I Miss You This Night in This Taman Budaya

.

Sudah beberapa kali aku lewat Taman Budaya ini, kukira karena aku sangat mengagumi patung besar itu. Awalnya mungkin ya, betapa tidak, bayangkan saja katanya patung kepala bayi itu dibuat dengan menggunakan 20 ton tanah liat. Kapan-kapan kalau aku punya uang aku ingin membuat patungmu di halaman rumahku, tapi rumahkupun belum ada, lagi pula itu kalau tidak ada yang protes atau menggerutu. Kau kan tahu, sekarang kata temanku aku semakin lebih suka mengalah dan pasrah. Kurasa itu lebih baik, sepanjang tidak mengganggu catatanku ini. Lagipula, bukankah aku sedikit banyaknya belajar kesabaran dari Ajahn Brahm. Jadi kalau ada yang tidak senang, bersabarlah kau demi patungmu itu.

Kutimang-timang lagi, pada akhirnya kuambil kesimpulan, bukan karena patung itu makanya aku sering melintas di depan gedung ini. Tapi lebih cenderung, karena belakangan kutahu diriku sudah merasa semakin sangat asing di dunia nyata menghadapi gelinding mimpi panjang ini. Tapi beruntunglah aku masih memiliki cita-cita kecilku demi kau. Dan meski beribukali aku melintas di sini, tentu saja kau tidak mungkin akan ada sedang memfoto atau sedang bertanya-tanya pada para penjaga benda-benda seni itu seperti dulu lagi.

Seperti ketika suami temanmu itu mengadakan konser saksophone-nya di sini. Entah siapa namanya itu, aku sudah lupa. Saat itu kau sangat bersemangat bercerita tentang ini itu seputar suaminya dan menunjukkan Compac Disc-nya yang elegan itu. Kurasa kau lupa, aku tidak bisa main saxsophone, tapi bukankah gitarku selalu berdenting untukmu tiap pagi atau malam? Apakah itu kau ceritakan pada istrinya?

Kau memang tak mengirim bayangmu ke sini. Barangkali waktu yang tersedia untuk sekedar bayangmu itu sudah habis untuk saudarimu. Ya, ia menelponku beberapa kali dan bercerita, tapi apakah aku perlu cemburu padanya atas apa yang ia dapatkan darimu tapi tak kuterima hingga kini. Demikian bencikah kau padaku?

Silhuetmu tidak ada di sini. Apakah kau sudah tidak menyukai dunia seni dan budaya lagi? Kuingat dulu pada awalnya, kau selalu menguap demi menonton hal-hal seperti ini. Kutahu kau kurang suka, tapi selalu kupancing,  bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih surga kecuali dunia seni, budaya dan sastra, di samping mencintaimu tentunya. Bahwa sense and sensibility manusia akan lebih terasah dengan lebih seksama, hal-hal seperti itulah yang memberangkatkan hati kita sehingga kita tahu apa yang dimaui oleh Tuhan tentang sebutir perasaan dalam memandang makhluk ciptaannya yang lain.

Tapi belakangan bukankah kau yang selalu mencari moment untuk hal-hal seperti ini. Bukankah kau yang selalu ditelpon temanmu yang di Even Organizer itu agar ke sini atau ke situ untuk sebuah pertunjukan?  Apakah ini hanya karena demi anakmu itu saja.  Dan apakah karena si kecil itu tidak ada di sini, maka kaupun enggan sekedar menemaniku duduk di sini bersama patung kepala bayi ini?

PiS : 20 Juli 2011

In English : I Miss You This Night In This Taman Budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated