Elegi Februari

September yang selalu teringat
tak terlupakan, saat cinta menabur tambur
suaranya mengakar dalam basuhan kemelut bertubi

Namun Februari yang ingin kutepis
selalu menang ke atas batinku,
tak terhanyutkan hujan tak terlekangkan panas

Februari selalu hadir mengalirkan kenangan,
Melahirkan elegi panjang saat kau mengepak sayap abadimu
Meninggalkan simponi yang tak jadi selamanya

Advertisements

Daun Hijau dan Matahari Yang Mulai Tenggelam (1)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam

Aku bisa melihat matahari berkaca di danau kecil yang pinggirnya ditumbuhi ilalang-ilalang hijau. Sekumpulan ilalang itu mulai menidurkan semangat ekspansinya, lemah seperti pasrah. Ya…, matahari punya kekuasaan untuk membuatnya tetap hijau atau menenggelamkan pigmennya menjadi kuning bahkan coklat meranggas.

Kali ini yang akan kukatakan bukanlah faktanya, hanya kelihatannya saja, bahwa warna seluruh daun-daun tampak mulai memudar menjadi hitam, meski mereka sebetulnya masih menggenggam warna hijau dalam jiwanya.

Andai aku masih punya kamera semi prof, tentu gradasi dari hijau ke hitam itu bisa kutangkap meski aku bukanlah fotographer.

Begitu juga cahaya matahari itu, harusnya indah bagai binar seorang bidadari yang pernah kukenal. Mungkin kau ingin juga mengenalnya bukan? Hmmm… gampang saja tatap saja selalu matahari yang baru terbit dan matahari yang mulai tenggelam, open your mind, maka di sana akan kau lihat mata bidadari yang akan memberimu semangat bekerja dan mata bidadari yang akan meninabobokkanmu dalam mimpi dan kerinduan.

 

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (2)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (2)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (4)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (4)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (5)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (5)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (6)

Daun Hijau dan matahari yang mulai tenggelam (6)

 

Daun Hijau Menggapai Awan Putih dan Langit Biru

Daun hijau menggapai awan putih dan langit biru

Jari-jemari itu, hijau, menggapai kubah biru berselimut putih. Ia ingin sekali bersalaman dengan titik redup yang tinggi jauh di atas sana, yang menyimpan semangat dan sari kehidupan dalam siklus yang selalu bergantian. Tidak seperti hujan dan kemarau, ia akan tetap selalu hadir kedalam musim apapun, meski kadang suram oleh asap buatan manusia atau oleh kabut ciptaan Tuhan. Sesekali ia bersembunyi tapi tetap mempersembahkan energi agar kehidupan senantiasa tetap berjalan pada titian waktu sebagai jembatan karunia.

Saat kutatap tinggi-tinggi, aku mendengar bisikan suara hatiku dengan seksama, “Kekasihku, apakah kau di Sana?” Tentu saja itu ungkapan rindu yang datang dengan tidak kusadari.

“Kenapa mesti  mengelak?” demikian kata perasaanku.

Dan saat pikiran-pikiran logika datang bahwa “bekerja lebih baik daripada menimang masa lalu yang tak bermanfaat”, datang dan tersiratlah kata di antara hati dan pikiran : “Inilah seni, inilah kehidupan, kau boleh memilih menikmati gemerlap bintang-bintang malam dan purnamanya dengan suka cita atau dengan perih hati. Kau bisa menikmati kelabu senja dengan senyum atau sejumlah kerut menguasai keningmu. Kau bisa memilih menjadikan rasa rindumu menjadi tikaman atau menjadi balutan lembut di ulu hatimu. Jadi kenapa mesti kau tepis, kalau puncak rasa rindumu bisa kau jadikan sebagai simbol bahwa ada Kekuasaan yang maha tinggi yang bisa menyatukan dan memisahkanmu dengan orang yang kau sayangi atau dengan siapapun. Dan kaupun telah melihat, bahwa rasa rindumu dalam tatanan indah telah membuat ia hadir di antara langit biru, awan putih sebagai matahari yang redup bercahaya namun tersirat binar terang dalam jiwanya yang akan membantu menerangi jalanmu, menolong tangan-tangan hijaumu saat menggapai indahnya redup mentari di langit biru berawan putih. Suat saat, kau akan memetik buahnya!”

“Ya, akan kupilih kata diantara hati dan pikiranku!”

Dari kumpulan catatan “Di Bawah Daun-daun Hijau”

Daun hijau menggapai awan putih dan langit biru
Daun hijau menggapai awan putih dan langit biru

Daun Hijau dan mari makan mie

Tak banyak kegembiraan yang bisa kami dapatkan dibanding apa yang didapatkan oleh orang-orang kota di metropolitan sana. Tapi yang sedikit itu kadang sudah lebih daripada cukup daripada tidak ada sama sekali.

Tak ada listrik, tak ada mesin cuci, tak ada televisi, tak ada playstation atau barang-barang sejenisnya. Di kota barang-barang itu sudah termasuk kategori barang biasa. Tapi jangan tanya di sini, benda-benda itu kadang sering mampir hanya dalam mimpi saja.

Tapi hari ini kawan, mie yang kami masak dengan kayu bakar dan kuali hitam, ternyata mampu mengundang canda gurau dan tawa. Sementara itu, biarlah dulu anak-anak itu serius menikmati mienya.

“Nyam…. nyam… nyam…”, kata anak-anak
“Huah… ha… ha… ha…”, kata kami, demi melihat tingkah aneh mereka saat salah seorang dari kami diam-diam menggelitik kuping anak-anak itu dengan daun sawit hijau dari belakang pintu.

Menangkap Daun Hijau di Dalam Jurang (1)

Daun hijau dalam jurang

Menangkap sebuah gambar dari alam yang indah sesuai dengan keinginan hati agar kekaguman yang menyelimuti diriku bisa kubagi tanpa harus berkata-kata tidaklah sulit bagi seorang fotografer yang profesional, tapi bagiku hal itu seperti melawan arus sungai dengan tujuan cepat-cepat menggapai hulu.

Meski demikian, aku tak mau membungkam keinginan berbagiku walau jelas tak menemui makna sempurna. Jadi kucoba meng-klik beberapa bagian dari pemandangan ini dengan sedikit harapan agar teman-teman yang terlanjur masuk kehalaman ini merasakan gemuruh kagum yang tersirat di seluruh nadiku atas kebesaran dan kemahakuasaan pencipta.

Memang sungguh sayang, kini aku tak lagi memiliki kamera semipro-ku. Tapi segala yang kudapat, meski kecil, taklah membuatku menggerutu hingga melemparkan nilai diri atau merendahkan nilai diri hingga jatuh kepada keserakahan dan ketidak sabaran. Kupikir aku masih bisa mencoba berbagi kekaguman yang menyelimuti hati dan pikiranku ini walau dengan mengabadikan foto daerah ini memakai kamera pocket dan kamera handphone. Dan engkau yang berjiwa seni, mungkin bisa mengimajinasikannya melalui hal-hal serupa yang pernah kau lihat, menutupkan kedua bola mata dan membayangkan seperti apa yang kulihat ini.

Sobat! Ngarai ini menurutku tidak kalah indahnya dengan ngarai atau jurang yang ada di Kaliurang, tempat aku biasa menumpahkan rasa rindu dan membungkam rasa sepi saat masih tinggal di Yogyakarta. Tidak ada wisatawan yang mau datang kesini, terkecuali orang-orang luar yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan orang-orang yang tinggal di sini.

Bisa kukatakan kondisi tanaman di sini mirip dengan kondisi tanaman yang di Kaliurang, hanya ada sedikit pohon hijau, yang rimbun adalah rumput-rumput liar, sejenis gulma atau pakis berdaun hijau.

Dan bila kekaguman itu ada pada dirimu, seperti yang ada pada diriku, kurasa saat itulah perasaan  kita berjalan menuju titik yang sama. Keagungan Sang Pencipta.

Dari kumpulan Catatan Harian “PiS”

Daun hijau dalam jurang
Daun hijau dalam jurang

Daun Hijau dan lembah
Daun Hijau dan lembah

Daun Hijau dan ngarai (2)
Daun Hijau dan ngarai (2)

Bulan di Atas Daun-daun Hijau

Daun Hijau dan Malam (1)

Hari ini rasanya malam terlalu cepat datang. Ia mengejar terang secepat  elang mengejar ayam. Senja ditelannya bulat-bulat dalam  hitungan waktu yang tak kami sadari. Gelap!!! Tapi kami masih di ladang sawit menyelesaikan kerja panen dari buah yang seolah ada dan selalu ada.  Tapi mengeluh bukanlah hal yang patut pada bagian letih yang ini. Karena letih yang ini adalah refleksi dari rejeki yang harusnya disyukuri. Harus di syukuri meski tulang serasa putus pada belikat, meski keringat bagai tiris hujan meninggalkan kulit, dan meski tanah-tanah landai  naik-turun menyerap tenaga seperti terik  menguapkan air. Hmmm… sudahlah…! Inilah bagian dari doa yang dikabulkan.

Dan lihat…! Masih ada beberapa ton tandan buah sawit yang harus kami antar ke  RAM. Brondolan sawit juga masih banyak berserangkan, kontras dalam warna oranye-nya di antara helai-helai rumput hijau. Tak lelap oleh hitam malam. Tetap spesifik menampakkan dirinya bahwa meski kecil ia ada bersama yang lainnya. Brondolan oranye itu harus kami kumpulkan meski  badan rasanya telah mencapai keletihan yang sempurna.

Dan “Hai… hai…  hai…, lihat!” bulan memberi semangat, mengirimkan cahaya di antara daun-daun sawit hijau yang tampak kelihatan hitam karena malam. Cahayanya cukup terang untuk menembus pelepah-pelepah. Sinar yang ternyata  cukup tajam untuk menggodam semangat kami. Mengirimkan sinyal spirit dan memantulkan suatu kekuatan agar tangan tetap berayun dan agar kaki tetap berlangkah. Ayo…!

Daun hijau dan malam (2)

Daun Hijau dan Malam (4)

Dari kumpulan catatan Harian : “Bulan di Atas Daun-daun Hijau”

isi test tampilkan gbr

yuuy tggy

Limfoma

Limfoma adalah salah satu jenis kanker darah yang terjadi ketika limfosit B atau T, yaitu sel darah putih yang menjaga daya tahan tubuh, menjadi abnormal dengan membelah lebih cepat dari sel biasa atau hidup lebih lama dari biasanya. Limfoma dapat muncul di berbagai bagian tubuh, seperti nodus limfa, limpa, sumsum tulang, darah, atau organ lainnya, yang pada akhirnya akan membentuk tumor, yang tumbuh dan mengambil ruang jaringan dan organ di sekitarnya, sehingga menghentikan asupan oksigen dan nutrien untuk jaringan atau organ tersebut.

Limfoma dapat ditangani dengan melakukan kemoterapi dan kadang-kadang radioterapi atau transplantasi sumsum tulang, dan penyembuhannya tergantung kepada histologi, jenis, dan tahapan penyakit. Sel kanker tersebut biasanya muncul di nodus limfa, yang juga dapat memengaruhi organ lain seperti kulit, otak, dan tulang (limfoma ekstranodal). Limfoma berhubungan dekat dengan leukemia, yang juga muncul di limfosit, namun hanya pada darah dan sumsum tulang, dan biasanya tidak membentuk tumor yang statis. Ada banyak jenis limfoma, dan limfoma merupakan salah satu penyakit hematologis.

Gejala

Berikut adalah gejala limfoma :

Limfadenopati or swelling of lymph nodes – It is the primary presentation in lymphoma.

  • Gejala B :
    • Demam
    • Keringat malam
    • Kehilangan berat badan
  • Gejala lain :
    • Anoreksia
    • Kelelahan
    • Dispnea
    • Gatal

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Limfoma

Sebuah Tempat Untukku

Tentu ada sebuah tempat buatku, dimana aku bisa bekerja keras menghabiskan sisa waktuku dan sisa-sisa tenagaku demi melewati lembar hari demi lembar hariku dan mengurainya menjadi sesuatu yang berarti meski hanya setitik.

Sebuah tempat untukku buat bekerja dan merenung arti kehidupan, jauh dari kebohongan-kebohongan, jauh dari intrik-intrik, jauh dari keinginan-keinginan tersembunyi selain daripada apa adanya dan keikhlasan. Sebuah tempat sederhana dimana aku bertemu orang-orang sederhana tanpa mengenakan topeng dan senyum misteri.

Di tempat itu pasti aku bisa leluasa menulis atau menuangkan perasaanku tentangmu, berbual-bual dengan bayangmu, mengeja arti dan makna kehidupan ini sambil berusaha tetap menjaga hatiku agar menjadi baik dan apa adanya.

Kau pasti mengerti dan memahami perasaanku, karena orang-orang yang dulu kukira sangat baik, malaikat-malaikat yang bertaburan dengan kalimat-kalimat tentang keimanan, ternyata mereka  hanyalah orang-orang yang memendam keinginan-keinginan tersembunyi yang sulit kupahami.

Tuhan kabulkanlah keinginanku, dan jadikan aku setidaknya sebagai sebutir debu yang sedikit berarti buat gurun kehidupan ini.

KEBOHONGAN

Tuhanku, jauhkan aku dari fikiran  : “Apa gunanya berkata jujur jika pada kenyataanya kebohongan ada di mana-mana.”

 

Quot A

A fool flatters himself, a wise man flatters the fool.
Edward G. Bulwer-Lytton

A good head and a good heart are always a formidable combination.
Nelson Mandela

A poem begins in delight and ends in wisdom.
Robert Frost

A prudent question is one-half of wisdom.
Francis Bacon

Mimpi

03.45 AM
Jangan biarkan sebuah mimpi mengendalikan kapan kau terjatuh dan kapan kau bangun (PiS, 14.06.12 “Terjaga lagi”)

Maafkan Aku, tentang Matamu Yang Indah :

Maafkan aku pernah bilang : “Matamu sungguh indah, sayang baterenya dari Cina. (Diari 1996-2008)

Maafkan aku, waktu kau marah, aku pernah bilang matamu cantik seperti lampu petromaks ketumpahan spiritus (PiS : Waktu kau Marah, Blog 2007)

Maafkan aku, pernah bilang matamu indah seperti bulan Purnama. Ketika kau tersenyum kubilang lagi : “Tapi dua mata itu harus digabung jadi satu dulu dan ditaruh di jidat. (PiS 2002)

Tak ada yang lebih indah dari matamu, apalagi jika taik matanya sebesar bola bekel ( sekitar 2001 )

Maafkan Aku, tentang waktu kau Hamil :

Maafkan aku, waktu kau hamil kubilang perutmu seperti puncak Merapi kesandung (PiS, BlogSpot 2007)

Maafkan aku, karena waktu kau hamil, aku bilang kita jangan jalan pagi di bunderan UGM, takutnya kau dikira nyuri drum band  mereka (1996-2008)

 

Milas, Learn to Say Hello…

Milas warung vegetarianAnd suddenly I have been here again. My heart takes me here outside of my consciousness. Have you sat on the gazebo bamboo in that corner? Like in the past again?

The situation was still silent, Gazebos of bamboo, library, beads, dreary lights, the visitors those who told whispery, everything was like the past, exactly at the moment we ate on the corner of gazebo in the western side, it always be in evening passed night.

Some waiters started to have a look a round. I thought someone started to recognize me. I didn’t know how I supposed to start saying hello or greet. Even I didn’t want to. It was not necessary I forgot my promise to you in the past that I had to learn and learned to greet friendly to whoever. You said so repeatedly. But how do I learn to greet well if my teacher was not in my side?

I is ok, I just behave no care, to defeat a logic I always proud of, that you have sat in my side/ But it is not logic that you are really here. My heart is you. It takes me here? Yeah, I thought you are here to accompany me only to order a corn burger you like. I like it also, I thought?

It was blurred while the fountain was splashed in the middle of pond. I did not bring my Mp3, so we started to learn a song of little fountain in the middle of pond, deep inside our heart. Its sound was the one we both love, we always looked for every time wherever we dropped by. In the middle of waving sound, I closed my eyes, the sound of fountain sang a song of you,

sang a song of your little waved-straight hair,
sang a song of your thin lips that always be friendly,
sang a song of your noble heart,
sang a song of your forgive soul,
sang a song of your bright eyes,
sang a song of your pure love,
sang a song of my longing and unlimited loneliness…

The waiter came with his sweet smile, I forgot whether I had replayed it or I just kept snilent and accept this menu. I did not why, maybe because of my promise, I became to be thought about the way to say hello or greet. But today my love, let them be forgotten. The one I know is I come here just want to greet you. That’s all.

And my love, where are you? How is the way, so I can just greet you?

Teach me, my love.
PiS, Milas, July 17 2011

Indonesian: Milas, Belajar Menyapa

Previous Older Entries

Top Rated