Olenka, Rinduku Seabad Padamu

Rinduku satu abad

Olenka, Olenka, Olenka. Lagi aku berkata pada diriku sendiri, karena kau dan dia kutemui dalam nama itu.

Sayangku, penuh aku merindukanmu hari-hari ini, semakin saja melebihi kerinduan yang sudah-sudah. Saat malam menjelang, tak kuasa aku menahan perasaanku. Telah kulepaskan semua beban dari dadaku ke atas kertas dan bukuku. Kau mengalir di sana ditiap lembarannya.  Tidak juga berkurang derasnya dari hari ke hari. Ingin kupukuli diriku, ingin kusakiti  diriku atau ingin aku merobohkan tembok batu kokoh yang dingin menantangku, namun ada bayangan lembutmu menahan diriku untuk lebih baik berdiam diri daripada bertindak suram. Tapi kemana lagi aku harus mengeluh? Detik demi detikku berjalan terlalu lemah, langkah-langkahku terasa begitu pendek meniti hari pada lembaran abad yang tak berkesudahan ini.

Tadi, kala terik mentari menyengat, kucoba berbagai lelucon tak masuk akal, kekanakan, serampangan. Aku tertawa, semua tertawa, tapi jelas terasa luka lirih tak terungkap disudut hatiku. Ku tahu kau tidak akan menyukai itu, tapi alangkah perih bahwa aku tak mampu menepisnya sedikitpun. Tanganku kaku dalam gemetar halus, dadaku sesak dalam pengharapan nihil, doa-doaku tersekat di tenggorokanku yang kelu, serasa aku melayang tak sadarkan diri dan suaraku hilang tak berarti. Ingin aku berbaring di sisimu, menunggu bisikmu mengalunkan tentang kesabaran. Sekali lagi, aku tak mampu memendam kerinduanku ini padamu. Tak terlukiskan rasa sepiku ini, dia menikamku bertubi tak terampunkan. Bukan aku tidak mencoba. Kau tahu akulah orang dengan segunung pengharapan, sekokoh koral dan sekeras baja, selalu begitu tentangku untuk apapun, tapi tidak di hadapkan dengan tentang kehilanganmu. Telah berulang-kali  kucoba, namun aku selalu tersungkur dalam tangisku yang kusimpan dalam-dalam di lubuk hatiku.  Seperti telah kau duga di sudut mata dan bibirmu dan suratmu. Ini bisa saja akan lama atau berlarut-larut. Jadi maafkan aku karena masih gagal dan belum dewasa menguntai langkah ke hari depanku. Sudahlah, biarlah semua ini mengalir bagai air anak sungai menuju laut lepas, menuju kejauhan ufuk sana, tempat semua berkumpul, menunggu sang surya terbit dan tenggelam.

Kuhembusankan kenangan kita, 10 tahun bertebaran di dinding dan langit-langit rumah ini, di sini, di ruangan-ruangan sederhana ini, membuat langkahku teramat berat dan beku. Kadang kekuatan aneh datang,  bagai topan memindahkan sendiri semua kenangan termasuk rak-rak, lemari, pot-pot besar, kardus-kardus penuh buku ke tempat yang baru. Kutahu ini akan menggelisahkan, itu semua tertata di luar kesadaran. Aku tidur dalam putaran jam gelisah, mencoba bekerja tanpa henti, tapi hatiku melayang di langit sana, tahulah aku, aku merindukanmu lebih daripada yang kusadari selama ini. Jadi relakanlah dan jangan sesalkan aku menjadi laki-laki dengan keharusan menangisi diriku dan kesepianku sendiri.

Really miss you. PiS

From : www.Maryati.net

In English : Olenka, My Longing is One Century For You

line twilight

Luka Lain :

line twilight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated