Senja, Kenangan dan Aku

line twilight

Senja, Kenangan dan AkuSeperti biasa, aku duduk menyendiri di tepi pantai Parangtritis sambil mendengarkan mp3. Istriku, ponakan-ponakannya dan anakku, gembira bermain dengan ombak yang sesekali menghampiri. Laut seolah-olah merayu, membisikkan sesuatu yang membuat mentari semakin merendah. Tak terasa senja perlahan turun di keningku, mentari meredup, merendah mengintip di balik awan keabu-abuan, berkaca di air laut pada sisi pantai di antara silhuet para manusia. Semakin ia merendah semakin menguningkan cakrawala, bagai lukisan pada bentangan kanvas yang rasanya ingin kutangkup dalam lima jemariku dan kusimpan dalam sakuku. Lukisan Tuhan yang maha indah itu menenggelamkanku dalam kenangan akan hari-hari panjang yang telah terlewati.

Dalam sekejap, kenangan datang bagai sekawanan burung-burung pipit yang beterbangan di persawahan batinku. Kini aku terjebak oleh situasi, aku tak lebih sebagai petani atau bahkan bagai orang-orangan sawah yang kelelahan menghalau semua itu. Saat-saat terlena seperti ini, nuraniku selalu membantu mengingatkan diriku akan hal yang patut. Tapi sekuat apa dia?! Apalagi saat ini senja lebih membawaku condong pada kenangan duka daripada suka, secondong mentari yang mulai tenggelam, parahnya aku justru menikmatinya, karena aku ingkar pada komitmenku yang kudapat dari suluhnya Gibran. Karena tak mampu, kubiarkan itu melarutkan butiran detik demi detik, MP3 yang sebagian besar berisi lagu-lagu syahdu, kubiarkan semakin membara membakar sebagian benakku. Entah kenapa aku tetap duduk di sini sendiri dan membiarkan sebagian dari diriku melayang ke ufuk sana. Entah kenapa aku tidak berbaur dengan hamparan kegembiraan di depan mataku. Harusnya aku menyadari aku telah melewatkan menit-menit kegembiraan yang hanya beberapa meter terbentang di hadapanku. Berapa kali peluang seperti itu akan ada? Padahal segala umur menuju titik yang sama : dan alur sehabis senja tentulah malam. Tak kusangkal lagi, aku memang terhanyut pada riak-riak antara kenangan kesedihan dan keindahan, dan begitulah biasanya. Sulit, tak patut, tapi ternikmati ke ruas jantung terdalam. Terlena, kubiarkan aku pasrah sekejap. Sering aku berdoa, agar sifat ini tidak terwariskan ke anakku.

Bagiku butuh waktu lama untuk menjadi seperti anak sungai yang terus mengalir. Meski aku telah menuai bulir-bulir usia dalam tangkup besar, tak jua kudapat wajah sang bijaksana. Sebagian besar diri manusia seperti aku akan tetap belajar bahwa helai demi helai hari, baik duka maupun suka, bila telah terlewati, seharusnya tak boleh lebih dari sekedar menjadi lembaran harian yang harus lebih banyak disimpan di laci yang ditaruh di gudang bawah tanah kehidupan. Seperti kata orang bahwa kenangan hanyalah sesuatu yang harus ditinggalkan jauh di belakang punggung kita, dia tidak boleh menjadi tas ransel yang dibawa ke mana-mana hanya untuk menjadi beban pundak dan jiwa kita.

Hingga detik ini aku masih belajar menjadi anak sungai yang meninggalkan keindahan rumput, pohon, bunga-bunga kecil, bukit hijau dan perdu yang merdu. Meninggalkan sakitnya batu-batu tajam, pecahan beling, lancipnya kayu dan sengatan duri-duri. Bahkan meski orang atau hewan mencuri sebagian dirinya, sebagai air minum atau pembilas kotoran, ia dan jiwanya tetap yakin dengan langkah teguh menuju satu tujuan. Seduka dan seceria apapun jalanan yang harus dilewati, dia tidak pernah menoleh ke belakang, apalagi kembali. Ia lebih banyak hening, ia akan bicara kelak ketika tiba masanya, menceritakan perjalanannya kepada mentari yang mulai tenggelam. Dan kita menikmatinya sebagai suara debur ombak. Suara yang menceritakan pengalaman perjalanan panjang.

Kusimpulkan tali hari dalam diriku,
bahwa kenangan kegembiraan/kesedihan ku terdahulu, saat ini, detik ini, seharusnya menjadi sepercik senyum yang menjadi lilin tidurku melewati malam menunggu cahaya esok pagi. Dan kalau mentari telah terbit, kusimpan saja lilinnya, untuk malam menyusul.
Aku tersadar, aku tak boleh membiarkan kenangan beterbangan, mengepakkan sayapnya dengan leluasa di kepalaku. Jadi seperti biasa kuambil kertas dan menulis, bahwa kenangan itu hanyalah burung-burung pipit, burung imut-imut yang lucu meski sedikit mengganggu. Mereka itu bisa ditangkap, kemudian dikerangkeng dengan pena pada kertas-kertas. Tak lama lagi ia akan diterbangkan dengan sayap barunya : “blog atau web” ke alam maya. Senyatanya, aku harus berteriak menghambur ke ombak yang berdebur, bersiram-siraman bersama keluargaku sebelum malam jatuh di keningku.

Hari ini jadilah blog ini, burung-burung pengganggu di sawahku kutangkap satu-persatu, lalu kuterbangkan ke jagad maya, tapi sebagian padi dalam diriku telah dicurinya.

PiS
From : www.Maryati.net

In English : Twilight, Memories and You

line twilight
Luka Lain :

line twilight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated