Larut Oleh Rindu

Aku telah larut
luruh ke dalam waktu
Memendar perlahan dan akan menjadi nol

Aku telah larut
luruh bersama air mataku
membulir perlahan dan akan menguap menjadi nol

Aku telah larut
luruh bersama rindu
mengalir perlahan, terbang ke langit biru menjadi nol

Aku sungguh akan larut
karena sungguh masih kehilangan cinta ikhlasmu
yang kini menjadikan diriku berdiri di titik nol

(PiS, “Rindu Itu Masih Ada”)

Advertisements

MENCARI MUSIM

“Gantilah musimku.”
Demikian pinta gersangku pada-Mu Tuhan
karena aku ingin menaman rumput hijau
agar menjadi paru-paru baru bagi kemarauku

(PiS 210212, “Terik”)

LORCA

Jangan kau bisikkan lagi catatan-catatan Lorca
Saat aku mencoba menyemai kata-kataku sendiri
dan menuliskannya di pasir tempat jejakmu terkulai

Kau pasti memahami
bahwa bagiku mendengarkan segala keindahan kata
rasanya hanya seperti menuai hari dalam bulir yang lompong

Aku sedang tak butuh Lorca atau Walt Whitman
yang kubutuhkan hanyalah senyummu
yang lama tertelan zaman dan hilang di sungai deras
karena hanya senyummu itulah sumur
tempat mata air kata-kataku melahirkan makna bagi hariku

(PiS, 210212)

Lelawa Luruh di Rumput Batinku

Lelawa

seperti menanti sebuah musim yang tak ada
pada setiap musim yang selalu berganti
begitulah bisik paru-paruku pada langit
saat awan memukau jemari nafas rindu

seperti mencari mata air yang hilang
pada setiap deras sungai kasih yang kau aliri
begitulah kecipak riam menyibak suara alam
saat kau mengatupkan matamu meninggalkanku

Kau yang menyiramkan warnamu :
memekarkan kalimat indah karena bagai buai mimpi

Kau yang memahat hatiku :
memerdekakan jiwaku mengejar sayap bayangmu

Di kepalku masih kugenggam tulus ikhlasmu
yang selalu setia menitiskan rasa kasih
membungkam gersangku yang masih terbentang
Dan pagi ini, dari matamu luruh lelawa
menyaput benih rumput biru di halaman batinku

(PiS; 14 Februari 2012, “Di semua musim”)

Mungkin kau sudah tak tertarik lagi!

Ingin aku mengukir-ukir arakan awan-awan
Agar kau bergeming tentang isi kalbuku
Ah…, ini seperti dulu-dulu di masa lalu
Kini aku tak lagi mampu mengeja iba cintamu
untuk menguntaikan kembali ke ruas batinku
meski jemari setiaku, utuh mencari ronamu

Maafkan aku mengusik siangmu
menafikan cerah dalam cemerlang Minggu
Dalam hening doaku
kaulah langit biru tercermin ke laut biru
yang menghaturkan camar agar terbang sendirian

Di atas kepak semua keindahan ini,
hanya senyap mengungkung lukaku,
mungkin kau sudah tak tertarik lagi
karena kini sampul bukumu tertulis judul :
“Masa lalu”

(PiS, 120212, “Tepi laut biru”)

Menarikan Mimpi

Andai kumampu meminjam setitik waktu
tentu sekejap kecup mampir ke keningmu
Andai kumampu memutar kincir waktu
tentu senyap senyum melahap rinduku

Andai kumampu menari dalam mimpimu
tentu rentak hentak menapak merdu
Andai kumampu menyapa sepimu
tentu seribu sendu menjadi lagumu

Karena aku tak mampu,
jadi kucoba menarikan mimpiku

(PiS, 120212, “

Cermin sebuah rekuim… ! (1)

Tentu tidak gampang menyambut sebuah pagi yang indah berseri :

bersama “jemari matahari” yang menyibak kelopak, agar mata menangkap milyaran warna ; tapi hati buta telah membekukan kornea.

bersama ”ramahnya kehijauan” yang selalu menghaturkan nafas daun-daun ikhlas, agar paru-paru menjadi segar ketika menghirup rentang waktu ; tapi hati hitam mengatup jalan menyesakkan dada

bersama “semangat angin” yang menyibak rambut, agar telinga tidak terhalang dalam merayapi riuh rendahnya suara kehidupan ; tapi hati lemah telah menulikan gendang pendengaran.

bersama “sayap-sayap putih kehidupan” yang menerbangkan kemerdekaan cita-cita padi ke awan putih, agar tangan-tangan bebas terentang melepas buah ; tapi hati rapuh selalu memenjarakan sayap pada mimpi akan negeri indah tanpa peta.
bersama “kumandang ribuan doa” yang menjunjung langit tinggi, agar tulus ikhlas melumuri sekujur tubuh ; tapi hati lumpuh telah menambatkan jiwa pada tiang masa lalu.

bersama “kobar api kehidupan” yang menorehkan semangat, agar setiap langkah berderak rentak menelusuri waktu ; tapi hati berbatu telah melumpuhkan kaki-kaki keinginan.

(PiS, 06022012, Coretan2 di “Rekuim” masih refisi)

“Nyanyian Rindu”

Rabalah aku dalam kesunyianku
Kau akan merasakan ribuan rindu
dalam hangat yang selalu melembut

Katuplah matamu pada kegelapanku
Kau akan merasakan satu langkah sinar
dalam kepastian yang selalu syahdu

Di sini, kulantunkan doa
menjembatani jurang bernama abadi.
Sekedar mencoba menyapa
sayup indah gapai lenganmu
Dan jika kau masih mengingatku
Nada untukmu akan terhunus menembus langit ketujuh

(PiS, 05.02.12 “Dari Catatan2 Rekuim”)

Rekuim 2


Sayup detakku di Jantung malam
Membisiki bulan yg cemas sendirian
Nada rinduku hening di tirai angin
menemani gulita tanpa gemintang

Ingin kurebahkan jiwaku di antara jurang gema
Inginnya kuteriakkan namamu menantang alunan kodrat

Sudahlah hatiku..!
Lelapkan mimpimu di pangkuan beku aksara
Biarkan jua mataku terkatup angan abadiku
Dan masih kusempatkan menorehkan nafasku
dalam sepotong doa tanpa berjudul

(PiS, 31.01.12, “Nyanyian Malam”)

Top Rated