Di 61.000 Km tanpamu

05:11 AM — “Di 61.000 KM tanpamu”
Masih akan kugelindingkan roda-rodaku mencuri jeda antara bangun dan tidurnya matahari, meski jalanku terasa masih buta menuju titik mimpi raksasa yang tidak dibutuhkan oleh hatiku. Sungguh menyesakkan dada ketika otakku sudah mulai bersiasat : “Bukankah ulat bahkan tidak bisa menebak akan jadi apa dia kelak setelah menjadi kepompong? Jadi apa yang kau takutkan? Di sana pasti keindahan itu terhampar.”
Hatiku berkata :”Keindahan itulah yang kutakutkan, karena keindahan adalah awal dari kepak sayap-sayap keangkuhan dan sayap-sayap kesombongan yang kelak akan memenjarakan kebebasan waktu!”
Hatiku dan otakku masih berdebat, tapi roda-rodaku tetap menggelinding… dst… dst… (PiS, 130412, Tambahan manuskrip “Perjalanan #3, Ulat yang rendah hati dan kupu-kupu yang mengepakkan keangkuhan”) with Maryati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated