Sejoli, Belajar Menyapa Yang Bukan Di Dunia Maya (4)

line twilight

Mimpi, di antara “White SEO” dan “Black SEO” (2)

Belajar Menyapa di Senja KelabuCileduk….,
Masih Pagi buta saat aku tiba di warnet. Belum banyak susunan kata-kata mengenai Trik SEO atau seputar PageRank Google yang berhasil kuketik. Karena waktuku terpakai di blog wordpress dan FaceBook itu. Tapi untunglah tadi aku sudah sempat tidur meski hanya beberapa jam saja. Bagi orang-orang dengan pekerjaan dunia maya, tidur hanyalah formalitas belaka, mereka melakukannya hanya demi meneruskan kebiasaan yang merupakan warisan dari nenek moyang terdahulu. Dan karena kebiasaan itu, maka sang Tidur-lah yang sering keserempet caci maki dari para pekerja dunia maya, “Wah.. sialan harus tidur, udah mau pagi!” atau “Sudah Jam 4? Gilak… kapan mau tidur,” dst.

Sama sepertiku, keseharian temanku ini ikut imbas masuk kategori pemaki si tidur itu. Dia juga lagi OL dini hari itu, dia tahu lewat Twitter dan Plurk maka berderinglah HP-ku. Setelah basa-basi tentang beberapa hal, dia mengakhiri dengan pertanyaan tentang alamat rental warnet ini. Dan tau-tau dia sudah nongol di kaca warnet. Si penjaga warnet tersentak kaget di tengah kantuknya, dia melongo, sedikit menganga, kurasa dia gemetaran, membayangkan hal-hal seputar perampokan. Hih..hi.. penjaga itu mematung, aku tahu pasti dalam pikirannya,” Itu kepala apa bukan ya?” Jadi di dalam hati akupun membantu menjawab, “Itu bukan kepala tapi cuman segerombolan rambut.”

“Demi langit, bulan dan bintang, bolehkah diulang kembali aku masih di rumahku dan tidak jadi menjaga rental ini?” itu pikiran ke dua si penjaga rental. Jadi daripada dia kencing di celana aku bilang padanya bahwa orang sangar itu temanku, plus bahwa aku sudah selesai menyewa. Maka legalah dia, terhindar dari gejala stroke, dan keringat dinginnya terserap kembali ke pori-pori kulitnya menghindarkannya dari serangan dehidrasi ketakutan.

“Dari pada di rental, mendingan di rumahku aja coy…” begitu katanya padaku di depan penjaga rental. Penjaga rental itu mesam-mesem merasa selamat dari aksi perampokan barbar.

Philodendron, puring Raja, aglonema lipstic, aglonema Hot Lady, Anturium dengan ukuran jumbo, ya ini yang jenis Cobra – anthurium Cobra, masih ada puluhan jenis tanaman memukau lainnya, merekalah yang menyambut kedatangan kami, setelah gerbang itu menganga. Aku terkesima melihat semua itu, apalagi lampu-lampu spot warna yang di taruh di tanah, cahayanya menyembur ke atas menimpa daun-daun dan dinding, menjadikannya sebagai sebuah lukisan silhuet tanaman dengan pola warna-warni di sekeliling menimpa kanvas dinding yang putih bersih. Kurasa aku seperti melayang ke surga, semoga aku bisa bertemu denganmu. Aku sudah tidak tahan untuk minta ijin memfoto demi kamera pocketku yang sudah geregetan di dalam tas. Aku pernah melihat yang seperti ini di sebuah toko tanaman besar di daerah Tawangmangu tapi dalam bentuk mini. Ah.., kembali lagi memori itu, perjalanan bersamamu ke toko-toko tanaman mulai dari yang di jalan Godean, jalan Kaliurang hingga ke Tawangmangu. Memori-memori itu seperti berenang di otak dan sanubariku. Dadaku mulai terasa sesak lagi. Jadi kutaroh titik di sini lalu melanjutkan yang lain saja.

Hatiku bertanya-tanya, apakah taman dengan rumah sebesar ini bisa didapat hanya dengan menjadi seorang Blogger? Apakah dari puluhan Google Adsense? Laku milyarankah web kontroversinya itu? Atau apakah didapat dari pekerjaan menjadi seorang SEO? Apakah dia yang memiliki web-web trafik tinggi di dunia periklanan? Mungkin periklanan rumah kalik, ya? Entahlah, tapi jangan-jangan temanku ini hanyalah seorang “Black SEO” atau mungkin kalau dia “White SEO” dia telah beruntung mendapatkan klien sebuah perusahaan raksasa yang sedang bertikai, hotel, biro travel, atau SEO bagi sebuah partai politik yang sudah memenangkan posisi2 tertentu. Jangan-jangan pula kemampuan hackernya yang dipakainya untuk memeras orang atau pejabat. Atau dia pernah merecovery data rahasia dan lalu menjualnya. Di Jakarta apapun bisa terjadi. Ah, aku cepat-cepat menepis semua pikiran ke arah jahat. Karena sekecil apapun pikiran jahat hanya akan menjadi racun bagi hatiku, hati itu akan membusuk. Apalah artinya memiliki hati busuk apalagi hati itu sudah berkeping-keping seperti ini. Di dalam ruang keluarga, istrinya datang menyambut dengan hangat. Tangan terawatnya halus menyalami. Dan wajahnya bertolak belakang 360 derajat di banding pikiran kita tentang orang yang beruntung meminangnya. “Demi langit, bulan dan bintang, bolehkah diulang kembali aku masih di warnet dan tidak jadi mampir ke rumah ini?” Dasternya, baju tidurnya itu cukup tipis menerawang, merusak segala cara pandang logika etika. Menjadikan seorang seniman sejatipun akan bimbang, memilih yang nyata ini atau memandangi lukisan-lukisan abstrak yang sangat indah di dinding itu.

Lagi, pikiran yang suka membandingkan itu datang, dia dan istrinya, aku rasa seperti sebuah lukisan Van Gogh, yang di miliki oleh seorang pengamen kucel tapi kaya raya. Lebih tepat kurasa kalau memilih salah satu lukisan yang bernama “Patch of Grass” , dimana lukisan itu selalu ditimpa oleh gitar bututnya setiap kali ia akan istirahat setelah bekerja seharian. Tapi mungkin tidak ada masalah di sana, kerena rumah ini tidak kalah menarik dengan Museum Kröller-Müller. Yang di beli berkat gitar butut itu sendiri. Jadi istrinya atau lukisan itu tetap betah menjadi penghuni rumah idaman ini. Hah..ha… semoga dia tidak marah lalu pada awal bulan ini dia tiba-tiba nongol lalu menendang bokongku. Istrinya ke dalam, mungkin akan memasak sarapan. Diapun menyuruhku menunggu lalu beranjak menuju sebuah ruangan dengan pintu yang dipenuhi sticker gambar penyanyi-penyanyi rock tempo dulu. Hening seketika, tapi keindahan tetap memancar dari ruangan ini. “White Seo…”, “Black Seo…”, hacker, google, “White Seo…”, “Black Seo…”, pagerank, dst, kata-kata itu silih berganti menghantui, bergelimangan di dalam otak menelusup keruang batin dan jiwaku. Sesekali ada suara gemerincing sendok, ada suara piring mendenting, suara air keran gemericik, aku merasa seoalah-olah kaulah yang ada di sana menyiapkan sesuatu untuk sarapan pagiku di Jalan Gajah Mada itu. Barangkali dunia yang seperti inilah yang kau impikan sejak dulu. Tapi kau tahu pasti, jauh di relung hatiku tak sebersitpun aku pernah menginginkan ini kecuali demi engkau. Dan karena kau pula, aku sampai di rumah ini demi sebuah janji. Sungguh lama temanku itu keluar, jadi kuambil lagi buku merahku dan menulis “Belajar Menyapa Yang Bukan di Dunia Maya lalu kuteruskan dengan “Jakarta adalah dunia maya yang sebenarnya, dan sebenar-benarnya dunia maya.”

.

.

PiS, catatan yang masih tertinggal untuk tgl 26 atau 27 Juli 2011 “Masih tentang merindukanmu”

from : www.maryati.net

In English :
A Couple of Twosome, Learning To Say Hello Not in The World of Illusion (4)

line twilight

Goresan Lainnya :

Protected :

.

PUISI :

line twilight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated