Lima meter saja…

lima meter saja ombak parang tritis

Lautkuuu…!
hempaskan aku ke dadanya
sekeras yang kau mau
kutahu tak kan kuluka,
karena dia waspada menanti
dengan bantalan hatinya
yang luas melindungiku

Gelombangku….!
lemparkan aku sekali hentak,
biarkan dia meraupku tenggelam dalam tapaknya
karena dari sana
telah 7 tahun kusedu nafas kehidupan
yang takkan kulupa seumur hidupku.
Dan lihatlah foto ini,
ia cuma lima meter saja dariku
(Lagu Diva buat mamanya….)

English : Five Meters Only

By PiS, Jakarta 11082011

Puisi-puisi lainnya :

Advertisements

Ma…!

pantai parang tritis divaSemua hempasan ombak
adalah sukacita dalam pelukmu
tawamu riuh melindungiku
tawaku gempita mengikutimu
teriakan kita
kokoh menahan gemuruh badai

pelukmu teramat dalam
membuatku terbuai dalam manja
tapi waktu yang teramat tajam
dengan singkat,
menebas pelukan kita berkeping-keping
aku gemetar
menanti ombak berikutnya,
ma….!!

PiS 11082011
(Nyanyian Diva buatmu)

Puisi Lainnya :

Kenangan adalah burung pipit dan kau

Kenangan adalah burung pipit dan kauKenangan bagai burung-burung pipit di tengah sawah
Kadang ia indah tak terperi
melompat lincah ke sana ke mari
kadang ia menyakitkan, mencuri padi-padi

Kenangan adalah kau, Mar…
Yang tersenyum di kejauhan
Kala itu, badai hujan, terik gersang, menjadi indah
Pagi sunyi, malam kelam, menjadi syahdu
maka seluruh langkah berayun ringan

Kenangan adalah kau, Mar…
Yang menangis di dadaku
Melarutkanku dalam samudra kasih tak berbatas
Meraupmu dalam dekapan penuh dan tak ingin kehilangan

Kenangan adalah pipit-pipit dan kau
beterbangan di sawahku
Hari ini jadilah web ini,
satu persatu sayap-sayap kutangkap
menguntaikannya menjadi kata dan bunga
lalu kuterbangkan ke jagad maya,
tapi sebagian padi dalam diriku telah hilang tercuri.

PiS 110811 (Refisi ke 2)

Puisi-puisi lainnya :

My wave

Throw me away once in a strike
let her take me sinkin her palm of hand
cause from there
I’ve taken my breath of life for 7 years
that I never forget in all of my life
And look at this picture,
She is only five meters from me…

(Diva’s song for her mom…)
By PiS, Jakarta 11082011

Milas, Belajar Menyapa

line twilight

Dan tiba-tiba  aku sudah berada di sini lagi. Hatiku membawaku kesini di luar kesadaranku. Apakah kau sudah duduk di gazebo bambu di pojok itu? Seperti dulu lagi?

Suasana masih hening, tenang. Gazebo-gazebo bambu, perpustakaan, pernak-pernik, lampu-lampu redup, para pengunjung yang bicaranya berbisik-bisik, semua masih seperti dulu, persis ketika kita makan di gazebo pojok sebelah barat, selalu saat menjelang malam.

Beberapa pelayan mulai melirik, kurasa seseorang ada yang mulai mengenaliku. Aku tak tahu harus dengan bagaimana memulai menyapa. Bukan aku tak ingin menyapa. Tidak pula aku melupakan janjiku dulu padamu, bahwa aku harus belajar dan belajar menyapa dengan ramah kepada siapa saja. Berulang kali kau katakan itu. Tapi bagaimana aku belajar menyapa dengan baik jikalau guruku tidak berada di sisiku?

Baiklah, aku bersikap bodoh saja, mengalahkan logika yang selalu kuagung-agungkan, bahwa kau sudah duduk di sebelahku. Tapi tidakkah logis, bahwa kau memang ada di sini. Hatiku adalah Kau. Hati itu yang membawaku ke sini? Ya, kurasa kau ada di sini menemaniku sekedar memesan burger jagung yang kau suka itu. Aku juga suka burger itu, kurasa?

Sayup-sayup air mancur di tengah kolam berkecipak.  Tidak kubawa Mp3ku, jadi kita mulai menyimak  nyanyian   air mancur kecil yang berada di tengah kolam, dalam-dalam di hati kita. Gemericiknya, adalah suara yang kita berdua cintai, yang selalu kita cari setiap kita singgah di manapun. Di tengah alunan buaian, kupejamkan mataku, gemericik air mancur itu menyanyikanmu,
menyanyikan rambutmu yang lurus dan sedikit berombak,
menyanyikan bibir tipismu yang selalu ramah,
menyanyikan hatimu yang mulia,
menyanyikan jiwamu yang pemaaf,
menyanyikan matamu yang berbinar,
menyanyikan kasihmu yang tulus
menyanyikan kerinduanku dan kesepianku yang tak berbatas….

Pelayan itu datang dengan senyum manisnya, aku lupa apakah aku sudah membalas senyumnya atau aku diam saja menerima menu itu.  Entah kenapa, mungkin karena janjiku, aku jadi memikirkan cara belajar menyapa. Tapi hari ini sayangku, biarkan dulu semua itu terlupakan. Yang kutahu aku datang ke sini hanya ingin menyapamu. Itu saja.

Dan kasihku, di manakah kau? Bagaimana caranya, agar aku bisa sekedar menyapamu? Ajarilah aku, kasihku.

PiS,  Milas, 17 Juli 2001

From : www.Maryati.net

In English : Milas, Learn To Say Hello
.

line twilight

Luka Lainnya :

line twilight

Protected: Manuskrip (2) Kata mereka

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Maaf, Kalau Masih Mungkin…

Like an arrow

Like an arrow

Entah apa yang harus kulakukan dengan kata “MAAF“. Di sini ada segudang kata maaf. Maaf itu melekat di jendela kamarku bersama titik-titik hujan yang masih gemeretak menampar kaca. Menghalangi pandanganku menembus kejauhan untuk menatapmu yang bersemayam di langit biru sana, di mataku langit itu menjadi selalu kelabu.

“Maaf dan maaf”, sampaikan kata itu buat ibumu di sana, kurasa ia ada di sisimu, tenang menghitung janji yang kubuat yang menurutku selalu kuanggap tidak terpenuhi, meski aku yakin betul bahwa kalian tak berkehendak menuntutnya. Kuyakin dia ikhlas persis ketika ia kita temui dulu, dia mengatakannya lewat tatapan seorang ibu sebelum ia sendiri menyadarinya. Tidakkah kau lihat ia selalu tersenyum dan tertawa kalau kita datang? Bukannya aku tidak ingin menuju impian itu, tapi, tangan, kaki, pikiranku  masih belajar mengejar panah waktu yang terlalu cepat melesat menghantam leburkan apa yang bernama titik impian milik kita. Sedang tanpamu aku hanyalah busur tanpa anak panah.

“Maaf” itu berserakan, berselipan di lembaran-lembaran pikiran dan perasaanku, bertaburan pada aliran detik-detikku, selalu berteriak di rongga dadaku. Kurasa aku mulai terbelenggu olehnya. Kata-kata itu tersekat di kerongkonganku.
Dia memaku mataku di tiap keinginan.
Mengait langkahku di tiap harapan.
Menyayat hatiku di tiap kesempatan.
Tapi ia juga meluruskan jalanku saat langkahku selip.

Kuyakin kau telah ikhlas  untuk tidak menuntutnya lagi, setidaknya saat ini di bumi ini termasuk di dalam mimpi-mimpiku.
Penyesalanku menjadi landasan ketidak berdayaanku,  meski sering kuanggap tidak perlu, karena kalau kukatakanpun itu hanya demi membela diriku sendiri.

Tapi, tetaplah, “Maafkan aku…!”

———————————————————–
PiS, Juni 2011,
From : www.Maryati.net
—————————————–

In English : Sorry If There Is Still Possible

Ini semua tentang :
– Kau yang lebih dulu pergi
– seorang ibu yang telah tiada

– diari yang sebagian kuhilangkan
– gadis kecil berjemari buntung
– Seorang anak di seberang
– sebuah website

– dendam yang hening

line twilight
Luka-Luka Hati Lainnya :

line twilight

Sangam House, Cita Rasa di balik Pintu Tebal

Sangam House Vegetarian Restaurant

Sangam House Vegetarian Restaurant

Malam itu kita bertiga, si kecil asik saja dengan bacaannya, sementara kau kelihatan gembira menemukan tempat baru itu. Selalu kuingat kata-katamu tentang menu vegetarian yang membosankan, jadi beruntunglah aku menemukan tempat ini demi engkau. Namun aku berharap-harap cemas tentang apa yang ada di dalam sana, karena judul rumah ini sungguh misteri bagiku, kuharap isinya tidak ikut-ikutan misteri. Semoga saja kau suka.

Pintu jati tebal menyambut kita dengan kekokohannya. Bagiku, harusnya itu di iris menjadi 2 atau 3 pintu, tentu lebih hemat – bermanfaat. Ah, entah kenapa daun pintu itu mengingatkanku pada film misteri serial Friday the 13th. Kelamaan menatap pintu itu, menjadikan pintu itu melotot, menantang kemampuan kekuatan dan keberanian nyaliku untuk mendobraknya. Nyatanya kita melewatinya tanpa membutuhkan perlawanan berarti. Hanya ujung telunjukku, gitu saja. Karena itu aku masuk dengan membusungkan dada. Kurasa dia kalah telak oleh jariku.

Di dalam ruangan, pintu itu tampaknya masih dendam, ia seperti hendak menelan kita bulat-bulat dan tak hendak melepaskan hingga berabad-abad lamanya.  Sebentar!  Pintu itu mengingatkanku pula pada penjara-penjara di film-film jaman Romawi kuno. Mungkin pintu ini pernah di sewa untuk itu. Kau tahu sayangku, kurasa harga pintu ini setara dengan berbulan-bulan jatah makan kita, mungkin begitu juga yang di dalam. Tapi kali ini ada pengecualian, pengecualian yang lebih dalam daripada hanya sekedar uang.

Di dalam ada si bule menyambut dengan ramah, mencoba mengajakmu berbincang-bincang tentang jenis-jenis makanan vegetarian India.  Dari tongkrongannya kurasa dialah  pemiliknya. Kurasa kau hanya setengah mendengarkan dia saja. Selebihnya,  seperti biasa kelaparanmu selalu saja bertekuk lutut pada hal-hal yang berhubungan dengan persoalan garmen, baju-baju, asesoris ataupun dekorasi. Maafkan aku, karena belum mampu memenuhinya sampai akhir hayatmu bahkan di saat kondisimu yang demikian. Kubiarkan saja engkau lama bercengkerama dengan baju-baju dan pernik itu meski aku kelaparan bagai singa ompong. Akupun ikut lupa tentang selembar menu makan ciamik itu karena aku sendiri masih bergelimang dengan patahan-patahan kata yang semburat dari mulut dokter ahli beberapa bulan lalu.

Akhirnya kita duduk di bilik ini. Di sini kita temukan menu berisi konten indah, nama-nama makanan yang mengagumkan dibarengi dengan cara penyajian khas, mewah dan cantik pula. Tapi tak perlu kuceritakan berlama-lama tentang semuanya, karena apapun itu ternyata bertolak belakang dengan lidahmu. Kau sangat kecewa, sementara perutku bengkak menanggung semua limpahan rejeki yang tidak pada tempatnya.

Kasihku, sekarang aku berdiri  di luar, lurus, fokus memandang menghadap pintu jati tebal itu. Aku tidak takut dengan gambaran penjara Romawi kuno or Friday the 13th. Aku tidak takut berkelahi dengan pintu angkuh itu, juga harganya. Aku hanya cemas dengan gelora rindu hati sanubariku yang semakin berdentuman. Rasanya ada yang sigar di ulu hatiku dan gemetar di dadaku.

Bersabarlah sebentar, ijinkan aku mengokohkan diri  sekejap, menguatkan kuda-kuda kakiku agar mampu melangkah melewati pintu jati tebal itu, agar mampu melewati si bule rewel dan hamparan kemewahan dekorasi yang menakjubkan mata, lalu duduk manis di sebelah bayanganmu yang telah menunggu untuk mencoba menikmati makanan yang namanya sangat asing, sekumpulan nama makanan yang terlalu hingar-bingar bagi kupingku.

Sungguh, meski kau – perisaiku, tidak akan duduk di sisiku, sekarang aku telah siap berhadapan dengan pintu tebal, pintu dunia yang penuh misteri itu, demi membungkam riuhnya kerinduanku padamu…

Sangam House
Jalan Kaliurang, Pandega Siwi 14.
PiS Juni 2011
From : www.Maryati.net

line twilight
Luka Lain :

line twilight

Milas, Cita Rasa Dibalik Vegetarian

line twilight

Milas warung vegetarian

Milas = dulu kita, sekarang hanya aku yang  Mimpi Lama Sekali.

Saat senja turun, jalan itu masih saja begitu, Jalan Prawirotaman yang bersahaja, tak banyak suara, tak banyak geliat, ianya hening, dingin menatapku. Tapi tunggu dulu, ada gemericik air, ada sayup-sayup suaramu membaca menu lalu memesan burger tanpa daging. Ya, di sini tabu berbicara daging. Ada angin berbisik sangat pelan sebelum sebuah burger jagung berkhidmat pada sel-sel tubuhku. Ada lagu syahdu beralun, berlalu bersama terbukanya helai-helai buku Ajahn Brahm. Mungkin biksu itu akan senang dengan kehadiranku di sini demi makhluk alam. Ada manik-manik yang kau bolak-balik demi mengingat si kecil. Ada pula buku harian mini yang kau keluarkan dari tas mungilmu.

Milas, taman itu, kesejukan itu, bambu-bambu itu, semua menyatu, mereka berpadu menjadi perkasa, berdiri hendak menghakimiku dengan sebuah pertanyaan tentang alasan mengapa aku di sini. Tapi aku tidak perduli. Bagiku tak pula ada alasan mengapa aku harus menjawab sesuatu pada benda-benda mati itu.

Samar-samar kulihat kau berkaca di kolam kecil di sisi kiri gubuk itu. Wajahmu jernih menari di alunan riak-riak air danau kecil mungil. Alangkah cantik, alangkah memikat, alangkah anggun, demikian lagu angin senja mengalun, memujamu. Ikan-ikan di pojok dengan sabar menunggumu hingga kau selesai merapikan rambut dan bedak tipismu. Sudah lama kau tidak melakukan itu, berdandan, karena dokter bilang itu pisau kematian. Ada semut berbaris menderapkan langkah nisbinya, ada laron terbang gemulai  di antara dedaunan, mereka ingin bersahabat dengan sinar matamu yang terlihat ramah pada lampu-lampu redup ruangan itu. Rangkaian itu semua bagaikan simponi, hingga seorang lelaki dengan berani mendentingkan dawai gitarnya mengusik riak lamunan yang bergelombang ringan. Dia tentu tidak menyangka bagaimana gemuruhnya hatiku terhadap nada terbaik yang dia kerahkan untuk membesut bayanganku padamu. Dawai kawat bagaikan saputan pedang pada lamunan. Huh…, aku mau saja menyukainya tapi tidak pada saat ini. Dulu mungkin ya, atau kalau dia melakukannya di pelataran benteng Vredeburg saat kita duduk berdua tanpa berkata-kata. Selesailah sudah segala sesuatu yang membuai hanya karena dawai sialan itu.

Milas senja itu, dengan lembut tanganmu mengambil helai tissue, mengusap bibirmu yang lama kurindukan. Sudah kenyang katamu pelan. Lalu kau bisikkan terimakasihmu padaku. Kata-kata itu setara dengan seluruh kembang yang ada di jalan Jazuli. Ah, aku rasa sudah lama aku tak mengurai senyumku pada hari demi harimu. Tentunya AJahn Brahm akan menegurku tentang hal itu. Jadi ketika kita akan beranjak pulang, kubawakan tas minimu sembari mengirimkan senyum kecil buatmu, kubukakan pintu dengan hati-hati,  lalu kubersihkan tempat dudukmu.  Ketika kau duduk, kuusap pelan rambutmu dan pipimu, lalu kugamit lenganmu agar engkau tidak melamun. Kustel lagu syahdu yang biasa mengantar kita ke perjalanan manapun. Meski melemah, kau kelihatan semerbak, mekar dan mengangeni bagiku.

Lalu mobil mulai kustater, sebelum berangkat, seperti biasa, aku harus meyakinkan diriku kau baik-baik saja, jadi kulirik kursi itu, kali ini kosong, kau tak duduk di situ. Kemana kau? Rasanya sunyi tiba-tiba mencekam dan mencengkram, hampa melayangkanku, kurasa ini mimpi, mimpi, dan mimpi. Tak kusadari keberadaanku, tubuhku dingin membeku, hingga terasa kehangatan itu mengaliri pipiku mengiringi taburan nada-nada syahdu menyambut  senja kelabu yang semakin menghitam.

Milas, Pis 2011 > Alangkah perihnya hatiku ini…
In English : Milas, The Taste Behind The Vegetarian

line twilight
Luka Lain :

line twilight

Soma Yoga, Vegetarian & Citarasa

Soma Yoga

Soma Yoga

——-
w
,
a, t,B

?

 

Kenangan di Soma Yoga Vegetarian

 Soma Yoga        +

 Vegetarian     =

 Kenangan

Apakah aku mesti berdebat lagi dengan hatiku tentang makna hidup dan kehidupan atas jiwa-jiwa  makhluk-makhluk yang beterbangan, berenang, berjalan atau bahkan melata hanya untuk sekedar urutan : berdua, lidah,  kelezatan, perut, kenyang lalu berakhir di  septik tank?

Tidaklah penting lagi itu semua, yang kuingat tentang asal muasal itu adalah kesehatan, mimpi, jalan yang hampir putus, cinta yang hampir terenggut, ancaman dokter, langit yang akan runtuh, aku yang tadinya  semangat memilih dan menangkap awan-awan agar ada tempat buatmu dan buatku, berharap kita bisa sekedar merangkak, berjalan, berlompatan, berlari, syukur-syukur terbang bebas, lantas kemudian tersenyum pada semua makhluk hidup dan kehidupan sambil tangan kita terulur mencoba menabur kebaikan. TAPI ITU SEMUA SUDAH MUSNAH ! Tanganku kini tinggal sepenggal.

Mimpi, awan-awan, makanan sehat, tidaklah penting lagi itu semua. Yang kutahu aku duduk sendirian di sini memandangi menu warna-warni seolah mengunggu kau yang selalu lama memilih. Daftar itu hanya berubah menjadi urutan : sendiri, makan, lidah, tanpa kelezatan, perut kenyang dan berakhir di septik tank. Semoga itu tidak menjadi rutinitas untuk  esok hari. Meski terasa, aku tidak berani bilang membosankan. Karena mereka selalu lantang bilang ‘tidak mensyukuri. ‘ Bagaimanapun sedikit banyaknya aku sehat di sini daripada tidak sama sekali.

Itulah! Aku duduk dan makan lagi di sini,  mengambil kameraku seperti fotografer yang ingin terbang melalui bidikan kecil itu, berusaha mencuri  kebebasan burung-burung pipit yang riang tanpa bersalah mengambil bulir-bulir padi para petani. Aku sungguh benar ingin memerangkap kebebasan itu. Ketika berhasil, ianya terperangkap hanya di lembaran-lebaran diari dan kertas putih atau blog-blog dan website. Semua ini seperti kekosongan panjang. Maka aku ingin selembar langit itu, melayang bersamamu di sana, cuek dan  membiarkan  cita-cita yang masih menggelantung di antara bumi dan angkasa.

Aku tidak ingin berlama-lama lagi. Bagaimanapun, aku makan di sini tentulah lebih sehat meski sendirian bersama gelimang kesedihan, kerinduan dan rasa perih yang tidak hilang-hilang jua. Mungkin terasa bodoh kerap mencicipi menu vegetarian hanya karena perasaanku sayang dan rindu padamu, padahal aku tidak menginginkan sehat walafiat terlalu lama…

——————————————————————
(PIS 2306-2011) —–  Rumusan yang salah.
From : www.Maryati.net
—————————————————————–

Olenka, Si Matahari Senja

Si Matahari Senja

Si Matahari Senja

Akhirnya….
Seekor camar telah datang padaku. Melayang gemulai bagai layangan senja di bawah langit di tengah angkasa. Perlahan, bergerak sedikit ke kanan dan sedikit kekiri. Camar itu membawakan nyanyian biduk yang tanpa tujuan, mengepak sayap  sedari tadi, datang dan kembali, kurasa terbangnya tak beraturan.

Apakah kepak itu Mengusikku? Tadinya ya, tapi sekarang aku mengerti, barangkali itulah isyarat padaku, ia ingin menghenyakkan lamunan panjang, bahwa Olenka yang kunanti sudah tiba tanpa kusadari.

Hmmm…, ya, nun jauh di sana, di pelupuk mata semua silhuet yang ada di sini,  tampaknya masih bias bagi sebagian insan, belum tertangkap oleh jiwa suci karena kemurnian terlalu dicampuri oleh kesenangan tak berbatas. Tak apa, semua itu indah pada akhirnya. Dan itu suratan.

Terimakasih camarku, serabut sarafku mulai menangkap saputan nuansanya.
Oh… Olenkaku, merah menyala, membumbung ke langit lepas, alangkah indah, alangkah syahdu, suci tanpa dosa, merdu membuai kalbu.  Sungguh agung.

Tuhan maha besar, Ia menjentikkan lukisan raksasa itu di hamparan tak berbatas.
Tuhan maha besar…,
Tuhan maha besar…,
tapi
kemana perempuan sederhana yang duduk di pasir bermandikan debur ombak dan kemilau cahaya orange?

Ah, Olenkaku, si Matahari Senjaku, hatiku tiba-tiba masygul
Aku mengeluh padamu dan rinduku bergolak tak tertahankan, aku menjerit padamu , “Hatiku  masygul!!”
Hatiku masygul!!
Oh…Olenkaku, jiwaku mulai bergelimang oleh kesedihan piluku

“Tuhan Maha Besar !  Tuhan Maha Penyayang ! Tuhan Maha Pengasih !”
Demikian bisik kepakmu

Lalu melayang menukik menggiring membawa mataku
nun….jauh  ke sana,  ke… Olenka, Si Matahari Senja, binar itu, itulah wanita itu, yang kucintai itu ….

sumber : www.Maryati.net

Si Matahari Senja

 

——————————-
Parangtritis, Juni 2011
——————————

In English : Olenka, A Twilight Sun

line twilight
Luka Lain :

line twilight

Senja, Kenangan dan Aku

line twilight

Senja, Kenangan dan AkuSeperti biasa, aku duduk menyendiri di tepi pantai Parangtritis sambil mendengarkan mp3. Istriku, ponakan-ponakannya dan anakku, gembira bermain dengan ombak yang sesekali menghampiri. Laut seolah-olah merayu, membisikkan sesuatu yang membuat mentari semakin merendah. Tak terasa senja perlahan turun di keningku, mentari meredup, merendah mengintip di balik awan keabu-abuan, berkaca di air laut pada sisi pantai di antara silhuet para manusia. Semakin ia merendah semakin menguningkan cakrawala, bagai lukisan pada bentangan kanvas yang rasanya ingin kutangkup dalam lima jemariku dan kusimpan dalam sakuku. Lukisan Tuhan yang maha indah itu menenggelamkanku dalam kenangan akan hari-hari panjang yang telah terlewati.

Dalam sekejap, kenangan datang bagai sekawanan burung-burung pipit yang beterbangan di persawahan batinku. Kini aku terjebak oleh situasi, aku tak lebih sebagai petani atau bahkan bagai orang-orangan sawah yang kelelahan menghalau semua itu. Saat-saat terlena seperti ini, nuraniku selalu membantu mengingatkan diriku akan hal yang patut. Tapi sekuat apa dia?! Apalagi saat ini senja lebih membawaku condong pada kenangan duka daripada suka, secondong mentari yang mulai tenggelam, parahnya aku justru menikmatinya, karena aku ingkar pada komitmenku yang kudapat dari suluhnya Gibran. Karena tak mampu, kubiarkan itu melarutkan butiran detik demi detik, MP3 yang sebagian besar berisi lagu-lagu syahdu, kubiarkan semakin membara membakar sebagian benakku. Entah kenapa aku tetap duduk di sini sendiri dan membiarkan sebagian dari diriku melayang ke ufuk sana. Entah kenapa aku tidak berbaur dengan hamparan kegembiraan di depan mataku. Harusnya aku menyadari aku telah melewatkan menit-menit kegembiraan yang hanya beberapa meter terbentang di hadapanku. Berapa kali peluang seperti itu akan ada? Padahal segala umur menuju titik yang sama : dan alur sehabis senja tentulah malam. Tak kusangkal lagi, aku memang terhanyut pada riak-riak antara kenangan kesedihan dan keindahan, dan begitulah biasanya. Sulit, tak patut, tapi ternikmati ke ruas jantung terdalam. Terlena, kubiarkan aku pasrah sekejap. Sering aku berdoa, agar sifat ini tidak terwariskan ke anakku.

Bagiku butuh waktu lama untuk menjadi seperti anak sungai yang terus mengalir. Meski aku telah menuai bulir-bulir usia dalam tangkup besar, tak jua kudapat wajah sang bijaksana. Sebagian besar diri manusia seperti aku akan tetap belajar bahwa helai demi helai hari, baik duka maupun suka, bila telah terlewati, seharusnya tak boleh lebih dari sekedar menjadi lembaran harian yang harus lebih banyak disimpan di laci yang ditaruh di gudang bawah tanah kehidupan. Seperti kata orang bahwa kenangan hanyalah sesuatu yang harus ditinggalkan jauh di belakang punggung kita, dia tidak boleh menjadi tas ransel yang dibawa ke mana-mana hanya untuk menjadi beban pundak dan jiwa kita.

Hingga detik ini aku masih belajar menjadi anak sungai yang meninggalkan keindahan rumput, pohon, bunga-bunga kecil, bukit hijau dan perdu yang merdu. Meninggalkan sakitnya batu-batu tajam, pecahan beling, lancipnya kayu dan sengatan duri-duri. Bahkan meski orang atau hewan mencuri sebagian dirinya, sebagai air minum atau pembilas kotoran, ia dan jiwanya tetap yakin dengan langkah teguh menuju satu tujuan. Seduka dan seceria apapun jalanan yang harus dilewati, dia tidak pernah menoleh ke belakang, apalagi kembali. Ia lebih banyak hening, ia akan bicara kelak ketika tiba masanya, menceritakan perjalanannya kepada mentari yang mulai tenggelam. Dan kita menikmatinya sebagai suara debur ombak. Suara yang menceritakan pengalaman perjalanan panjang.

Kusimpulkan tali hari dalam diriku,
bahwa kenangan kegembiraan/kesedihan ku terdahulu, saat ini, detik ini, seharusnya menjadi sepercik senyum yang menjadi lilin tidurku melewati malam menunggu cahaya esok pagi. Dan kalau mentari telah terbit, kusimpan saja lilinnya, untuk malam menyusul.
Aku tersadar, aku tak boleh membiarkan kenangan beterbangan, mengepakkan sayapnya dengan leluasa di kepalaku. Jadi seperti biasa kuambil kertas dan menulis, bahwa kenangan itu hanyalah burung-burung pipit, burung imut-imut yang lucu meski sedikit mengganggu. Mereka itu bisa ditangkap, kemudian dikerangkeng dengan pena pada kertas-kertas. Tak lama lagi ia akan diterbangkan dengan sayap barunya : “blog atau web” ke alam maya. Senyatanya, aku harus berteriak menghambur ke ombak yang berdebur, bersiram-siraman bersama keluargaku sebelum malam jatuh di keningku.

Hari ini jadilah blog ini, burung-burung pengganggu di sawahku kutangkap satu-persatu, lalu kuterbangkan ke jagad maya, tapi sebagian padi dalam diriku telah dicurinya.

PiS
From : www.Maryati.net

In English : Twilight, Memories and You

line twilight
Luka Lain :

line twilight

Protected: Olenka, Gerhana

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: manuskrip (3) Di kamar ini

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: Manuskrip 1

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Previous Older Entries

Top Rated