Soma Yoga, Belajar Menyapa Yang Bukan di Dunia Maya (1)

The Beginning

Warung Vegetarian Soma YogaSoma Yoga, 31/2 meter, cukuplah untuk sebuah jalan agar orang-orang yang bahkan membawa kendaraan roda empat bisa berkumpul dan berdiskusi di tempat ini.  Sebagian besar mereka berbicara tentang kesehatan dan makanan yang bukan berkaki.  Aku rasa sekelompok anak-anak muda ini adalah dari perkumpulan yang dulu sempat mengajakmu belajar memasak vegetarian di daerah Condong Catur. Ah, aku selalu lupa wajah teman-temanmu.

Sendiri, datanglah seorang gadis cantik berkaki panjang, tinggi, melenggangkan pelan tangan putihnya yang terawat halus, tubuh itu  membawa sepasang mata berbinar yang sangat indah. Meski menimbulkan sekilas misteri bagi yang melihatnya. Ia duduk dengan anggun bersama jemari lentiknya. Wajahnya halus, lembut sebagai sebuah kesempurnaan yang merupakan pahatan dan pulasan kuas dari sang Pencipta. Dua bukit yang indah sempurna tercipta menggunung tanpa menimbulkan pikiran tidak senonoh bahkan dari orang yang punya otak kotor sekalipun. Semuanya,  plus Jazz yang di parkirnya telah megundang seribu tanya tentang  sejumlah daftar biaya-biaya yang dibutuhkan agar mimpi seperti itu bisa di dapatkan oleh seorang ayah buat anak gadis kecilnya yang sangat dikasihinya yang tinggal jauh di pulau seberang. Ah… Olenka kecilku, aku meringis di dalam hati.

Padi & Burung Pipit di Soma YogaHamparan tanaman padi tentulah membantu membuka cakrawala kelezatan tentang berbagai makanan yang berbau hijau bagi orang yang duduk di sini. Tapi, lihatlah padi yang menunduk pasrah pada nasib yang bergantung ke burung-burung pipit yang lincah beterbangan. Meski angin membantu padi menghindarkan sergapan pipit, naluri laparnya selalu menang di atas kelelahannya mwski harus melawan kesabaran angin yang menyayangi bulir bernas berisi dari batang padi sang sahabatnya. Tak terhitung banyaknya batang padi yang harus merelakan sebagian buah kasihnya agar lingkaran kehidupan tetap mengalir sempurna dan sayap bisa tetap berkepak.

 Gadis yang diam seribu bahasa, sesekali dengan lemah, ia melirik majalah kesehatan yang kutaruh di meja. Lalu pandangannya lepas ke Utara. Isi ruang batinnya melayang lewat sepasang mata indah yang terbawa oleh sayap-sayap segerombolan pipit yang terbang tak beraturan. Dia sedang bukan di dunia maya, tapi tidak pula sedang di sini, dia ada di hamparan cakrawala, nun jauh di sana. Dan kalau kau jeli, maka di balik kesempurnaan yang dimilikinya, kaupun akan tahu bahwa ia sedang membutuhkan sebuah bahu untuk bisa sekedar menyandarkan keletihan jiwanya. Dan untukmu kekasihku, kau tahu aku manusia pemalu yang belum mampu melakukan hal-hal semacam itu, meski kuyakin kau takkan melarangnya dengan dalih kemanusiaan. Aku, kan baru belajar menyapa sayang? Dan aku ke sini masih hanya untuk ingin menyapamu. Tapi baiklah demi janjiku itu, akan kucoba.

 Tatapan kami berbenturan, sekejap sesudah ia memandang majalah itu. Darahku berdesir, dan jantungku berdetak hebat, jadi kuangkat majalah kesehatan itu agak tinggi sebagai simbol sebuah tanda tanya meski tak terucapkan. Itu semata hanyalah sebuah respons yang jauh di luar lingkar kesadaran. Matanya memaku pada judul besar di majalah itu.  Ia mengangguk, maka respons yang jauh di luar lingkar kesadaran itu kembali muncul, mendorongku memberanikan diri untuk beranjak membawa majalah yang menurutku beratnya hampir 10 kwintal itu padanya. Bukan aku, namun majalah itulah kelihatannya menyimpan sebuah pengharapan baginya. Sinar tepatnya.

Vegetarian Soma YogaTak ada tempat di meja di antara jus wortel, nasi organik, model daging ayam berbahan jamur dan roti bekatul atau roti jagung.  Aku heran dengan pesanannya yang cukup banyak itu. Jadi dengan hati-hati, majalah kuletakkan perlahan menimpa sebuah list laborat kedokteran. Sekilas di salah satu baris tertulis CAE 5,6 .  Dalam terhenyak, aku telah memahami tentang sebuah kebenaran di atas beribu dugaan. Memahami tentang wajah pucat dengan mata berbinar hanya karena desir kepak burung-burung pipit yang terbang bebas. Memahami pengorbanan padi dan pengorbananmu sebelum aku duduk di sini. Memahami lingkaran kehidupan antara dia, dokter, burung dan batang-batang padi yang merunduk.  Memahami makna sebuah maket dari sebuah situs. Dan memahami bahwa ini bukanlah dunia maya, inilah kenyataan tapi tak perlu ditangisi. Jadi aku mengakhiri pelajaranku tentang menyapa dengan hanya mengangguk-angguk kecil berulang kali ketika dia bilang terima kasih dengan senyum tulusnya yang teramat ramah dan menawan tapi sungguh perih menyesakkan dadaku.

PiS 2011
Sumber : www.maryati.net

line twilight

Goresan Lainnya :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated