
takkan repih di gemuruh ombak
takkan ranggas di pisau kemarau,
takkan hanyut di lirih desau angin
takkan luruh terbuai dedaunan menguning
: Bungaku menebar wangi, kekal ke ruang jiwaku.

Bungaku,
merekahkan senyum di kemilau pagi
melepaskan buai ke relung senja
meniriskan cinta ke jantung malam
Selalu setia, melenakan jiwa
: Agar katup mataku susup dalam damai

Bungaku,
kuhela selalu kelopakmu
agar tak terinjak derap cinta buta yang hina,
kujaga mataku ke alur hidup yang kau semai
agar hatiku setia menjadi tangkaimu
: Maka kau mekar mengusap kalbu

Bungaku,
selalu ingin kurengkuh kau utuh
kedalam jemari kasih tak berbilang
impikan warna abadimu menghias tamanku
menjauhkanku dari sayatan sepi dan lara duka

Tuhanku….,
Telah Kau petik Kemuningku
lalu membiarkan akarnya tertinggal
mencengkramkan tangis abadi ke ulu hatiku

(PiS 23.04.12 “Taman Yang Sepi”)
Ditulis saat mendengarkan kembali lagu “KEMUNING Widyawati”,
Mencoba menjawab pertanyaan seorang teman di FB

Hanya Sebuah Perjalanan

di antara pasir, batu besar, hati yang tak terobati

di antara pasir, batu besar, hati yang tak terobati

5:05 a.m
Telah kulewati batu-batu besar, hamparan pasir panas, ranting-ranting tajam menusuk, mendung, gelap, terik, hujan, dingin malam atau melewatkan kebusukan dan intrik yang ditumpahkan orang-orang pada diriku. Aku telah merangkai pemahaman pada para pemilik hati besi, atau membuka tangan-tanganku bagi penerimaan pada para pemilik hati yang lemah. Hatiku tulus saja melewati semuanya hanya demi menabur waktuku dan keringat dari tubuhku yang tak pernah mau letih. Bagiku semua hanya perjalanan biasa saja, karena kau yang kukasihi sudah tak di sisiku lagi.

Jika langkahku kali ini gagal dan terhenti hanya karena BBM, kuyakin tak akan banyak berpengaruh bagi diriku karena perasaanku. Langkahku refleks saja meniti arah dan jembatan yang di sediakan Tuhan bagiku karena hatiku ternyata tidaklah mau kutaruh di sini di antara batu-batu raksasa, pasir dan sungai yang mengalir deras. Semua memikat tapi ternyata tidaklah pernah mampu mengikat. Dan aku akan tenang saja beranjak dari sini dan meninggalkan jejak-jejakku tanpa perlu susah-susah menoleh ke belakang.

Di antara hitungan matematika yang meskipun dilakukan berulang dan berulang, sudah kutahu semua pada akhirnya hanya bermuara pada kata RELATIF. Dan bila BBM memukul usaha ini dari depan seperti gelinding batu besar yang kejam, aku tak akan merasakan sakit sedikit pun. Karena aku bisa pergi atau terbang kemana saja yang aku suka bersama roda-rodaku.

Ah… kau matematika dan BBM, dari dering HP jam 4 pagi ini, kini baru kusadari ternyata di tempat aku yang hanya hendak membuang bayang-bayang, waktu dan tubuhku yang tak pernah bisa letih, ternyata banyak pengharapan dan mimpi yang mereka tabur. Dan bila hanya karena kegagalan lalu aku pergi melenggang dengan santai dari sini, tentu kebaikan yang pernah kusemai akan menjadi layu dan membusukkan rongga-rongga hidungku, selamanya.

Tinggal beberapa hari lagi, semoga doa-doa mereka terkabulkan. Sehingga tanganku, kakiku dan hatiku di terima Semarang dengan senyum yang kemudian akan kuhantarkan kembali ke sini.

(PiS, 5:05AM “BBM dan Pengharapan”)

MENCARI MUSIM

“Gantilah musimku.”
Demikian pinta gersangku pada-Mu Tuhan
karena aku ingin menaman rumput hijau
agar menjadi paru-paru baru bagi kemarauku

(PiS 210212, “Terik”)

LORCA

Jangan kau bisikkan lagi catatan-catatan Lorca
Saat aku mencoba menyemai kata-kataku sendiri
dan menuliskannya di pasir tempat jejakmu terkulai

Kau pasti memahami
bahwa bagiku mendengarkan segala keindahan kata
rasanya hanya seperti menuai hari dalam bulir yang lompong

Aku sedang tak butuh Lorca atau Walt Whitman
yang kubutuhkan hanyalah senyummu
yang lama tertelan zaman dan hilang di sungai deras
karena hanya senyummu itulah sumur
tempat mata air kata-kataku melahirkan makna bagi hariku

(PiS, 210212)

Lelawa Luruh di Rumput Batinku

Lelawa

seperti menanti sebuah musim yang tak ada
pada setiap musim yang selalu berganti
begitulah bisik paru-paruku pada langit
saat awan memukau jemari nafas rindu

seperti mencari mata air yang hilang
pada setiap deras sungai kasih yang kau aliri
begitulah kecipak riam menyibak suara alam
saat kau mengatupkan matamu meninggalkanku

Kau yang menyiramkan warnamu :
memekarkan kalimat indah karena bagai buai mimpi

Kau yang memahat hatiku :
memerdekakan jiwaku mengejar sayap bayangmu

Di kepalku masih kugenggam tulus ikhlasmu
yang selalu setia menitiskan rasa kasih
membungkam gersangku yang masih terbentang
Dan pagi ini, dari matamu luruh lelawa
menyaput benih rumput biru di halaman batinku

(PiS; 14 Februari 2012, “Di semua musim”)

Mungkin kau sudah tak tertarik lagi!

Ingin aku mengukir-ukir arakan awan-awan
Agar kau bergeming tentang isi kalbuku
Ah…, ini seperti dulu-dulu di masa lalu
Kini aku tak lagi mampu mengeja iba cintamu
untuk menguntaikan kembali ke ruas batinku
meski jemari setiaku, utuh mencari ronamu

Maafkan aku mengusik siangmu
menafikan cerah dalam cemerlang Minggu
Dalam hening doaku
kaulah langit biru tercermin ke laut biru
yang menghaturkan camar agar terbang sendirian

Di atas kepak semua keindahan ini,
hanya senyap mengungkung lukaku,
mungkin kau sudah tak tertarik lagi
karena kini sampul bukumu tertulis judul :
“Masa lalu”

(PiS, 120212, “Tepi laut biru”)

Cermin sebuah rekuim… ! (1)

Tentu tidak gampang menyambut sebuah pagi yang indah berseri :

bersama “jemari matahari” yang menyibak kelopak, agar mata menangkap milyaran warna ; tapi hati buta telah membekukan kornea.

bersama ”ramahnya kehijauan” yang selalu menghaturkan nafas daun-daun ikhlas, agar paru-paru menjadi segar ketika menghirup rentang waktu ; tapi hati hitam mengatup jalan menyesakkan dada

bersama “semangat angin” yang menyibak rambut, agar telinga tidak terhalang dalam merayapi riuh rendahnya suara kehidupan ; tapi hati lemah telah menulikan gendang pendengaran.

bersama “sayap-sayap putih kehidupan” yang menerbangkan kemerdekaan cita-cita padi ke awan putih, agar tangan-tangan bebas terentang melepas buah ; tapi hati rapuh selalu memenjarakan sayap pada mimpi akan negeri indah tanpa peta.
bersama “kumandang ribuan doa” yang menjunjung langit tinggi, agar tulus ikhlas melumuri sekujur tubuh ; tapi hati lumpuh telah menambatkan jiwa pada tiang masa lalu.

bersama “kobar api kehidupan” yang menorehkan semangat, agar setiap langkah berderak rentak menelusuri waktu ; tapi hati berbatu telah melumpuhkan kaki-kaki keinginan.

(PiS, 06022012, Coretan2 di “Rekuim” masih refisi)

Rindu dan Rudin

Puisi Rindu dan RudinLangitku kotor dengan ribuan jarum simbolik
bukan koma apalagi titik
tanda tanya sekarat…!!
Dedaunanku basah oleh ritmis sendu
bukan embun apalagi air nirwana
Air matalah yang menang di pertempuran..!!

Kubuka jendela jiwaku
bayanganmu membisikkan halusinasi
gemulai bagai ombak dinihari
hatiku yang rudin pecah
menebarkan hujan huruf-huruf kembar :
“D    R    N    U    I”

(PiS, 061111. dinihari)
(Revisi “Air matakah yg menang di pertempuran??”)

Rekuim

Puisi dan Sajak RekuimPisau sepi menyembelih hatiku,
menuai bayangmu yang masih teguh berkelana di dalamnya
Akulah silhuet pencari jati diri dari rasa cinta yang tak terpadamkan
Lubukku diam di tengah gemerisik orang yang tak mau paham
Bergemalah! Terussss…! Bergemalah kau…!

Bergemalah memampuskan diriku,
agar dapat merengkuh jemarimu
di dalam kabut yang tak mampu ku cerna

Bergemalah kau antara nada nyilu di dada
Antara ngarai hatiku dan langit hatimu
Antara mata terkatup
menutup bayang dunia di mataku yang tak merona lagi

Sebuah eye shadow mu masih tergelempang di depan kaca
Tepi mimpiku bergelombang ke alismu, ingin ikut menjadi debu
Doa, kemanakah kau akan melayang diri?
Terbanglah…! Menggemalah……! Menggemalah…….. !!!
Bersama nyawaku yang sudah di sisi jurang…

(PiS, 031111)

Bukan Rekuim

Bukan Rekuim

————————-
Masih tertoreh cintamu
retas membelah jiwaku
kulabuh kenangmu
di antara jurang
gunung terjal
samudera sepi tak bertepi
pulau tak bernama
tapi perihku tak jua sirna
ku tangkup tangisku
yang masih tiris
dari lubuk hatiku

: Ah… rindu, kau kepras diriku..!!
PiS 29Okt2011

Whose Eyes These Are

Mata Siapa ini?

Whose eyes are these?
stick on my head
fully to look for
not to be the desire of my head’s content

Whose eyes are these?
always to be brought,
is it not already to be useful?
is it not already to be enable to understand the beauty
spreading widely,
given grant to him.

PiS August 24 2011

In Indonesian : Mata Siapa Ini?

Moon…

You    do   not     send     my    moon   to   the   prison
in the wild jungle, your town for my poor heart
always looks for its love from town to town.

from heart to the spirit of it,
from its silence by sad
soul in the center
of my heart
sun
.

.

.

An Indonesian : Bulan Yang Terpenjara…

A minute is Like An Arrow

line twilight

A Minunte Is Like An Arrow (di Senja kelabu)

line twilight

I fly the words to the grey sky
to the strong wing I insert them
I still got the rest in my head
then it grows again one by one

Fly away
fly away
fly away

the words that make me hurt
release like an bow
leave me alone standing here

cause a minute of yours
stab me as deep as an arrow

PiS Aug’ 2011
Indonesian : Satu Menit Bagai Satu Mata Panah

Memories are Sparrow and You

Memories are sparrow and you

Memories are sparrow and you

Memories are like disturber birds
in the middle of wet rice field
Sometimes those are beautiful, indescribable,
flies smoothly here and there
But sometimes those are painful,
irresistible, steal rice plant in my heart

Memories are you, who is smile in far away
Once upon a time rain storm and dry be beautiful
Morning lonely and dark night be eminent

Memories are you, who cry in my chest
Dissolve me in ocean of love never end
Scoop me in full embrace and never wanna lost

Memories are you in the middle of wet rice field
Today be this blog, my disturber birds, I catch one by one
Be chain words and I flie to the illusion world
But as a piece of rice plant in myself has been stolen

In Indonesian : Kenangan adalah burung pipit dan Kau

————————-
“PiS June 2011
“Ring road in the morning shine

Ringroad

Gerimis itu rinai kembali kala subuh menyapa
atau kala mentari perlahan meredup ke ufuk
bola-bola bening, ritmis bertaburan
terlindas roda-roda yang menggelinding lemah

Aku, masih saja menuai kerinduan yang tak mampu terkuburkan
bertaburan di antara markah-markah jalan
berlarian di antara pohon-pohon berkejaran
semua menjadi motion yang meretas dari kaca jendela mobilku

Masih saja kutunggu kau di sisi kiriku
Masih saja kutilik kau di spionku
Hanya namamu terngiang

Ah… kau kenangan dan rasa cinta yg tak pupus jua
menyayat hatiku hingga ke ulu…

(PiS 2011)

Pagiku

Kuharap pagiku kini
bangkit tanpa wajah sendu
nyatanya nafas kenangan selalu memenangkan waktu
karena dunia peradaban rindu
berputar hanya di poros masa laluku

Pagiku..!
kuteriakkan bagimu panas matahari
agar menghanguskan sekujur mimpi-mimpiku
terjagalah kau dan tak hendak tidur kembali
yang menggiring jiwaku pada langkah lampauku
yang walaupun manis
terbangkan saja aku pada cinta nyata
tanpa selalu menoleh ke belakang
pada sinar yang sudah seharusnya damai

Hatiku..!
Berlarilah hanya pada garis-garis
yang sudah ditorehkan sebagai masa depan

Kenangan…!
Tinggalkan aku
dalam gemulai rayumu

Aku menghiba!!!

(PiS, 3 Februari 2011 : in memoriam 03 Feb 2011)

Malam itu

Malam mengintaikan bulan padaku
tapi mengubur bintang-bintang demi dirimu

(IvanS 2013)

Elegi Februari

September yang selalu teringat
tak terlupakan, saat cinta menabur tambur
suaranya mengakar dalam basuhan kemelut bertubi

Namun Februari yang ingin kutepis
selalu menang ke atas batinku,
tak terhanyutkan hujan tak terlekangkan panas

Februari selalu hadir mengalirkan kenangan,
Melahirkan elegi panjang saat kau mengepak sayap abadimu
Meninggalkan simponi yang tak jadi selamanya

Uban Putih

Dulu kukira aku akan sempat
menikmati uban putihmu, berkilau-oranye-kuning-kemerahan
diterpa mentari sore saat kita duduk-duduk memaknai
hitungan debur demi debur ombak

Akan kularang kau mengecatnya
karena mahkot putih itu simbol cantik dalam saput bijak

Dulu kukira matahari senja atau matahari pagi sempat berkilau
di rambut putihmu
Dimana saat kita memandangnya akan ku buat kau tertawa
dalam kekanakanku yang tak hilang-hilang
ditengah arungan usia senja, seperti pernah kuperjanjikan padamu

Dulu kukira kau takkan meninggalkanku
sebelum senjaku berlalu, maka kubilang pada diriku :
“Alangkah lama malamku menjelang langitku”

Daun Hijau Menggapai Senja

Sebaiknya aku bersiap-siap pulang, senja dan awan hitam mulai menelan kehijauan.

Di antara gulungan-gulungan kapas hitam itu, sesekali kilatan cahaya terlihat menyambar-nyambar menunjukkan geraknya yang maha cepat.

Begitu juga dengan suara menggelegar dari balik angkasa, mencoba menakuti makhluk-makhluk yang masih belum beranjak dari  bawah kehijauan.

Ya, sebaiknya aku pulang!

Dari Kumpulan catatan harian : “Dibawah Daun-daun Hijau”

Daun Hijau dan Matahari Yang Mulai Tenggelam (1)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam

Aku bisa melihat matahari berkaca di danau kecil yang pinggirnya ditumbuhi ilalang-ilalang hijau. Sekumpulan ilalang itu mulai menidurkan semangat ekspansinya, lemah seperti pasrah. Ya…, matahari punya kekuasaan untuk membuatnya tetap hijau atau menenggelamkan pigmennya menjadi kuning bahkan coklat meranggas.

Kali ini yang akan kukatakan bukanlah faktanya, hanya kelihatannya saja, bahwa warna seluruh daun-daun tampak mulai memudar menjadi hitam, meski mereka sebetulnya masih menggenggam warna hijau dalam jiwanya.

Andai aku masih punya kamera semi prof, tentu gradasi dari hijau ke hitam itu bisa kutangkap meski aku bukanlah fotographer.

Begitu juga cahaya matahari itu, harusnya indah bagai binar seorang bidadari yang pernah kukenal. Mungkin kau ingin juga mengenalnya bukan? Hmmm… gampang saja tatap saja selalu matahari yang baru terbit dan matahari yang mulai tenggelam, open your mind, maka di sana akan kau lihat mata bidadari yang akan memberimu semangat bekerja dan mata bidadari yang akan meninabobokkanmu dalam mimpi dan kerinduan.

 

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (2)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (2)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (4)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (4)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (5)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (5)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (6)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (6)

 

Daun Hijau dan Mari Makan Mie (1)

Daun Hijau dan mari makan mie

Tak banyak kegembiraan yang bisa kami dapatkan dibanding apa yang didapatkan oleh orang-orang kota di metropolitan sana. Tapi yang sedikit itu kadang sudah lebih daripada cukup daripada tidak ada sama sekali.

Tak ada listrik, tak ada mesin cuci, tak ada televisi, tak ada playstation atau barang-barang sejenisnya. Di kota barang-barang itu sudah termasuk kategori barang biasa. Tapi jangan tanya di sini, benda-benda itu kadang sering mampir hanya dalam mimpi saja.

Tapi hari ini kawan, mie yang kami masak dengan kayu bakar dan kuali hitam, ternyata mampu mengundang canda gurau dan tawa. Sementara itu, biarlah dulu anak-anak itu serius menikmati mienya.

“Nyam…. nyam… nyam…”, kata anak-anak
“Huah… ha… ha… ha…”, kata kami, demi melihat tingkah aneh mereka saat salah seorang dari kami diam-diam menggelitik kuping anak-anak itu dengan daun sawit hijau dari belakang pintu.

Dari Kumpulan Catatan Harian : “Dibawah Daun-daun Hijau”

Daun Hijau dan Dapur Orang Manda (1)

Daun hijau dan dapur orang mandaDaun hijau dan dapur orang manda

Seperti di atas itulah kondisi dapur orang manda. Di perkebunan kelapa sawit, “manda” ini biasanya diartikan sebagai tinggal sementara atau beberapa hari di sebuah perkebunan untuk menyelesaikan pekerjaan borongan di perkebunan tersebut. Beras, cabe, bawang dan lauk berupa ikan asin di beli di pasar lalu di bawa kelahan. Sayur bisa diambil dari daun-daunan hijau yang ada dilahan, atau minta dari tetangga lahan. Kalau ada waktu ikan juga bisa ditangkap di sungai kecil atau biasa disebut kanal.

Pekerjaan untuk manda ini antara lain adalah

  • menyemprot gulma, untuk yang luasnya puluhan hektar, biasanya memerlukan waktu yang agak lama. Yang pernah saya tahu untuk 2o hektar dengan tenaga 2 orang selesai satu minggu dengan bayaran per hektar 800 ribu rupiah.
  • memiringi
  • membuat jalan (pasar)
  • menunas, membuang pelepah/daun yang sudah tua, kuning atau membusuk agar pohon menjadi sehat dan tidak kelihatan meranggas. Lahan yang sudah selesai ditunas biasanya tampak hijau dan memberi semangat.

Aku mengenal beberapa teman yang dari dulu pekerjaannya adalah borongan, dia biasanya manda dari suatu tempat ke tempat lain, bahkan antar kota. Jika sedang tidak ada pekerjaan, mereka biasanya pulang kampung. Menunggu panggilan sms dari teman-temannya yang sudah menetap atau bayar bulanan.

Setelah pekerjaan borongan selesai baru mereka mendapat bayaran lalu pulang untuk menunggu job berikutnya.

Ngomong-ngomong perutku sudah keroncongan, temankupun sudah selesai masak, ada yang mau ikut makan hasil dari operasi dapur ini?!
Mari… mari… :)

Panen Yang Mendebarkan di Sisi Harga Buah Sawit yang Naik Terus

Catatan Harian 04 Desember 2013

Harga tandan buah segar (TBS) Sawit menunjukkan trend naik terus. Hari inipun begitu. Buah hasil panen hari ini dihargai Rp. 1640 /Kg.

Selama panen tiga hari ini badan rasanya cukup letih. Hujan deras, jalan-jalan mulai rusak, semakin hari semakin parah, becek, licin karena tergerus derasnya air dari atas bukit.

Beberapa pemanen sudah ada yang mulai demam dan batuk. Satu dua orang yang diundang untuk manen ada yang istirahat sementara hingga badan pulih kembali.

Panen hari ini tantangan cukup mendebarkan juga. Jalan cukup licin, mobil tidak bisa mendaki, meskipun gardan 2 sudah dipasang. Ban belakang selalu terselip ke arah bibir jurang. Setelah mencoba dua tiga kali, akhirnya saya memutuskan untuk mencari batu-batuan. Daripada harus menjalani resiko yang berat.

Batu-batu di serak di tempat-tempat licin. Voilaaaa…, mobil bisa mendaki dengan tenang. Hari ini panenpun bisa kami selesaikan tanpa ada insiden berarti selain daripada detak jantung dag dig dug plas….

Dan RAM langgananku ini cukup berbaik hati untuk tidak mengurangi persen pada buah yang agak basah kena gerimis. Perkilo dihargai Rp. 1640.

Sampai jumpa di cerita panen berikutnya. Malam… :)

Pikiran-pikiranmu Bebas, tapi Tak Boleh Mengganggu Pikiran-pikiranku

Catatan Harian 04 Desember 2013 – Kanker dan aku yang sedang berada di bawah daun-daun hijau

Pikiran-pikiranmu bebas, tapi tak boleh mengganggu pikiran-pikiranku. Mungkin terkesan sinis aku mengatakannya padamu. Tapi kau harus kuberitahu, mungkin menjelang usiaku yang tua begini, tak banyak lagi yang kuharapkan selain menerima apapun yang kudapatkan, tidak lagi mengharapkan kesenangan-kesenangan duniawi, lampu-lampu gemerlap metropolitan, rokok bermerek, bermain-main di tempat rekreasi, baju bagus, refreshing pantai, mancing, minum-minum (Jangan masukkan teh hangat atau secangkir kopi tentunya), shopping dsb. Kalaupun semua itu terpaksa kulakukan, itu demi kau,  bukan demi aku. Meski aku tak akan pernah menilai dirimu minus hanya karena itu.

Kau juga harus kuberitahu, sudah lama aku belajar untuk menerima bahwa bekerja harus kuanggap sebagai sebuah kesenangan, sebagai sebuah hobi, atau sebagai sebuah pengganti gemerlap-gemerlap yang sering menarik laron-laron hingga terjebak di balik kaca.

Maka itu kukatakan : “Pikiran-pikiranmu bebas, boleh kau ungkapkan kepadaku, namun kau jangan memaksa agar hal itu bisa mengganggu pikiran-pikiranku dan bersifat memaksa hanya karena aku skeptis akan hal itu. Karena untuk yang tidak kusuka aku berusaha untuk tidak marah, dan tidak suka balik memaksa, tetapi aku akan lebih suka memilih untuk pergi menyendiri berlinang ke dalam pekerjaan-pekerjaanku.”

Ah… kau, janganlah menghujatku. Percuma! Telingaku hanya terbuka pada suara-suara yang lagi susah, yang lagi sakit dan butuh nasehat kecil tentang sebuah kata kunci “Kanker”

Kau mungkin tidak akan takut dengan kata “kanker” itu, kau boleh saja berseloroh tentangnya sebagai sebuah kantong kering atau anekdot lainnya hingga kau kelak menghadapinya karena ia bernaung di dalam dirimu, dalam diri orang yang kau kasihi, dalam diri saudaramu atau dalam diri teman yang kau sayangi. Jika kau terpaku karenanya dan merasa berdenging di dengkulmu karena tak kuat menahan kekhawatiran, boleh-boleh saja kau berbicara dari hati ke  hati padaku, itupun kalau kau mau dan merasa belum ada yang lainnya yang lebih baik.

Untuk yang pertama, kau boleh mengajakku tertawa sembari aku tetap bekerja di bawah daun-daun hijau kelapa sawitku tanpa harus berhenti dan tanpa harus melap keringat. Namun untuk yang kedua, aku akan berhenti bekerja, sedaya upaya akan mencoba menenangkan diriku lalu menenangkan dirimu, mengingat apa yang pernah kupelajari dan kualami selama beberapa tahun tentang kanker sialan itu. Lalu mencoba memetik hikmah yang perlu dan berbagi kalau kau mau menerimanya. Kau boleh memilah, memakai yang kau perlu dan membuang yang kau tak suka. Mungkin kau akan bertanya dan aku berusaha menjawab. Mungkin pengetahuanku tentang itu masihlah cetek dibanding dokter-dokter ahli. Tentu saja itu benar, tapi aku memiliki waktu yang berlebih dibanding mereka, dan aku tak harus mengingat jarum jam atau memutar tombol-tombol waktu sejak pertama kali kita bicara tentang penyakit sialan itu lalu mengeluarkan billing. Tidak! Ini kulakukan karena akupun pernah sedikit terdamaikan oleh orang yang tidak kukenal waktu penyakit itu ada didepan mataku selama bertahun-tahun. Dia memberiku nasihat yang tidak kalah mahalnya dibanding yang diberikan oleh dokter walaupun hanya lewat sms dan hanya lewat dunia maya belaka. Waktu itu sudah kusadari bahwa pengetahuan dia tentang penyakit kanker itu sangatlah jauh dibanding dengan apa yang menjadi harapanku atas sejumlah pertanyaan yang bergayut di hati. Tapi kedamaian dan pengharapan tetaplah terkandung dalam kalimatnya dan itu hingga kini belumlah mampu kubayar dengan apapun selain daripada mencoba berbuat seperti yang pernah dilakukannya padaku.

Daun Hijau dan mari makan mie

Tak banyak kegembiraan yang bisa kami dapatkan dibanding apa yang didapatkan oleh orang-orang kota di metropolitan sana. Tapi yang sedikit itu kadang sudah lebih daripada cukup daripada tidak ada sama sekali.

Tak ada listrik, tak ada mesin cuci, tak ada televisi, tak ada playstation atau barang-barang sejenisnya. Di kota barang-barang itu sudah termasuk kategori barang biasa. Tapi jangan tanya di sini, benda-benda itu kadang sering mampir hanya dalam mimpi saja.

Tapi hari ini kawan, mie yang kami masak dengan kayu bakar dan kuali hitam, ternyata mampu mengundang canda gurau dan tawa. Sementara itu, biarlah dulu anak-anak itu serius menikmati mienya.

“Nyam…. nyam… nyam…”, kata anak-anak
“Huah… ha… ha… ha…”, kata kami, demi melihat tingkah aneh mereka saat salah seorang dari kami diam-diam menggelitik kuping anak-anak itu dengan daun sawit hijau dari belakang pintu.

isi test tampilkan gbr

yuuy tggy

Daun Hijau 2

Jiwaku berlari merentang belukar hutan
melayang melewati pohon-pohon
menyatu pada rambah gemuruh angin.
Lebur tanpa batas.

Hatiku berlari di antara pohon-pohon,
membawa gapai gemuruh perasaan yang ingin terbang mengangkasa lalu lenyap tanpa suara

Begitulah aku mencari-cari jejakmu di sini
Saat aku letih kupaku kakiku ke dermaga kecil
dan menemukanmu mengalir pada selembar daun hijau
yang mengapung di atas sungai hitam

(PiS)

Previous Older Entries

Top Rated