Stasiun Senen, Belajar Menyapa Yang Bukan di Dunia Maya (2)

.line twilight

Miss youDi dunia maya berlaku hukum bahwa bisa saja selama bertahun-tahun ini kau mengira bahwa kau telah menjalin komunikasi dengan seorang gadis cantik, pria tampan, FBI, CIA, BIN, penyanyi, aktor/aktris tenar, selingkuhanmu, atau siapalah yang kau senangi, sampai akhirnya kau temui kenyataan bahwa selama ini kau ternyata hanya berkomunikasi dengan seekor monyet berbuntut pendek atau seseorang yang tak akan pernah terbayangkan sebelumnya.”

Hatiku gelisah, menimang-nimang, apakah aku harus merepotkan orang lain dengan membangunkannya pada pagi-pagi buta hanya karena aku khawatir dan resah pada hal-hal yang aku sendiri tidak mengerti tentang apa, kenapa dan untuk apa. Selalu saja setiap sebuah pertanyaan tentang bagaimana menyelesaikan sebuah persoalan lahir, maka ingatanku padamu menjadi dominan, selalu berandai-andai bahwa jika kau ada di sisiku, tentu kau akan menelpon seseorang yang juga selalu saja jauh lebih baik daripada orang yang pernah kukenal atau pernah menjadi sahabatku, lalu seperti yang sudah-sudah, semua akan berakhir dengan baik, sedang kerjaku hanya tinggal mengangkati koper-koper saja.

Aku rasa seseorang di luar sana telah salah menilai, bahwa selama ini aku selalu memanjakanmu, nyatanya, kaulah yang terlalu memanjakanku, kalau tidak, aku tentu tidak akan segugup ini hanya untuk menuju sebuah stasiun yang bahkan sudah kuanggap kuno. Jam 2 pagi, tidak ada masalah dengan jam segitu, kau kan tahu, bahkan untuk tidur di tempat angker pun aku tidak akan pernah takut, karena aku selalu mengagungkan logika berfikir melebihi mistik atau perbuatan jahat apapun. Tapi kurasa bukan karena semua itu, barangkali kesepiankulah yang mendorongku untuk menyapa, mungkin aku butuh teman ngobrol di kota yang tidak pernah bisa kupahami ini. Ya, mungkin itu.

Seperti selalu kau bilang, sungguh sangat jarang dalam hidupku, tapi aku melakukannya, menelpon! Tidak secara eksplisit mengatakan supaya aku dijemput. Aku cuma bilang, “Eh, kamu online terus ya, aku akan sampai di stasiun lho sekitar jam 2 pagi. Aku baik-baik saja, kata orang banyak ojek, bemo, taksi kok di situ dst, dst, dst…”

Kurasa dia mengerti, jadi dia menghardik, menyuruhku lebih baik diam, mendengarkan dulu dan menurut saja, lalu memutuskan sendiri secara otoriter, akan berada di sana sebelum aku tiba. Kurasa seperti biasa, ketika kami berdebat di dunia maya, dia mulai keras padaku. Tapi keras yang ini membuatku merasa senang, karena aku betul-betul merasa diperhatikannya.

Aku tersadar dengan kata-kataku sendiri yang selalu bilang, kita harus berpikir jauh ke depan. Harus hati-hati tentang sebuah keputusan. Namun tentang temanku ini, baru detik ini kusadari, lalu muncullah ke khawatiran itu dalam hatiku. Kutenangkan diriku sendiri, bukankah dia juga cuma makhluk Tuhan semata? Bukankah kami sudah saling kenal bertahun-tahun di dunia maya, dan bukankah aku yang pertama kali mencoba bersapa dan bertukar no HP dan ingin ketemu di dunia nyata dan itu baru kemarin pagi? Tapi tunggu dulu, bukankah dia juga yang selalu mengkritikku habis-habisan? Bukankah dia yang selalu memulai perang argumen pedas? Bukankah dia yang memaki-makiku membabi buta hanya karena aku menulis tentang  seorang Cat Steven dengan lagu “Morning Has Brokennya.” Padahal aku hanya mengatakan bahwa lagu itu telah menjadi jembatan antar kita yang berdiri di jurang-jurang pemisah yang sangat dalam? Bagaimana jika dia ternyata masih menyimpan sebuah dendam? Dst… dst…

Ah, sudah terlanjur. Jadi kuangkat tasku, turun dari kereta, celingak-celinguk dan mulai memiss call ke sana sini berulang kali, sampai akhirnya pada waktu yang tepat kulihat seseorang mengangkat HP nya. Tak begitu jauh dariku. Astaga naga mudah-mudahan bukan itu orangnya. Pasti bukan, badan gituan bukanlah badan seorang blogger yang mengerti masalah-masalah seputar SEO dan Google Adsense. Jantungku berdetak. Kurasa aku keringat dingin. Itu kepala apa bukan ya?

Dia melambai, mulai mengenali, mungkin dari icon kaca mataku di blog-blogku, ya, kurasa dialah orangnya, tapi mana mungkin, masak aku mesti curhat tentang “cinta dan kerinduan” dengan orang bermuka sangar dan tangan penuh tato begitu. Astaga apa yang sudah kulakukan ini. Pikiranku bergelimang dengan kabut pertanyaan plus dugaan-dugaan. Demi langit, bulan dan bintang, bolehkah diulang kembali aku masih di gerbong dan tidak jadi menelponnya?

“Hah, si abang!” Teriak lantang. “Pastilah kau orangnya!”, suaranya agak keras memecah keheningan  sambil mematikan HP. Jakunku naik turun, ketika mengiyakan. Jangankan aku, para preman Stasiun Senen ini kurasa jadi gugup, menyelamatkan muka demi mendengar dan menoleh ke wajah si empunya suara. Jabatannya sangat keras. Rambutnya itu, daripada milik seorang blogger cerdas, barangkali lebih tepat kalau kukatakan cuma dipinjam dari seorang pengamen jalanan yang nggak mandi ribuan tahun lamanya. Ih…, itu bukan kepala, tapi segerombolan rambut.

Semua pada akhirnya berjalan dengan poin yang menurutku sangat baik. Dia bahkan mentraktirku makan, yang belakangan kusadari telah kubayar dengan sejumlah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang apa sebetulnya yang terjadi setahun belakangan ini. Kenapa aku lenyap dsb. Apakah aku masih punya rasa nasionalis itu, apakah aku memusuhinya, apakah kami akan bertemu lagi, apakah aku akan mencari istri lagi, apakah tulisannya bagus, apakah, apakah, apakah…. begitulah. Lalu dialah membayar makan dini hari kami. Dia mengatakan juga, nggak nyangka mukaku cuman seperti ini. Katanya lagi, mukaku amat kontradiksi dengan artikelku, dan dia bilang aku lebih cocok kalau berambut gondrong. Dia mengantarku hingga di mulut gang sambil mengatakan rindu akan tulisanku tentang negara yang kita sayangi ini. Negara yang kita sayangi?! Seumur-umur aku nggak bakalan  percaya dia mengucapkan itu kalau tidak kudengar dengan kupingku sendiri dan dari mulutnya sendiri. Huh…, dunia  sudah kebalik-balik kataku dalam hati.

Bulan dan matahari bergantian menyapa bumi. Maya dan nyata bergantian menyapaku. Aku menoleh ke belakang sekali lagi, masih gelap gulita ketika samar-samar ia menjauh membawa badannya yang besar itu. Di kejauhan, gedung-gedung dalam gelap kelam penuh dengan cahaya-cahaya kecil, sangat mirip dengan bintang-bintang langit di Alun-alun yang sudah menempel di hati kita. Seperti biasa, aku mengingatmu kembali, utuh seperti hari-hari sebelumnya. Di tengah kerinduanku padamu dan kesepianku, di tengah rentang gelap yang panjang, kau tentu tahu apa yang dikatakan para gedung tinggi berkelap-kelip itu padaku. Ya, itulah yang dikatakan gedung-gedung itu padaku.

.

PiS, Cileduk 27 Juli 2011

.

NB : Aku tiba di stasiun senen pd tgl 25072011
lalu catatan ini dibuat dicicil di tengah kesibukan
sebuah pesta pernikahan.

In English :
Senen Station, Learning To Say Hello Not To Be in The World of Illusion (2)

line twilight

Kerinduanku Menyentak Hatiku Untuk Terjaga dari dunia Maya, Lalu Menulis :

Protected :

.

PUISI :

line twilight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated