Ziarah Pertama

Gambar

Kata-kata kehilangan suara
taburan bunga kehilangan warna
bulir air mata kehilangan cinta
semua resap ke tanah merah
menggapai jemari kasihmu yang jauh di sana

Dalam diammu, kau gemakan makna :
“Oleh cintaku, untailah terus langkah-langkah
mengarung gelombang liku jalan
dan ombak gelora samudera
sampai titik terakhir
menyekat nafas di rongga paru-parumu”

(PiS, 19.06.12 “Ziarah Pertama” Terimakasih Tuhan atas semua beban berat yang menyiksa karena dengan hanya begitu maka aku bisa mampu sampai ke makam ini)

Mimpi

03.45 AM
Jangan biarkan sebuah mimpi mengendalikan kapan kau terjatuh dan kapan kau bangun (PiS, 14.06.12 “Terjaga lagi”)

Di Segelas Kopi Buatanmu

Di segelas kopi buatanmu
ada cinta yang indah ;
pahitnya kehidupan
dan hitamnya derita
renyah terurai
oleh manisnya butiran kasihmu
semua larut
di segelas kopi buatanmu

Aku rindu,
untuk mengapung
di segelas kopi buatanmu

(PiS, 11 Juni 2012 “6.12 AM, Saat-saat Rindu” )

Biduk untuk Kita (For Divana Putri)

Biduk untuk Kita

Biduk untuk Kita

Lekatkan tatapmu  jauh
ke ujung sungai sebelum liku berakhir
Di setiap lekuk sungai
biarkan harapan bergayut
menjuntaikan jiwa pada niat suci

Genggamlah tanganku
di setiap goncangan biduk
mengokohkan tugu hatimu,
teguh mengarung badai

Bila kau tergemetar
karena api marah kayuhku
rebahlah dan menangislah di dadaku
ribuan sayang bergetar di dalamnya
karena di situ
kasih ibumu dan kasihku
selalu utuh menyimpan lembayung
hanya untukmu

(PiS, 07.06.12 “Kukayuh Biduk Untukmu” dari kumpulan “Tempat Berteduh #11))

Biduk dan Bahuku Untukmu

Puisi Untuk Divana

Catatan harian kami berdua untuk mengenangmu

Tak perlu bersedih,
kasih ibumu
utuh tersimpan di hatiku buatmu

Bila nanti kau di sisiku lagi
telah kutambatkan biduk
agar kita kembali bisa berlayar
mengarung liku sungai atau luas samudera

rebahlah dibahuku
maka ombak, desau angin
dan pasang laut
hanyalah nyanyian alam saja
yang dikirim ibumu
buat menghibur hatimu

(PiS, 05.06.2012 “A Song for Divana”)
Miss you bunga kecilku

Luka-luka Laut ku

setangkai puisi untuk Maryati : Luka-luka Lautku

(Revisi Dinihari tadi)

Satu-satu camar hilang
Meninggalkan laut menyimpan birunya
Suara kepak menyibak sayup
memapar lengang mengganti cahaya

Jauh di ufuk,
oranye kemerahan bersimpuh pada rasa rindu
Nun di dasar laut sana,
karang-cadas sembunyi2 menggurat hati
ada tanya gencar menusuk ubun-ubun
: “Ke mana rasa cinta itu berlabuh?“
”Dimana?!”

Ada geligi gemeretak
Menahan sayat mengalir ke jiwa
Ada mata terpejam,
membendung hujan menghujam pasir
Butir bening air itu akhirnya melipir asam
Menyentak pipi ke dalam gemetar
: abad-abad waktu terasa basi

Aku ke sini,
menghujat sisa senja
menanti lahirmu
megah di udara langit dan ufuk
ingin mengusap ombak gelombang rambutmu,
berkilau ke samudera hatiku
: Silhuetmu abadi di sini

Tapi di rongga jantung hingga seluruh nadiku
: laut luka ku
luka laut ku

(PiS 03.05.12 and 04/06/12 “Oranye di Bulan Juni”)

Suatu Tempat Selain di Benteng Vredeburg ini

Andai kau mau membisikkan suatu tempat, ke mana kakiku bisa menapakkan kenyataannya tanpa meninggalkan banyak jejak semu, tentu aku juga bisa menemukan sebuah pintu baru, di mana di dalam ruangnya tak ada lagi kenangan yang harus teringat-ingat.

Andai tempat itu ada, aku tak perlu lagi duduk di sini menimang sejuta kerinduan di antara ribuan cinta yang bertebaran di sini.  Kau lihat pasangan-pasangan itu mereka tak melepas detik ke lautan waktu dengan sia-sia. Mereka menguntai setiap detik ke dalam gema cinta yang seolah tak akan padam. Sementara aku di sini hanya mendulang bayang-bayang ke dalam rona malam.

Sungguh…, aku kehilangan dudukmu di batu ini, Mar…
AKu tak ingin berharap dengan memelas dan meretas hatiku, akan mendatangkan kasihmu dalam bentuk lain apapun. Penantian ini serasa abad-abad yang telah lama punah namun tak bisa lepas dari pelupuk mata yang akan terbuka abadi.

Hanya doa,
Berharap akan menjadi jembatan, meski aku berkubang dalam pengharapan hambar, jembatan di mana masa itu akan datang lalu menjadi tempat di mana aku perlahan meniti agar bisa menyeberang ke negeri di mana aku bisa duduk dengan kau ada di sebelah kiriku.

(PiS, 01.06.12 “Kenangan malam di Benteng Vredeburg”)

Top Rated