Eclipse (1)

eclipse (1)

eclipse (1)

You and I are comma, eclipse, is a live and life, are two leaves between milliard leaves and million trees those try to make green greenness while you has been yellow and fall down to the earth. I am alone in the altitude in doubt. You and I are set of alphabet who become a short story in all story there, I consider that because I still stand alone in the script ocean and one director. Ahhh, I am the Eclipse when I am doubtful in the end of that story. You and I, You and I, You and I, I feel that is it leaves pages, with name it “Comma

—————————-
PiS June 2011
—————————-

In Indonesian : Gerhana

Advertisements

Olenka, A Morning Sun (The Beginning)

Olenka, a morning sun

Olenka, a morning sun

Olenka, I call it, like Anton Chekov tell his heart in all pieces of days those running from his fingers. He always there, because in my silence I love your shining and his shining penetrate, lost and go between leafy. Shining that hopping, running and spy each other from branch to branch into leaves.

Olenka, a morning sun, so I call it, it calls me when the sun rises and remember when evening begins to dark. It was born from womb’s soul who I love. Born from sun that always rises in the horizon when my heart keep longing and loving that sink, specked between branches and leaves and sleep because of tired in the side of a dew in the morning.

Olenka, sometimes it seemed to me in the bird’s wing flying alone in the skywards – find his identity who shaking. That wing of bird embrace the wind’s blow and blowing it as morning breath before I enable to smell a cup of coffee or a slice of bread. I believe you more protective fly away compare me who always rastless about the image based on idealism of my truth, that I believe it is right but you are not agree.

Lord, Sun, You and she  – the little child, the wind’s blow, a yellow leaf, dew that fresh has penetrate in the swing of Olenka my heart, filling a piece by piece that never intact become an orchestra. Olenka, once upon a time he become my heart cooler in the middle of shining world that I never understand much. He comes in the flattery my longing of you, this night, Olenka is running again in the corner of my eyes. And handkerchief laying in the corner of empty room – dark – his gaze is cold – but frozen. Along night, waiting for Olenka, a morning sun.

——————————
“PiS Juni 2011”
——————————

line twilight

Another Hurts :

line twilight

Memories are Sparrow and You

Memories are sparrow and you

Memories are sparrow and you

Memories are like disturber birds
in the middle of wet rice field
Sometimes those are beautiful, indescribable,
flies smoothly here and there
But sometimes those are painful,
irresistible, steal rice plant in my heart

Memories are you, who is smile in far away
Once upon a time rain storm and dry be beautiful
Morning lonely and dark night be eminent

Memories are you, who cry in my chest
Dissolve me in ocean of love never end
Scoop me in full embrace and never wanna lost

Memories are you in the middle of wet rice field
Today be this blog, my disturber birds, I catch one by one
Be chain words and I flie to the illusion world
But as a piece of rice plant in myself has been stolen

In Indonesian : Kenangan adalah burung pipit dan Kau

————————-
“PiS June 2011
“Ring road in the morning shine

PEMICU KANKER

Kanker adalah penyakit, penyakit juga mempunyai kebutuhan. Yang dibutuhkan kanker adalah :

  • PH darah yang rendah (Makanan hewani menurunkan PH darah)
  • KH sebagai energi untuk kanker, terdapat di : gula, tepung
  • Makanan yang mengandung :
    • xenobiotik
    • radikal bebas
    • zat karsinogenik : benzpirens Nitrosamin dll.
  • Minuman beralkohol
  • Asap rokok
  • Sosis
  • Parfum
  • Deodorant dan antiperspirant yang mengandung alamunium
  • Perchloroethylene/tetrachloroethylene dlm dry cleaning.
  • Pestisida dan insektisida rumah tangga kimiawi.
  • Produk pembersih umum : detergen cair, desinfektan, tolilet bowl sanitizer yang mengandung alkyphenol.
  • Radiasi Handphone
  • Memasarkan makanan atau minuman (kopi, teh, susu formula) dalam wadah plastik yang dibuat dari PVC (yang akan terlepas kalau dipanaskan), polystyrene atau styrofoam.
  • Memasak makanan memakai panci teflon yang tergores.

www.Maryati.net

Since You Gone

Since you go,
I harvest the longing in the field of civilization

Since you go,
I insert the word of apology on mistake

Since you go,
My heart is shielded by vengeance like iron inside salt

Since you go,
the beauty is only a picture

.

PiS 27062011

 Indonesian: Semenjak Kau Pergi (1)
 

Semenjak kau pergi (2)

Semenjak kau pergi,
kurasakan hidupku seperti air hilir yang ingin ke hulu

Semenjak kau pergi,
Aku meratap mencoba melewati tembok kerinduan

Semenjak kau pergi,
Langkahku terpatri oleh paku kenanganmu di bumi Jogja

—————————-
PiS, 27062011
—————————-

In English : Since You’ve Go (2)

Semenjak kau pergi (1)

Semenjak kau pergi,
aku memanen kerinduan di ladang peradaban

Semenjak kau pergi,
kusemai kata maaf  di atas  khilaf

Semenjak kau pergi,
aku meletakkan kesabaran melebihi kesadaran

Semenjak kau pergi,
aku mengumpulkan  imajinasi ke lingkaran improfisasi

Semenjak kau pergi,
aku meletakkan memori bersanding mimpi

Semenjak kau pergi,
hatiku terlapis dendam seperti besi dalam garam

Semenjak kau pergi,
Kecantikan hanyalah polesan

PiS 27062011

Maaf, Kalau Masih Mungkin…

Like an arrow

Like an arrow

Entah apa yang harus kulakukan dengan kata “MAAF“. Di sini ada segudang kata maaf. Maaf itu melekat di jendela kamarku bersama titik-titik hujan yang masih gemeretak menampar kaca. Menghalangi pandanganku menembus kejauhan untuk menatapmu yang bersemayam di langit biru sana, di mataku langit itu menjadi selalu kelabu.

“Maaf dan maaf”, sampaikan kata itu buat ibumu di sana, kurasa ia ada di sisimu, tenang menghitung janji yang kubuat yang menurutku selalu kuanggap tidak terpenuhi, meski aku yakin betul bahwa kalian tak berkehendak menuntutnya. Kuyakin dia ikhlas persis ketika ia kita temui dulu, dia mengatakannya lewat tatapan seorang ibu sebelum ia sendiri menyadarinya. Tidakkah kau lihat ia selalu tersenyum dan tertawa kalau kita datang? Bukannya aku tidak ingin menuju impian itu, tapi, tangan, kaki, pikiranku  masih belajar mengejar panah waktu yang terlalu cepat melesat menghantam leburkan apa yang bernama titik impian milik kita. Sedang tanpamu aku hanyalah busur tanpa anak panah.

“Maaf” itu berserakan, berselipan di lembaran-lembaran pikiran dan perasaanku, bertaburan pada aliran detik-detikku, selalu berteriak di rongga dadaku. Kurasa aku mulai terbelenggu olehnya. Kata-kata itu tersekat di kerongkonganku.
Dia memaku mataku di tiap keinginan.
Mengait langkahku di tiap harapan.
Menyayat hatiku di tiap kesempatan.
Tapi ia juga meluruskan jalanku saat langkahku selip.

Kuyakin kau telah ikhlas  untuk tidak menuntutnya lagi, setidaknya saat ini di bumi ini termasuk di dalam mimpi-mimpiku.
Penyesalanku menjadi landasan ketidak berdayaanku,  meski sering kuanggap tidak perlu, karena kalau kukatakanpun itu hanya demi membela diriku sendiri.

Tapi, tetaplah, “Maafkan aku…!”

———————————————————–
PiS, Juni 2011,
From : www.Maryati.net
—————————————–

In English : Sorry If There Is Still Possible

Ini semua tentang :
– Kau yang lebih dulu pergi
– seorang ibu yang telah tiada

– diari yang sebagian kuhilangkan
– gadis kecil berjemari buntung
– Seorang anak di seberang
– sebuah website

– dendam yang hening

line twilight
Luka-Luka Hati Lainnya :

line twilight

Kawulo Alit – Sehabis Lembur

Sehabis lembur tadi malam :

Angkringan Jogja

Angkringan Jogja

Kawulo Alit - sehabis lembur malam

Kawulo Alit - Lembur

kawulo alit menunggu pagi

Pagi Menunggu

Sangam House, Cita Rasa di balik Pintu Tebal

Sangam House Vegetarian Restaurant

Sangam House Vegetarian Restaurant

Malam itu kita bertiga, si kecil asik saja dengan bacaannya, sementara kau kelihatan gembira menemukan tempat baru itu. Selalu kuingat kata-katamu tentang menu vegetarian yang membosankan, jadi beruntunglah aku menemukan tempat ini demi engkau. Namun aku berharap-harap cemas tentang apa yang ada di dalam sana, karena judul rumah ini sungguh misteri bagiku, kuharap isinya tidak ikut-ikutan misteri. Semoga saja kau suka.

Pintu jati tebal menyambut kita dengan kekokohannya. Bagiku, harusnya itu di iris menjadi 2 atau 3 pintu, tentu lebih hemat – bermanfaat. Ah, entah kenapa daun pintu itu mengingatkanku pada film misteri serial Friday the 13th. Kelamaan menatap pintu itu, menjadikan pintu itu melotot, menantang kemampuan kekuatan dan keberanian nyaliku untuk mendobraknya. Nyatanya kita melewatinya tanpa membutuhkan perlawanan berarti. Hanya ujung telunjukku, gitu saja. Karena itu aku masuk dengan membusungkan dada. Kurasa dia kalah telak oleh jariku.

Di dalam ruangan, pintu itu tampaknya masih dendam, ia seperti hendak menelan kita bulat-bulat dan tak hendak melepaskan hingga berabad-abad lamanya.  Sebentar!  Pintu itu mengingatkanku pula pada penjara-penjara di film-film jaman Romawi kuno. Mungkin pintu ini pernah di sewa untuk itu. Kau tahu sayangku, kurasa harga pintu ini setara dengan berbulan-bulan jatah makan kita, mungkin begitu juga yang di dalam. Tapi kali ini ada pengecualian, pengecualian yang lebih dalam daripada hanya sekedar uang.

Di dalam ada si bule menyambut dengan ramah, mencoba mengajakmu berbincang-bincang tentang jenis-jenis makanan vegetarian India.  Dari tongkrongannya kurasa dialah  pemiliknya. Kurasa kau hanya setengah mendengarkan dia saja. Selebihnya,  seperti biasa kelaparanmu selalu saja bertekuk lutut pada hal-hal yang berhubungan dengan persoalan garmen, baju-baju, asesoris ataupun dekorasi. Maafkan aku, karena belum mampu memenuhinya sampai akhir hayatmu bahkan di saat kondisimu yang demikian. Kubiarkan saja engkau lama bercengkerama dengan baju-baju dan pernik itu meski aku kelaparan bagai singa ompong. Akupun ikut lupa tentang selembar menu makan ciamik itu karena aku sendiri masih bergelimang dengan patahan-patahan kata yang semburat dari mulut dokter ahli beberapa bulan lalu.

Akhirnya kita duduk di bilik ini. Di sini kita temukan menu berisi konten indah, nama-nama makanan yang mengagumkan dibarengi dengan cara penyajian khas, mewah dan cantik pula. Tapi tak perlu kuceritakan berlama-lama tentang semuanya, karena apapun itu ternyata bertolak belakang dengan lidahmu. Kau sangat kecewa, sementara perutku bengkak menanggung semua limpahan rejeki yang tidak pada tempatnya.

Kasihku, sekarang aku berdiri  di luar, lurus, fokus memandang menghadap pintu jati tebal itu. Aku tidak takut dengan gambaran penjara Romawi kuno or Friday the 13th. Aku tidak takut berkelahi dengan pintu angkuh itu, juga harganya. Aku hanya cemas dengan gelora rindu hati sanubariku yang semakin berdentuman. Rasanya ada yang sigar di ulu hatiku dan gemetar di dadaku.

Bersabarlah sebentar, ijinkan aku mengokohkan diri  sekejap, menguatkan kuda-kuda kakiku agar mampu melangkah melewati pintu jati tebal itu, agar mampu melewati si bule rewel dan hamparan kemewahan dekorasi yang menakjubkan mata, lalu duduk manis di sebelah bayanganmu yang telah menunggu untuk mencoba menikmati makanan yang namanya sangat asing, sekumpulan nama makanan yang terlalu hingar-bingar bagi kupingku.

Sungguh, meski kau – perisaiku, tidak akan duduk di sisiku, sekarang aku telah siap berhadapan dengan pintu tebal, pintu dunia yang penuh misteri itu, demi membungkam riuhnya kerinduanku padamu…

Sangam House
Jalan Kaliurang, Pandega Siwi 14.
PiS Juni 2011
From : www.Maryati.net

line twilight
Luka Lain :

line twilight

Milas, Cita Rasa Dibalik Vegetarian

line twilight

Milas warung vegetarian

Milas = dulu kita, sekarang hanya aku yang  Mimpi Lama Sekali.

Saat senja turun, jalan itu masih saja begitu, Jalan Prawirotaman yang bersahaja, tak banyak suara, tak banyak geliat, ianya hening, dingin menatapku. Tapi tunggu dulu, ada gemericik air, ada sayup-sayup suaramu membaca menu lalu memesan burger tanpa daging. Ya, di sini tabu berbicara daging. Ada angin berbisik sangat pelan sebelum sebuah burger jagung berkhidmat pada sel-sel tubuhku. Ada lagu syahdu beralun, berlalu bersama terbukanya helai-helai buku Ajahn Brahm. Mungkin biksu itu akan senang dengan kehadiranku di sini demi makhluk alam. Ada manik-manik yang kau bolak-balik demi mengingat si kecil. Ada pula buku harian mini yang kau keluarkan dari tas mungilmu.

Milas, taman itu, kesejukan itu, bambu-bambu itu, semua menyatu, mereka berpadu menjadi perkasa, berdiri hendak menghakimiku dengan sebuah pertanyaan tentang alasan mengapa aku di sini. Tapi aku tidak perduli. Bagiku tak pula ada alasan mengapa aku harus menjawab sesuatu pada benda-benda mati itu.

Samar-samar kulihat kau berkaca di kolam kecil di sisi kiri gubuk itu. Wajahmu jernih menari di alunan riak-riak air danau kecil mungil. Alangkah cantik, alangkah memikat, alangkah anggun, demikian lagu angin senja mengalun, memujamu. Ikan-ikan di pojok dengan sabar menunggumu hingga kau selesai merapikan rambut dan bedak tipismu. Sudah lama kau tidak melakukan itu, berdandan, karena dokter bilang itu pisau kematian. Ada semut berbaris menderapkan langkah nisbinya, ada laron terbang gemulai  di antara dedaunan, mereka ingin bersahabat dengan sinar matamu yang terlihat ramah pada lampu-lampu redup ruangan itu. Rangkaian itu semua bagaikan simponi, hingga seorang lelaki dengan berani mendentingkan dawai gitarnya mengusik riak lamunan yang bergelombang ringan. Dia tentu tidak menyangka bagaimana gemuruhnya hatiku terhadap nada terbaik yang dia kerahkan untuk membesut bayanganku padamu. Dawai kawat bagaikan saputan pedang pada lamunan. Huh…, aku mau saja menyukainya tapi tidak pada saat ini. Dulu mungkin ya, atau kalau dia melakukannya di pelataran benteng Vredeburg saat kita duduk berdua tanpa berkata-kata. Selesailah sudah segala sesuatu yang membuai hanya karena dawai sialan itu.

Milas senja itu, dengan lembut tanganmu mengambil helai tissue, mengusap bibirmu yang lama kurindukan. Sudah kenyang katamu pelan. Lalu kau bisikkan terimakasihmu padaku. Kata-kata itu setara dengan seluruh kembang yang ada di jalan Jazuli. Ah, aku rasa sudah lama aku tak mengurai senyumku pada hari demi harimu. Tentunya AJahn Brahm akan menegurku tentang hal itu. Jadi ketika kita akan beranjak pulang, kubawakan tas minimu sembari mengirimkan senyum kecil buatmu, kubukakan pintu dengan hati-hati,  lalu kubersihkan tempat dudukmu.  Ketika kau duduk, kuusap pelan rambutmu dan pipimu, lalu kugamit lenganmu agar engkau tidak melamun. Kustel lagu syahdu yang biasa mengantar kita ke perjalanan manapun. Meski melemah, kau kelihatan semerbak, mekar dan mengangeni bagiku.

Lalu mobil mulai kustater, sebelum berangkat, seperti biasa, aku harus meyakinkan diriku kau baik-baik saja, jadi kulirik kursi itu, kali ini kosong, kau tak duduk di situ. Kemana kau? Rasanya sunyi tiba-tiba mencekam dan mencengkram, hampa melayangkanku, kurasa ini mimpi, mimpi, dan mimpi. Tak kusadari keberadaanku, tubuhku dingin membeku, hingga terasa kehangatan itu mengaliri pipiku mengiringi taburan nada-nada syahdu menyambut  senja kelabu yang semakin menghitam.

Milas, Pis 2011 > Alangkah perihnya hatiku ini…
In English : Milas, The Taste Behind The Vegetarian

line twilight
Luka Lain :

line twilight

Brokoli

Brokoli vegetarian

Brokoli vegetarian

Brokoli, kembang Kol dan Sawi adalah keluarga sayuran yang dapat membantu menghilangkan karsinogen. Di dalam keluarga sayuran ini terkandung senyawa makanan yang disebut Sulforafan.

Sumber : www.Maryati.net

Apel

Apel Vegetarian

Apel Vegetarian

Jika ingin membuat sari buah apel, buang terlebih dahulu biji-bijinya, karena biji itu mengandung sianida yang beracun. Hal ini berbeda dengan anggur, biji anggur sangat baik untuk dikonsumsi.

Sumber : www.Maryati.net

Tomat

Tomat vegetarian

Tomat vegetarian

Soma Yoga, Vegetarian & Citarasa

Soma Yoga

Soma Yoga

——-
w
,
a, t,B

?

 

Kenangan di Soma Yoga Vegetarian

 Soma Yoga        +

 Vegetarian     =

 Kenangan

Apakah aku mesti berdebat lagi dengan hatiku tentang makna hidup dan kehidupan atas jiwa-jiwa  makhluk-makhluk yang beterbangan, berenang, berjalan atau bahkan melata hanya untuk sekedar urutan : berdua, lidah,  kelezatan, perut, kenyang lalu berakhir di  septik tank?

Tidaklah penting lagi itu semua, yang kuingat tentang asal muasal itu adalah kesehatan, mimpi, jalan yang hampir putus, cinta yang hampir terenggut, ancaman dokter, langit yang akan runtuh, aku yang tadinya  semangat memilih dan menangkap awan-awan agar ada tempat buatmu dan buatku, berharap kita bisa sekedar merangkak, berjalan, berlompatan, berlari, syukur-syukur terbang bebas, lantas kemudian tersenyum pada semua makhluk hidup dan kehidupan sambil tangan kita terulur mencoba menabur kebaikan. TAPI ITU SEMUA SUDAH MUSNAH ! Tanganku kini tinggal sepenggal.

Mimpi, awan-awan, makanan sehat, tidaklah penting lagi itu semua. Yang kutahu aku duduk sendirian di sini memandangi menu warna-warni seolah mengunggu kau yang selalu lama memilih. Daftar itu hanya berubah menjadi urutan : sendiri, makan, lidah, tanpa kelezatan, perut kenyang dan berakhir di septik tank. Semoga itu tidak menjadi rutinitas untuk  esok hari. Meski terasa, aku tidak berani bilang membosankan. Karena mereka selalu lantang bilang ‘tidak mensyukuri. ‘ Bagaimanapun sedikit banyaknya aku sehat di sini daripada tidak sama sekali.

Itulah! Aku duduk dan makan lagi di sini,  mengambil kameraku seperti fotografer yang ingin terbang melalui bidikan kecil itu, berusaha mencuri  kebebasan burung-burung pipit yang riang tanpa bersalah mengambil bulir-bulir padi para petani. Aku sungguh benar ingin memerangkap kebebasan itu. Ketika berhasil, ianya terperangkap hanya di lembaran-lebaran diari dan kertas putih atau blog-blog dan website. Semua ini seperti kekosongan panjang. Maka aku ingin selembar langit itu, melayang bersamamu di sana, cuek dan  membiarkan  cita-cita yang masih menggelantung di antara bumi dan angkasa.

Aku tidak ingin berlama-lama lagi. Bagaimanapun, aku makan di sini tentulah lebih sehat meski sendirian bersama gelimang kesedihan, kerinduan dan rasa perih yang tidak hilang-hilang jua. Mungkin terasa bodoh kerap mencicipi menu vegetarian hanya karena perasaanku sayang dan rindu padamu, padahal aku tidak menginginkan sehat walafiat terlalu lama…

——————————————————————
(PIS 2306-2011) —–  Rumusan yang salah.
From : www.Maryati.net
—————————————————————–

Previous Older Entries

Top Rated