Kerinduan dan Kesunyian

Kulayarkan sepasang kesunyian dan kerinduanku ke negerimu,
bersama sayap-sayap mayaku,
nyatanya hanya suara hatiku yang terbawa
Sepasang itu tertinggal lalu mengoyak-ngoyak batinku

Silih berganti  musim menetas dari langit
tapi masih saja kurindukan musim hujan
karena hanya dengan dalam rinainya
kurasa kau selalu hadir dalam pelukanku
meski hanya berupa bait-bait sederhana
dan sejumlah kata yang keluar begitu saja
tapi bukankah aku  sudah bergelimang
bersusah payah,
memikul bongkahan keletihan,
kesunyian
kerinduanku
dan
telah basah kuyup di antara rinai itu
.

PiS 31 Mei 2011

KOMA (1) — Dinihari

Mereka berbisik, memandangiku
tatapan tanpa suara dengan sejuta kata,
tapi tahulah aku, tak susah mencari makna
bahwa akulah ranting patah di segara biru
kehilangan pohon, dahan dan akar
terhempas jauh di seberang negeri tak berpeta

Kemana aku harus berpegang?
Kepada Tuhan?
Ah…saat ini, jangan dulu nasehati aku tentang religi
sampai kalian memahami bisik doa sebatang pohon
untuk selembar daun kuning di tengah gemerisik ribuan pohon ketika Tuhan mengirimkan angin topan

Stetoskop dingin telah diletakkan,
si baju putih pergi
Semua harus istirahat
Tinggallah kita berdua
dan aku terlalu gemetar 10 meter darimu

Tak ada lagi kedip
Ribuan kata berhenti di ujung bibirmu
dan bola matamu, mereka terbuka lebar,
mencoba memercikkan 37 tahunmu

ke layar kehidupanku

Banyak yang tertahan di bening matamu,
mengkristalkan ribuan pelangi teruntai dengan kata
yang hanya kau dan Tuhan yang tahu,

kuyakin itulah doa terlama, terpanjang dan terkhusyuk
yang terpampang indah mengalir jauh dari sudut hatimu

Ada nada lembut yang  mengalir di angin semilir
itulah bisik-bisik halusmu di telingaku
meski sudah kupahami
masih berharap bukan untuk yang terakhir

Tapi aku merasa menjadi halusinasi
di negeri yang tak kukenal

Hatiku, jiwaku, perasaanku
berserakan di garis tipis

aku…!
antara

ada
dan
Tiada

PiS : “Lorong RS yg sunyi, 2 Februari 2011”
“PKU Muhammadiyah Yogyakarta”

.

In English : Coma (1)


Catatan Lainnya:

Para Sahabat

Gedung DPR

Gedung DPR

Satu persatu para sahabat
dengan cepat menghadap pada-Nya
Lebih cepat dari daun kuning yang berguguran
pada kemarau yang masih muda.

Angin sepoi membisikkannya padaku
Mereka bersahaja,

ketika melepas kemilau nafas terakhirnya
menghayati, mensyukuri sakit
dengan hati suci yang tulus ikhlas

sama sepertimu
mata mereka terbuka lebar
melepas mentari terbit
dan
mentari terbenam
dalam bola mata itu
terurai silhuet jemari Ilahi
yang kokoh tapi lembut
menyambut di Sana
Tempat istimewa telah tersedia


Tempat yang bukan untuk kami
jauh dari langkah kami

yang menyimpan banyak topeng diantara gemerlap kota,
suara hingar-bingar, gedung-gedung angkuh
acuhnya lampu temaram kota
dan tiang-tiang raksasa yang dingin
membekukan setiap nurani…

(Tentang Para sahabat dan Gedung DPR, Mei 2011)

In English : Best friends

Pernak-pernik Lainnya :

 

.

Olenka, Si Matahari Pagi
Olenka, Si Matahari Senja
Olenka, Untuk Tiga Tahun
Senja, Kenangan Dan Aku


Puisi Lainnya :

Mentari Pagi 8

Mentari Pagi 8

Ya, mereka akan selalu tertawa
dan mengoceh seolah ini lelucon usang

tapi apa mesti aku perduli

Sedang seribu kata menghujani benakku

Akan kulepas  itu bagai rinai gerimis pagi

di semua tempat yang bisa kutemukan
di mana aku bisa melepaskannya sepuas hatiku
mereka tak terhingga jumlahnya
tentangmu,  kebaikanmu

Di sini ada mentari

tempat satu-satunya aku mengadu
sebab kutahu sejak 1997
di situlah kita meletakkan jejak
agar satu dari kita bila kehilangan kelak
ada tempat
melepas air mata panjang
dan
kerinduan tak tertahan
 
 

In English : The Morning sun (8)
(2011)

Mentari Pagi 7

Mentari Pagi 7

Mentari Pagi 7

Di angin-angin yang berhembus terasa betul
cintamu bertaburan
aku mengumpulkannya kata perkata

Di sinar mentari pagi yang menerobos dedaunan
terasa betul cintamu berkilauan
aku mengumpulkannya titik demi titik

Mentari menari
di antara angin dan kicau yang semakin sunyi
kata-kata terpukau merindukan hadirmu
tak mampu mengungkap makna titik kemilaumu
ianya tersurat hanya sekedar tersurat
tak ada artinya
hanya sekedar melewati garis waktu demi waktu
yang terasa kian hari kian panjang dan tajam…

(2011)

Mentari Pagi 6


Kutulis buatmu dari jiwa yang terbuka,
mengungkap kata tak terucap,
menyingkap nada tak tersuarakan,
menggambarkan ke indahan jiwamu yang telah bertahun-tahun
tercuil olehku.
Dalam ada dan ketiadaan,
dalam suka dan duka,
dalam tangis dan tawa,
dalam hening dan galau,
dalam kebencian atau cinta yang tak terbendung
kaulah mentari pagiku

Kutuliskan semua dalam diari batinku sebelum air jiwa menggenang ke mana-mana
Kusadari ternyata cuma ini yang kubisa. Maafkan aku…

(editan puisi lama dari blog lainnya)

Mentari Pagi 5

Mentari Pagi 5

Mentari Pagi 5

Sinar yang ramah itu adalah kau
menyapaku dengan hormat dan bersahaja
menemaniku pada langkah-langkah pendekku
agar aku tidak merasa sendirian

Sinar yang ceria itu adalah kau
berlompatan dari dahan kedahan

menelusup di antara dedaunan hijau
menemani detik-detikku
yang penuh dengan kerinduan

Sinar yang sayu itu adalah kau
meneduhkan hatiku dari kegalauan
menghampiriku  berangkat meniti waktu
yang terasa lamban mengalir dari hari ke hari

Sinar yang kucari itu adalah kau
berpendar di antara ranting

embun memantulkannya dengan lembut
tapi tajam menelusup ke dalam jiwaku

Sinar yang hangat itu adalah kau
membasuh hatiku yang beku oleh kesepian yang dingin
aku menyanyikanmu di jalanan hari ini
agar aku lupa bahwa tadi malam
aku hanya bermimpi bertemu denganmu

In English : The Morning Sun (5)

Mentari Pagi 4

Mentari Pagi 4

Mentari Pagi 4

Sayap-sayap burung pagi
mengepakkan angin semilir ke rambutku
ada kata-kata terbersit di situ
mungkinkah itu bisikmu?
apakah kau ingin mengatakan sesuatu tentang arah?

Jalanan lurus panjang, dingin dan kaku,
itu yang mesti kulalui
Kurasa jalan ini berujung di sana
di mata sayu di kaki langit

(Mei 2011)

Mentari Pagi 3

Mentari Pagi 3

Mentari Pagi 3

More

Setangkai Kembang Merah dan Sebuah Persahabatan (1)

Mentari Pagi 2

Mentari Pagi 2

Pagi ini kukemas kembang dari Jazuli
vas kecil sudah pilihan optimal

meski risih, kurasa kau tak akan menolak
“demi sebuah persahabatan”

Jadi aku berangkat berbungkus gundah
tas ransel hijau terasa berat
oleh buku Corel Draw 4, buku catatan harian
setangkai kembang merah dan sebuah vas mini

Berat? Mungkin vas kecil itu

Gelisah menguntitku di antara laju-laju kendaraan kota
mobil dan tiang listrik cengengesan
menyaksikan kelinglungan tak berkesudahan
kembang merah dan aroma
bagai hantu dalam detik-detik jalanku
Kudapati diriku bolak-balik
datang dan pergi
mengurai keringatku dalam impian

Di kamarku…,
Saat matahari mulai tenggelam
,
kudengar kembang merah itu bercerita
pada komputerku
ia
mengutuki diriku yang pengecut

Hari ulang tahun itu berlalulah sudah
alangkah bodoh menunggu setahun lagi
hanya untuk memberikan sebuah vas
dan setangkai kembang merah

….
….
….

(Grahadya 1996, judul awal “Jalan Jazuli (4)” , bolak-balik diedit tak berkesudahan) “disket kuno”

Mentari Pagi 1

Mentari Pagi 1

Mentari Pagi 1

Sinar mentari pagi jatuh di titik embun pertama
diikuti sinar berikutnya pada titik embun berikutnya
kukumpulkan semua di atas daun
tempat aku biasa melukis sepenggal kata cinta
pohon tulusku semakin rindang
hijau akan kerinduan tanpa terungkap
padamu,
padamu,
dan

hanya padamu

Hari berlalu beribu kata terangkum
tadi malam, kata terindahku lahir

saat aku mengembara dalam mimpi
selalu
buatmu
,
buatmu
dan

hanya buatmu

Pagi ini mentari berdendang
bersiul pada angin
tentang kata tak sampai

menyindirku,
menyindirku,
menyindirku!

Tuhanku, kenapa aku pengecut begini…?!

(Gondolayu 1996, judul awal “mimpi dan mimpi”)

Morphine

Obat, Morfin mst, durogesic, tramadol-tragesic

Obat Morfin durogesic mst

Tadinya kukira cintaku mampu menjadi payung
melindungimu dari hujan keresehan dan ketakutanmu
Tadinya kukira genggaman kokohku menjadi pancang
 sebelum kau hanyut di rimba jerit kesakitan dan air mata
Tadinya kukira nadaku mampu mengusap rona hitam
di langit-langit kamar kita
sebelum hati kita repih kehabisan syair doa

Rasa sakit, telah menguras air matamu
lebih dari apa yang pernah kuduga dan pernah kutahu
bahkan suntikan obat-obat itu
yang telah meluluh lantakkan karang hatiku
tak jua mampu menjadi dam
bagi luapan gelombang perihmu

Tadinya kukira kita hanya butuh doa-doa

Ah.. aku harus belajar menerima ini semua,
seperti bumi menerima hujan bagaimanapun derasnya …

(PiS, Mei 2011)

Morfin

Obat Morfin durogesic mst
Obat Morfin durogesic mst

Jenis obat-obatan yang dipakai antara lain :
Morfin (Morhine Sulphate B.P) biasa disingkat MST Continus
Tramadol HCL (Injection iv/im) – Tragesic
Xanax
Durogesic Fentanyl
Ocean Power (Prevent-C)
Black Seed Oil

tUa

Tua bersama angin

Tua bersama angin

Harusnya aku tua bersamamu
Tak terbayangkan aku menua
hanya bersama angin,
gitar,
lagu,
artikel-artikel,
puisi-pusiku
dan
Sepotong bulan

(Mei 2011)

Xenia, melepas 4000 Km tanpamu

.
line twilight

Pohon-pohon berlarian di kaca jendela, sekumpulan titik-titik air yang jatuh dari langit itu bergelayutan di spion dan badan mobil,  mereka tersaput angin kencang, lalu terkapar melebur ke aspal keras. Titik air yang jatuh di kaca depan tersaput swiper, menjerit terhempas ke belakang menerpa deaunan kuning yang berserakan di jalan. Kurasa mereka akan bersahabat dan saling mengisi duka keterhempasannya.

Gerimis siang ini menyerang mengetuk-ngetuk atap dan kaca mobil, mencoba menjarumi ruang hampa kepalaku bertubi-tubi. Menusuk tajam, seraya bertanya, “Heh…! Kemana kau hendak pergi?!”

Lihatlah! Markah demi markah jalan telah terlewati, satu markah kulewati, markah lain menghardik agar aku cepat melewatinya. Tapi buat apa menghiraukan si putih itu? Toh tak ada pucuk jalan yang kutuju, tak ada jua titik tempat aku mengistirahatkan hatiku yang rapuh. Semua ini hanya kuanggap sebagai koridor yang harus kulewati untuk menuju koridor lain hingga ke tempatmu kelak.

Xenia, lebih 4000 km kau tak duduk di sebelah kiriku. Entah ke mana saja kilometer-kilometer itu bertebaran. Kau pasti mengerti pikiranku, tentang bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan ribuan kilometer-kilometer itu pada budi baik kakakmu itu. Yang meski kutahan tapi akan bertambah berlipat-lipat hingga aku menyesalinya kelak.

Kalau kau di sini, tentu kilometer itu tidak harus sebegitu besar. Jikapun sepanjang itu atau bahkan lebih, kau pasti punya alasan kuat untuk melepaskanku dari beban pikiran bahwa aku telah keterlaluan pada kuda besi, pada jalanan yang kugilas, pada markah-markah jalan yang menghitam, pada pohon-pohon yang tak kuhiraukan, pada air mataku yang sudah tak bernilai, pada pergiku yang tanpa makna dan pada budi yang takkan terbayar yang telah dilimpahkannya padaku.

Xenia, kulepaskan 4000 kilometer lebih, tanpamu duduk di sisiku.
Kulepaskan 4000 kilometer hampa ke awan awan,
sebagiannya dirangkul  rinai hujan yang tak henti menyaingi tangisku,
kulepasakan 4000 km lebih atas nama rasa rindu,
atas rasa kehilangan,
atas rasa cinta yang terpenggal
atas penyesalan mendalam yang tak kumengerti
dan atas budi yang takkan mampu kubayar….

Catatan Mei 2011 yang hilang.
sumber : www.maryati.net

Previous Older Entries

Top Rated