Tadi Pagi

Serasa kau masih disekitarku, sayang. Jadi aku ke dapur, barang kali engkau sedang sibuk mengiris bawang,  membuat jus wortel atau memasak. Tapi di sana hanya kutemui gelas, sendok, pisau dan piring kotor. Entahlah,  mungkin masih ada harapan, jadi kucoba membuka kamar-kamar belakang, berharap kau di sana sedang sibuk bersih-bersih dan butuh bantuanku. Lagi, hanya ada tumpukan buku, kertas-kertas usang,  koran bekas berserakan dan angin belaka.

Pagi tadi, tak ada bunyi gelas gemerincing, tak ada bunyi air keran, atau senandung kecil, yang ada hanya bisik sang sunyi menghimpit dada dan perasaan hampa tak terperikan. Kupikir kau lagi belanja, jadi aku ke beranda, kucoba duduk sementara menantikanmu. Alangkah lama datangmu.

Di ruang Website terlihat kosong, anak-anak belum datang. Di dindingnya ada fotomu dengan mbak Umi bersama Adnan Buyung dan entah siapa lagi itu teman-temanmu itu. Kalau kutatap seolah engkau bilang kau baru sibuk ikut perkumpulan, arisan atau apalah, kau akan pulang sebentar lagi.

Meja-meja dirungan itu terasa dingin, detak jarum jam terasa miris. Ada kartu namamu dan dadaku berdebar membacanya. Kertas-kertasmu masih bertebaran, dan coretan tanganmu, astaga…., hatiku ini….

Di taman belakangpun  sunyi, bunga-bunga sudah tidak terurus, kaupun tak ada situ. Dulu, pagi-pagi sekali, engkau sering kudapati di situ, kalau tidak menyiram bunga, kau sedang mencabuti rumput atau menanam biji Anthurium. Kau selalu bilang, “Ayo bang dibantu, siapa tahu besok bisa di jual.” Mana suaramu itu sayang…?

Kurasa aku hanya sedang bermimpi, sayang. Mar.., apakah kau ada di angin-angin seputarku? Apakah kau ada di langit-langit taman ini? Atau dimanakah kau sayang? Apakah kau betul-betul sudah di pembaringan yang kekal itu? Apakah kau di surga? Masih kau dengarkah kalau aku bernyanyi pagi-pagi untukmu? Lagu si Ebiet G. Ade itu sekarang sering kukumandangkan pada pagi, malam, bahkan dini hari, sambil berharap cemas bahwa kau masih bersedia meluangkan waktu mendengarkan, tersenyum dan menggamitku menyuruh tidur. Kau dengar tidak sayang lagu-lagu itu? Kau dengar nggak rintihan dawai gitarku itu?

Kurasa kau sedang membaca tulisanku ini, dan memelukku dari belakang tanpa kusadari.

Masih Ada beribu pertanyaan Mar, berbisiklah padaku sesekali. Jangan biarkan aku selalu menunggu, menunggu dan menunggu, setidaknya kirimkan bayanganmu sekedar menemani mimpi panjangku.

In English : This Morning

From : www.maryati.net 

—————————
24 Februari 2011
——————————

line twilight
Luka-Luka Hati Lainnya :

line twilight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated