“Sungai perih di aortamu”

Panti Rapih

Rumah Sakit Panti Rapih

Ketika orang-orang mulai enggan terusik
lalu mengibaskan hari mereka dari keping ceritamu,
karena kesedihan dan rasa sakit yang tak kunjung usai
amat miris, membosankan dan
mengusik kenyamanan ulir tiap kehidupan

Ketika orang cepat-cepat menutupkan handphonenya,
Enggan berlama mendengar lirih rintihmu,
yang berkepanjangan dan risik

Ketika orang-orang tak kuasa menatapmu,
Ketika orang-orang mahal akan waktunya,
karena kau mengemis “detik demi detik” –  24 jam sehari

tak perlu kau mengatupkan mulut,
erat memicingkan mata dalam kejangmu,
membatu menahan ribuan jarum sakit yang bertubi
meretas sekujur tubuhmu,
tapi bukan imanmu
karena itu
meringislah,
menangislah,
menjeritlah,
menangis lah lagi, teruskan…!!

Kadang aku berharap menjadi buta,
tuli
dan
membeku jadi batu saja

Tapi kasihku
Kucoba bertahan dalam remuk sanubari
Kubuka lebar hatiku, kuulurkan penuh tanganku,
selalu kuhentikan langkahku ke pintu terbuka,
‘ku kan selalu di sisimu
sampai kapanpun
menatapmu dengan cuil kekuatan tersisa

Oh…, makhluk Tuhan yang kurus, kecil,
keriput, tanpa berat badan
Kaulah kesempurnaan selama 16 tahun ini.

Tuhan-ku kenapa kau biarkan kesakitan
menjadi sungai di aorta makhluk tirus ini?

Ah… Tuhan-ku tak kaulihatkah keperihan itu mengucur
menghujani bantal, sprei dan tirai batin  kami?
Detik yang Kau berikan pada kami
adalah sembilu tak berkesudahan

Tuhan-ku butakan mataku
matikanlah perasaanku
batukan hatiku

‘ku tak sanggup lagi menatapnya begini

Ah…Tuhan, lihatlah makhluk kecilku yang kucintai ini,
alangkah ringkih…
kujeritkan pada-Mu kepasrahan kami…
kuteriakkan pada-Mu “kasihanilah dia…!!!”

Duhai, kuatlah sayang, aku masih di sisimu
menangislah,
meringislah,
menangislah,
menjeritlah,
menangis lah lagi,  teruskan…, teruskan…, teruskan…!!

Sini…
Mari kupeluk penuh rasa sakitmu
dan kuusap air matamu
Biarkan hari mengalir
balutlah dengan doamu yang ikhlas
………………………………………
…………………………………………..
…………………………………………..
(On “FotoVideo Maret”)

Januari 2011
(cuplikan dari catatan harian “Tuhanku, butakan aku”)

English : The Suffering Stream

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated