Bulan (2)

Kau tahu kekasih hatiku, kenapa bulan malam ini lebih suka menyembunyikan ronanya ke balik lembaran awan dari pada bersikukuh menampilkan sisi keanggunannya?

 Kau selalu diam kekasihku,
jadi kutebak saja, mungkin karena ia tidak suka aku mencuri-curi pandang padanya sambil menaruh harapan pada lembar bentang gelap malam. Harapan bahwa aku di sini sendiri tanpamu tidaklah begitu menyakitkan. Dan dia merasa aku memandanginya hanya agar bisa menikmati cahayanya sebagai sekedar pengisi sebuah jeda mimpi sebelum lembaran hari esok mulai terbuka kembali ke alam nyata. Huh… kurasa dia merasa tersisih dan merasa  direndahkan.

Kau tahu kekasih hatiku, kenapa bulan malam ini lebih suka menyembunyikan ronanya ke balik lembaran awan dari pada bersikukuh menampilkan sisi keanggunannya?

 Karena kau masih saja diam kekasihku,
jadi kutebak saja sekali lagi, mungkin juga karena ia tidak suka aku mencuri-curi pandang padanya demi keinginanku yang terlalu berhasrat untuk menyalakan lilin-lilin masa lampau. Lilin-lilin yang selalu bersimbah tarian-tarian api kecil dari rasa rindu yang menggeliat-geliatkan cahaya kuningnya saat terpaan angin lembut datang menyapa. Angin itulah yang dulu selalu meluruhkan rambut ke keningmu, lalu membuat hatiku tersentuh untuk mengurainya dari alis matamu lalu mengatakan cinta walau hanya di dalam batin. Dan bulan itu tahu, aku memandanginya sendiri begini tak jauh dari makna mengelabui diriku sendiri, bahwa semua ini hanyalah tindakan sementara saat menunggu kau dari perjalanan senyapmu untuk kembali menemaniku berdiri di sini. Lalu seperti dulu-dulu, ketika kita telah bersama kembali, kita berdua akan melepas pandang jauh ke alam raya langit gulita sana sambil mempergunjingkan cahayanya yang bergelombang yang dipantulkannya ke kali kecil yang membelah tengah kota Jogja atau mempergunjingkan cahayanya yang bergelombang ketika terpantul di sebuah sungai hitam di Riau sana.

Kau tahu kekasihku, kenapa malam ini bulan lebih suka menyembunyikan ronanya ke balik awan ketimbang menyalakan semerbak binar cahaya indahnya ke dalam redup mataku  yang selalu kagum akan ketegaran teguh cahaya kesendirianannya?

Baiklah, karena kau masih saja membekukan diammu di ujung langit sana,
kucoba tebak untuk kali terakhir : mungkin karena ia merasa hina dianggap sebagai benda yang mengagumkan sementara kesepian lebih tegas mencengkramkan kuku-kuku tajam ke dalam jiwanya di banding ke dalam jiwaku.  Dia yang merasa begitu, sedang aku sebaliknya. Aku lebih yakin pada diriku tentang hal itu daripada redup cahayanya yang terselubung oleh awan kelabu di kubah langit kelam sana.

Hari ini aku tiba-tiba benci pada bulan itu…
Dia menghempas rinduku ke rumput biru dengan tiba-tiba dia menepis seluruh awan-awan kelabu yang menyaput dirinya sambil bersuara lantang menantang bola mataku : “Terbanglah padaku, kekasihmu sedang membentang rindu di dalam cahaya gemerlapku…!”

; Bumi benderang, tapi hatiku senyap!
(PiS, 01.05.12 “Melukis Langit Malam”)
Sumber : www.maryati.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated