Tuhan, Selembar Daun Kuning dan Kau = abadi

Dengan hati-hati, kugenggam selembar daun kuning yang luruh ke bumi. Terbersit gelepar resah di hatiku, namun sedikit terhibur ketika akar berkata dalam nyanyiannya, “Janganlah risau, seperti biasa, jemari pohon akan mencatatnya ke dalam kekal, lagi pula daun kuning hanyalah beban atas cengkramanku ke bumi kehidupan demi si pohon.”
Ya aku harus yakin,  meski dulu dan kelak ada jutaan yang telah dan akan berguguran lagi, pohon tidak akan letih mengabadikannya, karena dia sadar bahwa selembar daun itu pernah ikut andil menenun selnya ke batang agar pohon menjadi lebih kokoh  dan menjadi lebih abadi.
Tuhan mengasihi akar itu
juga pohon itu
tapi Ia jauh lebih mengasihi si daun kuning

Dengan hati-hati kugenggam selembar daun kuning, tapi terlepas, terbang, tersapu, terhempas oleh angin kencang. Si angin berbisik padaku, membela diri dan berkata, “Musim berganti, musim berganti, tumbuh dan jatuh harus berganti, itu karmanya.”
Debu-debu menyatu menjadi gundukan,  menimbun si lembar daun kuning. Si debu berbisik padaku membela diri, berusaha meyakinkanku, “Takdirnya tiba, aku berdoa agar daun kuning itu diterima di sisi-Nya dan agar pohon ikhlas dalam heningnya.”
Aku menghela nafas dalam-dalam, butiran iman membasuhku, terasa di nadiku si daun kuning akan menjadi humus, maka satu elemen kecil akan terserap ke nadi kehidupan. Kehidupan menjadi lebih kokoh dan menjadi lebih abadi.”
Tuhan mengasihi angin itu
juga debu itu
tapi ia jauh lebih mengasihi si daun kuning

Kugenggam kenanganmu erat di pucuk hatiku. Kutebar dalam detik-detik yang mengalir di tiap detak jam dan tumpah ruah di helai kanvas langitku. Dulu, ingin kurawat dan kujaga si daun hijau dari angin dunia yang dia bilang selalu meresahkan. Tapi kini kau hanyalah daun kuning itu. Angin dan waktu selalu berkuasa lalu menang di atas kita. Kunyanyikan, kucatat, kubisiki, kuyakinkan diriku, bahwa kau baik-baik saja di Sana mengepak sayapmu, sedang aku berjuang tertatih-tatih agar terlepas dari menjadi kekasih bayangmu. Kini orang-orang merasa khilaf karena merentang sabarnya di jalanku, sebagian geram membendung amarah, sebagian lagi, heran, risih, dan aku bisa bernafas karena segelintir ikut larut digemulai layar lukaku dan ikut mendayung pada samudera kesepian. Entah kenapa aku harus perduli bagi apa yang tak mampu mereka maknai tentang selembar daun kuning dan kau.  Nasehat mereka bagai peluru gemerincing bertubi tentang iman, menghujaniku dari ribuan arah, tapi semua kata terasa hampa bagiku dari orang yang bukan kau. Mungkin benar aku kurang memahami dalamnya lautan tentang iman, karena dayungku patah oleh pisau rindu yang kau tinggalkan di sini. Tapi pelangimu masih saja kuabadikan di jiwaku, karena kaulah warna terluas di ribuan kanvasku, semoga  itu menjadikanku lebih kokoh, walau tanpamu, aku lelah menjadi lebih abadi.
Tuhan mengasihi orang-orang itu
juga hatiku ini
tapi Dia jauh lebih mengasihimu, Mar…

———————————————————————-
By : PiS –  Gerhana dini hari, 16 Juni 2011
from : www.Maryati.net
———————————————————————-

line twilight
Luka Lain :

line twilight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated